Hari Pertama Sekolah, SMP Swasta di Daerah Ini Hanya Dihuni 2 Siswa Baru

Hanya ada satu pegawai berkaus oblong di halaman sekolah tiga tingkat itu.

Hari Pertama Sekolah, SMP Swasta di Daerah Ini Hanya Dihuni 2 Siswa Baru
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
ILUSTRASI - Calon siswa mengisi daftar pengambilan surat keterangan bebas bebas narkoba usai tes urine di Kantor BNN Kota Balikpapan, Kamis (11/7/2019). Sejumlah calon siswa SMP dan SMA melaksanakan tes urine untuk mendapatkan surat keterangan bebas narkoba sebagai salah satu syarat yang diserahkan pada proses daftar ulang di sekolah. 

Tahun lalu, jumlah siswa yang mendaftar di sekolah juga tidak banyak. Jumlahnya masih satu digit, yaitu lima siswa saja.

Dia pun menjelaskan soal entakan mars sekolah yang berasal dari dalam kelas. "MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) buat siswa baru saya gabungin (dengan kakak kelas). Biar ramai," kata dia.

SMP swasta di Perumnas 1 Kayuringin, Bekasi berusaha bertahan dengan jumlah siswa baru yang hanya 1 digit pada tahun ajaran 2019/2020.(Vitorio Mantalean) Orangtua mantap daftarkan anaknya MG, salah satu siswa baru SMP swasta tersebut, tak tampak risih dengan keadaan sekolahnya.

Dia tampak senang di hari pertamanya mengenakan celana biru tua. Selanjutnya, dia mulai berbaur menikmati jam istirahat dengan beberapa kakak kelasnya yang baru saja ia kenal saat menyanyikan mars sekolah di dalam kelas pagi tadi.

Wakil Kepala SMP ini mengatakan minat orangtua sebenarnya cukup tinggi saat mendaftarkan anaknya ke sekolah ini.

"Tanya informasi banyak ke sini. Intinya ya calon siswa masih menunggu PPDB, tapi PPDB kan enggak selesai-selesai," kata dia, merujuk dua kali tahapan PPDB Kota Bekasi yang digelar masing-masing sepekan selama awal Juli.

Dari sekian peminat, faktanya, hanya ada dua orangtua yang sedari awal sudah mantap menyekolahkan putranya di sini.

"Dari awal mereka sudah daftar di sini, (saya tanya) 'Enggak ke SMP negeri?'. 'Di sini saja'. Langsung bayar," kata wakil kasek. Kakek MG merupakan salah satu orangtua yang mantap itu.

Sebagai warga lokal yang juga tinggal di sekitar sekolah, ia mengaku mantap menyekolahkan cucunya di SMP swasta ini karena mengenal reputasinya. "Dari tetangga juga tahunya bagus ini sekolahnya. Masyarakat bilang bagus, aman.

Dia kan anaknya ada kelebihan, menurut saya aman," kata WH, kakek MG, saat menanti cucunya pulang. WH pun mengaku tak ambil pusing dengan sedikitnya jumlah teman MG di sini. Malah, baginya, hal tersebut jadi salah satu bonus. "Enggak masalah. Kalau disekolahin di tempat yang ramai terus diapa-apain sama teman-teman bagaimana?" kata dia.

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved