Tekan Potensi Pencurian Telur Penyu, BKSDA Kaltim Gandeng Polri, TNI, dan LSM

Tidak jarang pula, masyarakat menemukan penyu yang mati dalam keadaan terluka.

Tekan Potensi Pencurian Telur Penyu, BKSDA Kaltim Gandeng Polri, TNI, dan LSM
TRIBUN KALTIM / GEAFRY NECOLSEN
Pelepasan tukik atau anak penyu yang baru menetas di Pulau Sangalaki. Penyu dan telurnya kerap diperjual-belikan, karena banyaknya permintaan. Telur penyu biasanya dikonsumsi langsung, sementara karapas penyu biasanya digunakan sebagai aksesoris atau pajangan. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau menjadi salah satu pusat konservasi penyu.

Setidaknya ada lima pulau utama yang dijadikan tempat konservasi, di antaranya Pulau Sangalaki, Mataha, Blambangan, Semama, dan Bilangbilangan.

Meski demikian, aksi pencuriah telur penyu masih marak.

Tidak jarang pula, masyarakat menemukan penyu yang mati dalam keadaan terluka.

Situasi ini dikhawatirkan dapat mengancam populasi penyu.

Untuk itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, berupaya meningkatkan pengawasan di ketiga pulau yang paling banyak disinggahi penyu untuk bertelur.

Untuk menekan potensi pencurian telur penyu ini, BKSDA Kalimantan Timur bekerja sama dengan aparat kepolisian dan TNI serta sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

“Cara ini bisa mengurangi jumlah pencurian telur penyu. Terutama di pulau-pulau yang didatangi penyu untuk bertelur,” kata Kepala Seksi Konservasi, BKSDA Wilayah I, Kalimantan Timur, Dheny Mardiono.

Tidak diketahui secara pasti populasi penyu.

Namun jika melihat data, jumlah penyu yang singgah ke sejumlah pulau di Kabupaten Berau mengalami penurunan.

Halaman
1234
Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved