BPOM Tegaskan Tak Akan Rilis Nama 197 Apotek yang Menerima Obat Palsu, Begini Alasannya

Supaya tidak terjebak, BPOM menyarankan memperhatikan detail produk dan mengecek kemasan, label, nomor izin edar, dan tanggal kadaluwarsa

BPOM Tegaskan Tak Akan Rilis Nama 197 Apotek yang Menerima Obat Palsu, Begini Alasannya
Hellodoctor
Ilustrasi obat 

TRIBUNKALTIM.CO - Peredaran obat di Indonesia yang tidak sesuai dengan ketentuan kembali menjadi sorotan.

Perdagangan obat di Indonesia memang menjadi bisnis yang menggiurkan karena jumlah penduduk yang besar.

Sayangnya peluang ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang hanya memikirkan untung.

Meski beberapa pelaku digerebek hingga dapat hukuman oleh pihak berwenang, nyatanya bisnis ilegal ini masih marak.

Terbukti, kasus obat palsu kembali muncul seperti yang dilakukan Pedagang Besar Farmasi (PBG) PT Jaya Karunia Investindo (JKI) menggunakan modus operasi repackaging.

Pemilik PBF yang juga produsen obat palsu melakukan pengemasan ulang produk obat generik dan kedaluwarsa.

"Produk yang dipalsukan kebanyakan untuk pengobatan jangka panjang yang perlu waktu bertahun-tahun."

"Misal obat untuk penyakit diabetes dan yang mengalami masalah kardiovaskuler," kata Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Rita Endang pada detikHealth, Rabu (24/7/2019).

Dalam rilisnya, BPOM mengatakan pelaku menggunakan obat generik yang seharusnya bisa diperoleh dengan harga terjangkau.

Obat dikemas ulang menjadi obat dengan merk yang harganya lebih tinggi dengan kualitas setara generik.

Halaman
1234
Editor: Doan Pardede
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved