Desa Muara Enggelam Akan Dijadikan Kampung Warna Warni

Sebanyak 20 pemuda Karang Taruna Desa Muara Enggelam dan sejumlah mahasiswa yang sedang KKN mengecat pagar dengan aneka warna.

Desa Muara Enggelam Akan Dijadikan Kampung Warna Warni
TribunKaltim.CO/Rahmat Taufik
Sekitar 20 pemuda karang taruna Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kukar, mengecat pagar pemecah gelombang yang jadi ikon desa. Mereka memanjat pagar setinggi 10 meter di muara sungai tanpa tali pengaman_HO Kades Muara Enggelam 

TRIBUNKALTIM. CO, TENGGARONG - Pagar atau tanggul kayu setinggi 10 meter dan membentang sepanjang 100 meter menjadi gerbang masuk menuju kampung terapung Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pagar kayu ini berfungsi sebagai pemecah gelombang.

Sejak, Rabu (24/7/2019) kemarin, ikon desa ini dipercantik. Sebanyak 20 pemuda Karang Taruna Desa Muara Enggelam dan sejumlah mahasiswa yang sedang KKN mengecat pagar dengan aneka warna.

Mereka memanjat pagar kayu itu tanpa peralatan keselamatan, setelah beberapa perahu ces merapat di dekat pemecah gelombang itu.

"Mereka memanjat nggak pakai tali, pemuda di sini sudah biasa seperti itu," kata Juhar, Kades Muara Enggelam, Kamis (25/7/2019). Sesuai rencana, desa ini mau dijadikan desa wisata kampung terapung warna-warni. Pengecatan mulai dilakukan dari arah muara sungai, yakni pagar pemecah gelombang.

Pihak desa mengalokasikan anggaran sekitar Rp 12 juta. "Anggarannya diambil dari keuntungan BUMDes kami. Dana ini dipakai untuk beli 80 kaleng cat isi satu kilogram, transportasi dan konsumsi," tuturnya.

Catnya dikerek pakai tali dan dikaitkan di sela papan kayu dari pagar itu. Juhar mengatakan puluhan pemuda ini bekerja tanpa diupah.

Mereka mengecat pagar mulai pukul 10.00 hingga 17.30. Ia mengatakan, pagar ini dibangun oleh Dinas Perhubungan sekitar 2011 yang berfungsi untuk memperkecil gelombang yang masuk ke kampung terapung itu. Sehingga masyarakat yang tinggal di rumah rakit menjadi aman.

Sebelum dibangun pagar, angin kencang kerap bertiup dari arah timur menciptakan gelombang yang membuat rumah rakit warga bergoyang.

"Kalau gelombangnya besar, itu bisa bikin rumah rakit warga tenggelam. Maka itu kami bangun pagar pemecah gelombang ini," tuturnya.

Pagar ini memiliki celah 8 meter di tengah-tengahnya untuk akses keluar-masuk perahu ces warga. Desa dengan luas wilayah 10.684,01 ha ini dihuni 175 kepala keluarga atau 750 jiwa.

Halaman
12
Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved