Jual Bendera Bentuk Patriotisme Suwarna Untuk Negeri, Tahun Lalu Raup Untung Rp 20 Juta

Tahun ini dia membawa 250 kodi pernak-pernik 17 Agustusan. Dia membaginya dalam satu rombongan yang terdiri 4 orang.

Jual Bendera Bentuk Patriotisme Suwarna Untuk Negeri, Tahun Lalu Raup Untung Rp 20 Juta
TribunKaltim.CO/Rahmat Taufiq
Sumarna, warga asal Garut, Jawa Barat, mengadu nasib berjualan bendera di Tenggarong sejak 2005 silam. Ia menjual umbul-umbul, bendera dan bekron mulai harga Rp 25 ribu-Rp 400 ribu. Tahun lalu dia mendapatkan untung Rp 20 juta dari berjualan bendera 

TRIBUNKALTIM. CO, TENGGARONG - Sumarna, warga Garut, Jawa Barat,  baru tiba di Tenggarong pekan lalu. Dia mengadu nasib di kota kecil ini dengan berjualan pernak-pernik 17 Agustus, seperti bendera merah putih, umbul-umbul dan bekron.

Ia memboyong anak dan menantunya berjualan bendera. Mereka menempati deretan Jl S Parman, pinggir sungai.

Tempat berjualan mereka tampak teduh karena berada di bawah pohon akasia yang daunnya rindang. Pria ini berjualan bendera di Tenggarong sejak 2005 silam. Baginya, berjualan bendera merupakan bentuk patriotisme untuk negeri ini.

Sebelum ke Tenggarong, dia singgah ke Banjarmasin, Kalsel. Dia menitipkan sebagian dagangannya kepada pedagang di sana. Lalu dia naik bus menuju ke Tenggarong.

Tahun ini dia membawa 250 kodi pernak-pernik 17 Agustusan. Dia membaginya dalam satu rombongan yang terdiri 4 orang. Ia sendiri mendapat bagian 75 kodi.

Sumarna menjahit sendiri bendera merah putih yang dijual, kecuali bekron yang membutuhkan keahlian khusus sehingga harus pesan ke orang lain.

Dia menjual bendera merah-putih dari berbagai ukuran mulai Rp 25-100 ribu, umbul-umbul Rp 30-50 ribu, bekron 250-400 ribu, bahkan ada bendera mini yang bisa dipasang di kaca depan mobil dengan harga Rp 10 ribu,

Pelanggannya selama ini didominasi dari kantor dinas pemerintah hingga perusahaan batu bara di Kukar. “Sekali beli orang kantor dinas dan perusahaan ini bisa menghabiskan dana mulai Rp 500 ribu-Rp 2 juta,” tuturnya.

Bahkan beberapa pedagang di Tenggarong hingga Kota Bangun memesan pernak-pernik 17 Agustusan kepadanya. Selama di Tenggarong, Sumarna tinggal di rumah kost dengan uang sewa Rp 300 ribu/bulan.

Dia tinggal di Kampung Melayu, Jalan Maduningrat. Tiap hari dia mengayuh sepeda yang dipinjam dari temannya sambil membawa sekarung bendera ke tempatnya berjualan. Beberapa bekron dan umbul-umbul diikat di sekitar pohon.

Halaman
12
Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved