8 Penjual BBM Pertamini tak Berizin di Tarakan Diamankan, Alasannya Ilegal dan Rawan Kebakaran

Polres Tarakan akhirnya melakukan penertiban Pertamini yang menjual berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM), seperti Premium, Pertalite dan Pertamax

8 Penjual BBM Pertamini tak Berizin di Tarakan Diamankan, Alasannya Ilegal dan Rawan Kebakaran
Tribun Kaltim
Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyawan memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan dengan mengamankan Pertamini pakai roda yang menggunakan dispenser atau pompa bensin, Rabu (31/7/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Polres Tarakan akhirnya melakukan penertiban Pertamini yang menjual berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM), seperti Premium, Pertalite dan Pertamax yang tersebar di sejumlah lokasi di Kota Tarakan.

Sedikitnya ada 20 Pertamini tersebar di wilayah Kota Tarakan. Dari jumlah tersebut, delapan dispensper atau pompa bensin yang diamankan dari para pemilik Pertamini.

Sedangkan sisanya sebanyak 12 Pertamini, hanya ditandai police line dan pemilik Pertamini dilarang melakukan aktivitas jual beli BBM.

Pertamini yang diberikan police line atau garis polisi, dikarenakan dispenser atau pompa BBM- nya dicor dan disemen, sehingga sangat menyulitkan petugas mengangkutnya.

Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyawan mengungkapkan, pihaknya melakukan penertiban, setelah adanya perisiwa kebakaran Pertamini yang terjadi di daerah Sebengkok, Sabtu (27/7) lalu. Sebagian masyarakat khawatir dengan keberadaan Pertamini di wilayahnya, karena khawatir terjadi kebakaran seperti yang ada di daerah Sebengkok.

Seorang penjual bensin eceran mengisi tangki bensin motor di jalan Batu Sari, Kota Denpasar. Senin (13/4/2015)
Seorang penjual bensin eceran mengisi tangki bensin motor di jalan Batu Sari, Kota Denpasar. Senin (13/4/2015) (Tribun Bali/Tribun Bali/Rizal Fanany)

"Saat kita melakukan penyelidikan, ternyata keberadaan Pertamini ini tidak memiliki izin usaha maupun izin lokasi baik dari Pertamina dan pemerintah daerah. Dengan tidak ada perizinan berarti keberadaan Pertamini ini illegal," ucapnya, Rabu (31/7).

Yudhistira mengatakan, keberadan Pertamini melanggar pasal 53 huruf c dan d, Junto pasal 23 ayat 2 Undang Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas. Ancaman hukumannya selama tiga tahun dan denda Rp 50 miliar.

"Karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun, pemilik Pertamini tidak kami lakukan penahan. Mereka hanya kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut dimintai keterangan dan tidak lagi melakukan pengisian BBM di Pertamini," ujarnya.

Menurut Yudhistira, untuk mendirikan sebuah SPBU mini atau Pertamini haruslah ada izin dari Pertamina dan pemerinta daerah.

Keberadaan SPBU mini tidak boleh dekat dengan rumah warga dan wajib memiliki alat pengamanan pemadam kebakaran.

Halaman
12
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved