Pinjaman Online dan Bahaya Hyperpersonal

Pinjaman online merupakan salah satu fitur pada financial technology (fintech) menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat

Pinjaman Online dan Bahaya Hyperpersonal
HO
DR. Pitoyo. MKom, Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia 

Oleh : Dr. Pitoyo, M.IKom
Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antarmanusia

TRIBUNKALTIM.CO - Pinjaman online merupakan salah satu fitur pada financial technology (fintech) menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat yang aktif berinteraksi melalui internet.

Kesan pertama, pinjaman ini menawarkan kemudahan dalam pencairan dana dengan proses cepat dan tentunya dijamin kerahasiaan, artinya konsumen tanpa beranjak dari tempat duduknya pun uang pinjaman dapat cair.

Era digital memang menawarkan berbagai kemudahan, semua keperluan informasi dapat diakses secara real time. Informasi tentang pinjaman melalui fintech jumlahnya makin banyak.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 31 Mei 2019, perusahaan Fintech yang memiliki izin legal sebanyak 113 perusahaan.

Fintech tidak dapat dipisahkan dari penetrasi internet dan smartphone di dunia maya karena membuat konektivitas menjadi lebih mudah, baik antara bisnis kepada perorangan (BusinesstoPeer/ BtoP).

Perorangan kepada perorangan (PeertoPeer/PtoP), dan pemerintah (Government) kepada perorangan (Government toPeer/GtoP). Kemudhan yang ditawarkan fintech ini menggiurkan banyak konsumen.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta membuka pos pengaduan untuk para korban pinjaman online
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta membuka pos pengaduan untuk para korban pinjaman online (TRIBUNNEWS.COM/VINCENTIUS)

Fintech justru berpotensi menggangu kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan dan stabilitas perekonomian.

Pengguna Fintech perlu memperoleh perlindungan konsumen yang memadai, seperti penyediaan informasi yang lengkap tentang karakterisktik dari produk dan layanan yang digunakannya, manfaat, risiko, biaya, dan keamanan datanya.

Secara umum, risiko yang mungkin muncul dari perusahaan Fintech di Indonesia adalah; Risiko penipuan (fraud), Risiko keamanan data (cybersecurity), Risiko ketidakpastian pasar (Market Risk).

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved