Klinik Pengobatan Umum Diduga Jadi Lokasi Aborsi, Polisi Temukan Obat Mules dan Gumpalan Darah

Tempat praktek aborsi di sebuah klinik di Tambun, Kabupaten Bekasi berhasil dibongkar Unit Reskrim Polsek Tambun.

TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
ILUSTRASI - TS (21) mahasiswi semester VIII salah satu perguruan tinggi negeri dijadikan tersangka kasus aborsi, Rabu (28/3/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, BEKASI - Tempat praktek aborsi di sebuah klinik di Tambun, Kabupaten Bekasi berhasil dibongkar Unit Reskrim Polsek Tambun.

Klinik tersebut bernama Aditama Medika II berlokasi di Jalan pendidikan, Kampung Siluman, Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Dilansir dari Wartakotalive, Kapolsek Tambun, Kompol Rahmad Sujatmiko mengatakan pembongkaran tempat praktek aborsi itu atas informasi dari masyarakat.

Klinik itu dicurigai menjadi tempat praktek aborsi.

Terdapat empat orang tersangka yang ditangkap dalam kasus praktek aborsi tersebut.

Empat tersangka itu, bernama Alfian sebagai pemilik klinik, Wawan Setiawan dan Maresa Puspa Ningrung sebagai petugas medis serta Helmi Merisah pelaku aborsi.

"Saat pengungkapkan si ibu atau pelaku aborsi masih di lokasi sedang tahap pemulihan. Di lokasi juga ditemukan janin hasil aborsi," ujar Sujatmiko saat ungkap kasus di Mapolsek Tambun, Minggu (11/8/2019) sore.

Sujatmiko menuturkan berdasarkan pengakuan pemilik klinik, praktek aborsi baru dilakukan pertama kali. Akan tetapi pihaknya masih mendalami lebih lanjut.

"Kita masih dalam, praktek aborsi yang telah dilakukan tersangka ini. Termasuk izin klinik ini kita sedang dalami ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi," jelas dia.

Untuk usia janin yang diaborsi sekitar enam minggu.

"Pelaku lakukan aborsi janinnya karena malu hasil hubungan gelap atau terlarang," ungkap Sujatmiko.

Saat proses penggeledahan, ditemukan gumpalan darah yang diduga jaringan janin milik pelaku aborsi.

Kemudian alat USG, lampu USG, tiang infus, infus set, gunting, obat mules, satu dus obat bius, satu alat monitor detak jantung, satu buah alat oksigen, dan dua dus sarung tangan karet.

"Jadi kamuflase klinik ini dijadikan tempat pengobatan penyakit umum," ucap dia.

Atas tindakannya, para tersangka diduga kuat melanggar tindak pidana di bidang kesehatan dan atau tindak pidana kesehatan dan atau tindak pidana aborsi.

Yakni Pasal 83 Junto 64 Pasal UU RI No. 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan dan atau Pasal 194 Jo pasal 75 ayat (2) UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan atau pasal 348 KUHP dan atau Pasal 354 KUHP.

"Masing-masing tersangka dijerat dengan pasal yang berbeda, untuk pelaku aborsi diancam hukuman penjara 10 tahun, pemilik klinik dan tenaga medis diancam 5 tahun penjara," paparnya.

ILUSTRASI - Kepala Polres Sidoarjo AKBP M Iqbal saat menggelar jumpa pers soal terungkapnya kasus aborsi, kemarin (Kamis, 3/2/2011).
ILUSTRASI - Kepala Polres Sidoarjo AKBP M Iqbal saat menggelar jumpa pers soal terungkapnya kasus aborsi, kemarin (Kamis, 3/2/2011). (Dokumentasi Harian Surya)

Tips dari Psikolog Balikpapan

Psikolog sekaligus Dosen di Poltek Balikpapan Patria Rahamwaty Psi MMPd, menanggapi pengungkapan kasus aborsi oleh Polres Balikpapan dimana pelaku diantaranya masih tergolong remaja, berumur 18 tahun.

Patria Rahamwaty menyarankan bahwa muda-mudi harus bisa membentengi diri, dan cerdas menggunakan media sosial.

Sebab, sudut pandang secara Psikologi, aborsi itu akibat pergaulan bebas.

"Yang namanya aborsi itu salah satu bentuk kenakalan remaja, dan mengarah ke kriminal remaja," kata Patria Rahamwaty. Karena apa yang dilakukan itu dengan tindakan secara sadar.

BACA JUGA:

Ini Kronologi Pengungkapan Kasus Aborsi di Balikpapan, Satu Pasien Berhasil Digagalkan

Ibu Ini Menolak Melakukan Aborsi Ketika Tahu Bayinya Memiliki Kelainan, Lihat Apa yang Terjadi

Kisah Pencarian Jasa Aborsi Lewat Internet, Bayar Rp 4 juta, Dilayani Pria Berjas Dokter

Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media.
Polisi menggelar jumpa pers pengungkapan praktik aborsi ilegal di Balikpapan, Jumat (1/2/2019) di halaman Mapolres Balikpapan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan barang bukti digelar di hadapan awak media. (Tribunkaltim.co/ Fachmi Rachman)

Tindakan aborsi itu dianggap akibat mereka berada di situasi yang sebenarnya belum pantas mereka lakukan. Salah satunya pergaulan bebas, yang menjerumus kepada hubungan seksual di luar nikah.

"Saya belum mengetahui apakah sudah ada penelitian bahwa aborsi di kalangan remaja prosentasenya tinggi, atau berapa banyak. Saya tidak bisa mengatakan apakah itu menjadi sebuah kebiasaan, tetapi yang kita cermati adalah prilaku ini diikuti oleh orang lain," kata Patria Rahamwaty.

Menurutnya, kebanyakan anak-anak remaja berfikir berhubungan bebas, melakukan seks di luar nikah, dan terjadi kehamilan, solusinya yang dilakukan adalah aborsi. Seharusnya mainset seperti ini tidak dibenarkan.

Prilaku itu, sudah termasuk prilaku menyimpang, karena pergaulan bebas yang terjadi di luar nikah.

Banyak alasan bisa terjerumus seperti itu, sebagai dasarnya bahwa anak-anak seperti itu tidak paham dengan siapa mereka harus bergaul.

"Kemudian, mereka tidak mengenali diri sendiri dan sekitarnya. Paling lebih bahaya lagi, mereka meniru prilaku itu dari hal-hal yang ada di sekitar mereka," ujarnya.

BACA JUGA:

Ini Kronologi Pengungkapan Kasus Aborsi di Balikpapan, Satu Pasien Berhasil Digagalkan

Ibu Ini Menolak Melakukan Aborsi Ketika Tahu Bayinya Memiliki Kelainan, Lihat Apa yang Terjadi

Kisah Pencarian Jasa Aborsi Lewat Internet, Bayar Rp 4 juta, Dilayani Pria Berjas Dokter

TS (21) mahasiswi semester VIII salah satu perguruan tinggi negeri dijadikan tersangka kasus aborsi, Rabu (28/3/2018).
TS (21) mahasiswi semester VIII salah satu perguruan tinggi negeri dijadikan tersangka kasus aborsi, Rabu (28/3/2018). (TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA)

Patria Rahamwaty pun menambahkan, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, mereka mendapatkan informasi dan tanyangan tentang seksual di jalan yang salah.

Menurutnya, Pendidikan seks bagi dunia remaja itu dipeesepsikan negatif. Karena mereka berfikir bagaimana mereka mencoba. Seharusnya bagaimana menolak itu supaya tidak terjadi.

"Sekarang ini informasi beredar bebas dimasyarakat dari youtobe, apa saja ada disana.
Ini membuat remaja yang menutup diri dan bertemu teman yang tidak tepat, dan lingkungan yang tidak positif akhirnya menjerumuskan dia melakukan hal itu," kata Rahma.

BACA JUGA:

Ini Kronologi Pengungkapan Kasus Aborsi di Balikpapan, Satu Pasien Berhasil Digagalkan

Ibu Ini Menolak Melakukan Aborsi Ketika Tahu Bayinya Memiliki Kelainan, Lihat Apa yang Terjadi

Kisah Pencarian Jasa Aborsi Lewat Internet, Bayar Rp 4 juta, Dilayani Pria Berjas Dokter

Rahma pun yakin anak-anak remaja sudah semakin maju, dan update informasi sudah semakin banyak, hanya mereka harus memperhatikan beberapa hal.

Pertama, harus membentengi diri mereka, secara sikologis mereka harus tau siapa diri mereka sendiri, dengan siapa berteman dan bergaul.

Kedua, anak-anak itu harus cerdas dalam mencari informasi, kepada siapa mereka mencari informasi, baik yang berhubungan dengan permasalahan dihadapi.

Ketiga, anak-anak muda harus bisa memilah dan meng-filter pengaruh yang dibawa oleh rekan-rekan dimana dia bergaul.

"Namanya kita bertemen dengan banyak orang, pasti berbagai macam budaya, latar belakang keluarga yang berbeda. Mereka harusnya bisa meng-filter, mana orang yang bisa memberikan dampaj positif kepada perkembangan sikologis mereka," kata Rahma.

Karena, lanjut Rahma, siapapun bergaul akan memberikan penguatan pada karakternya.

Keempat, anak-anak harus cermat menggunakan teknologi sebagai media untuk mencari informasi.

"Informasi yang mereka dapatkan dari luar, tidak semerta-merta menelan mentap apa yang mereka baca dan dilihat. Dan harus cermat dalam memilih fitur atau web yang dirasa bisa memberikan kontribusi positif, bukan menjerumuskan mereka dan membuat ketagihan," ujarnya.

Kelima, mereka harus membangun komunikasi yang sehat, penuh kepercayaan dan keterbukaan dengan keluarga. Terutama dengan orang tuanya, karena anak-anak remaja penuh dengan badai topan. Dimana anak-anak remaja dalam proses mencari identitas sebagai penguatan karakternya.

"Sedang mendapatkan banyak warna dan banyak informasi. Namun tidak bisa memilah dengan tepat. Disitulah peran orang tua sebagai salah satu filternya, makanya bangun komunikasi yang sehat, keterbukaan, dan kejujuran, serta kepercayaan," katanya.

BACA JUGA:

Ini Kronologi Pengungkapan Kasus Aborsi di Balikpapan, Satu Pasien Berhasil Digagalkan

Ibu Ini Menolak Melakukan Aborsi Ketika Tahu Bayinya Memiliki Kelainan, Lihat Apa yang Terjadi

Kisah Pencarian Jasa Aborsi Lewat Internet, Bayar Rp 4 juta, Dilayani Pria Berjas Dokter

Dosen jurusan teknik ini pun menyebutkan, anak remaja harus cerdas menggunakan media soisal. Jangan sedikit-sedikit upload apa yang dia lakukan.

Sebab membuat atau memstimulus orang-orang di luar yang tidak memiliki niat tidak baik untuk menjerumuskan mereka.

"Pondasi utama pada agama, isntitusi sekolah atau perguruan tinggi tidak hanya menekankan pada akademik. Tapi pada pembentukan karakter, bukan karakter yang juara saja, tetapi bagaimana membuat karakter yang bisa menjadi pribadi yang punya motivasi yang baik," katanya. (dha)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved