Di Samarinda Hampir Setiap Hari Terjadi Kebakaran Lahan, Sehari Bisa Tiga Kali, Faktor Manusia

"Parah betul tidak juga, tapi sehari bisa tiga kali kejadian kebakaran lahan. Hampir setiap hari terjadi kebakaran lahan,"

Di Samarinda Hampir Setiap Hari Terjadi Kebakaran Lahan, Sehari Bisa Tiga Kali, Faktor Manusia
TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER D
KEBAKARAN LAHAN - Lahan gambut di jalan Muang Ilir terbakar. Pemadam tidak dapat menjangkau titik api karena minimnya sumber air, Rabu (27/2/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Akhir-akhir ini di Kota Tepian kerap terjadi kebakaran lahan. Kendati intensitas terjadinya kebakaran lahan tergolong sering terjadi, namun Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Samarinda menyatakan kondisi kebakaran lahan yang terjadi tidak separah dengan daerah lainnya yang menyebabkan kabut asap.

Sejak awal 2019, kebakaran lahan kerap terjadi di sejumlah kecamatan di Samarinda, namun kebakaran lahan kembali marak terjadi pada Juli dan Agustus. Seharinya, kebakaran lahan bisa terjadi sebanyak lebih dari tiga kali.

"Parah betul tidak juga, tapi sehari bisa tiga kali kejadian kebakaran lahan. Hampir setiap hari terjadi kebakaran lahan," ucap Plh Kasi Operasional Pemadaman dan Investigas, Disdamkar Kota Samarinda, Sunardi Siman, Selasa (13/8/2019).

Tidak hanya terjadi pada siang hari, namun kebakaran lahan juga kerap terjadi pada malam hari. Beruntung, selama penanganan kebakaran lahan, petugas Dinas Damkar kerap mendapatkan bantuan dari sejumlah unsur relawan, maupun TNI dan Polri.

KEBAKARAN LAHAN - Petugas Damkar Kota Samarinda dan unsur relawan melakukan pemadaman api di lahan perumahan Keledang Mas, Jalan Bung Tomo, Samarinda Seberang, Rabu (7/8/2019).
KEBAKARAN LAHAN - Petugas Damkar Kota Samarinda dan unsur relawan melakukan pemadaman api di lahan perumahan Keledang Mas, Jalan Bung Tomo, Samarinda Seberang, Rabu (7/8/2019). (TribunKaltim.Co/Christoper D)

Sunardi Siman menjelaskan, selama penanganan kebakaran lahan yang terjadi pada dua bulan terakhir ini, pihaknya tidak menemui kebakaran lahan yang disebabkan karena faktor alam, nyaris seluruh kejadian yang ada karena ulah manusia.

Umumnya, masyarakat melakukan pembakaran karena untuk pembukaan lahan, selain itu juga karena membakar sampah, membakar ban, hingga karena puntung rokok yang dibuang disemak belukar.

Kondisi cuaca yang panas terik, membuat api dengan cepat menjalar, karena keringnya semak belukar maupun ilalang disuatu lahan.

"Tidak ada kami temui karena faktor alam, tapi semua ulah manusia. Kondisi cuaca yang panas ini membuat api cepat menjalar, karena api berasal dari pembakaran manusia juga, membuka lahan, bakar sampah dan lainnya," ungkap Sunardi Siman.

Menurut Sunardi Siman, pemadaman lahan lebih membutuhkan tenaga ekstra dibandingkan dengan memadamkan api di kawasan permukiman. Karena, untuk pemadaman lahan pihaknya harus betul-betul mematikan api hingga tuntas, termasuk mencegah agar api tidak kembali muncul.

"Lebih ekstra kerja keras kalau pemadaman lahan dibandingkan permukiman, apalagi kalau sampai meluas. Pemadaman lahan bisa memakan waktu hingga 2 jam lebih, dan itu harus benar-benar padam, termasuk meminimalisir asap akibat kebakaran lahan," urai Sunardi Siman.

Halaman
12
Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved