Tak Terima Dianiaya, Pemuda Pengunjung Warung Kopi Polisikan Satpol PP

“Yang didengar Satpol PP ATM. Dia (oknum satpol) nyeletuk, mungkin salah dengar dan tersinggung bilang, kamu punya uang berapa,” kata Silvester

Tak Terima Dianiaya, Pemuda Pengunjung Warung Kopi Polisikan Satpol PP
TribunKaltim.co/Nevrianto Hardi Prastyo)
AKSI MAHASISWA - Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Suara Rakyat Nusantara (SURYANATA) menggelar aksi unjuk rasa pasca terjadinya pengeroyokan kepada 8 mahasiwa yang dilakukkan oleh Satpol PP Kota Samarinda Balai Kota Pemkot jalan Kesuma Bangsa Samarinda Kalimantan Timur, Selasa (13/8/2019). 

Cek-cok sedikit, beberapa petugas langsung mendatangi kedai. Perselisihan tak terhindarkan. Belasan kawannya terlibat peselisihan. Namun, karena kalah jumlah, mereka pun, memilih tak melawan. “Saya ditarik 10 meteran lah, ada yang hajar dan tendang kepala saya,” kata Silvester Hengki Sanan.

“Ada motor yang lagi parkir dan diinjak injak petugas,” kata Silvester Hengki Sanan.

Kedai kopi miliknya yang baru beberapa bulan ia buka, porak poranda. Dia menyebut, semua kursi hancur, kabel soket listrik rusak, gelas pecah, beberapa telepon seluler pengunjung rusak dan dinding counter yang bersebelahan dengan kedainya juga penyot. “Kerugian, modal saya sekitar Rp 15 juta,” kata Silvester Hengki Sanan.

Tak sampai disitu, Silvester Silvester Hengki Sanan beserta rekannya Silva Sagor dan Yogi Prasetyo juga digelandang ke kantor Satpol PP usai kericuhan. “Di bawa dengan alasan ga jelas. Kami ga melawan,” katanya.

Di Kantor Satpol PP yang lokasinya tak jauh dari Balai Kota Samarinda, ke-tiganya mengaku kembali dapat kontak fisik dengan polisi penegak perda. “Di kantor Satpol PP, kami dihajar dua orang. Pakai tangan kosong. 5 kali dipukul dan ditendang,” kata Silva menunjuk keningnya.

Selang 25 menit, sekitar pukul 01.00 dini hari, setelah desakan beberapa rekannya. Ke-tiganya berhasil dibebaskan. Sayang, badan mereka kadung luka memar diduga terlibat kontak fisik dengan aparat. Ke-dua rekannya, Silva Sagor memar di kepala, Yogi Prasetyo bocor di bagian kepala belakang dan luka memar di kepala dan pinggang.

Tak terima, ke-empat korban langsung melaporkan kejadian ini ke Polresta Samarinda, Sabtu (10/8/2019) dini hari pukul 02.51 wita. Laporan resmi polisi bernomor STLLP/445/VIII/2019/KALTIM/RESTA-SMD disertai bukti visum.

Korban lainnya, Yogi Prasetyo mengutarkan, tindakan pemukulan dan perusakan ini tidak bisa dibenarkan. Jika terus dibiarkan, ia khawatir ini akan jadi preseden buruk bagi pemkot yang harusnya mengayomi dan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat. Apalagi, tempat mereka berkumpul, tak masuk kategori THM.

Karena itu, ia bersama rekan-rekan lainnya, tetap bersikukuh meminta kasus ini dimejahijaukan. Merekapun sudah siapkan dua pengacara. Mereka menegaskan ini bukan persoalan salah faham. Tapi lebih kepada upaya mendorong pemkot dan Satpol benar-benar menjadi pengayom masyarakat tanpa melukai fisik dan hati warganya. “Kami tidak akan kompromi,” katanya.

Dalam aksinya, di balai kota Samarinda. Massa mahasiswa gabungan organisasi yang tergabung dalam Suara Rakyat Nusantara (Suryanata) mendesak pencopotan Kepala Satpol PP dari jabatannya. Ke-dua, usut pelaku pemukulan mahasiswa dan meminta pemkot membina Satpol PP berdasarkan Perda No 5 tahun 2012 tentang Organisasi kerja dan tata kerja Satpol PP.

Halaman
123
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved