Lingkungan Hidup

2 Tersangka Penambangan Batu bara Ilegal di Samarinda Dibekuk, Tak Ada Izin dan Dokumen Resmi

Benar saja, tanggal 16 Juni 2019, sekitar pukul 14.00 Wita, tim polisi khusus kehutanan ini menemukan adanya kegiatan penambangan batu bara ilegal.

2 Tersangka Penambangan Batu bara Ilegal di Samarinda Dibekuk, Tak Ada Izin dan Dokumen Resmi
Tribunkaltim.co/Nalendro Priambodo
Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang Seksi Wilayah II, Gakkum KLHK Kalimantan langsung bergerak menelusuri ke lapangan pada Jumat (16/8/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Penambangan batu bara ilegal di Kalimantan Timur terus diungkap aparat penegak hukum.

Kali ini, pengungkapan berlangsung di Kampung Muang Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda. Dua orang ditetapkan sebagai tersangka.

Satu di antaranya, diidentifikasi sebagai aktor intelektual yang memodali dan penanggungjawab operasional.

Pengungkapan ini bermula dari verifikasi aduan masyarakat ke Balai Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum KLHK) Wilayah Kalimantan pertengahan Juni lalu.

Berbekal surat tugas, penyidik Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang Seksi Wilayah II, Gakkum KLHK Kalimantan langsung bergerak menelusuri ke lapangan.

Benar saja, tanggal 16 Juni 2019, sekitar pukul 14.00 Wita, tim polisi khusus kehutanan ini menemukan adanya kegiatan penambangan batubara pada koordinat 00 21’ 38” LS - 117 12’44”BT Kampung Muang, Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda.

Proses berlanjut. Selasa (13/8/2019), sekitar pukul 10.00 Wita ditemukan akitivitas penambangan batu bara menggunakan alat berat.

Di lapangan ditemukan sedikitnya 6 truk pengangkut dan ekcavator yang diduga untuk operasional. Beberapa lubang bekas galian juga dibiarkan menganga.

"Tim melakukan penghentian aktifitas tersebut dan mengamankan, A selaku operator alat berat, Z selaku penanggung jawab operasional sekaligus pemodal dan A selaku pengawas lapangan," kata Kepala Seksi Wilayah II Samarinda, Gakkum KLHK Kalimantan, Annur Rahim, Jumat (16/8/2019).

Pemeriksaan awal diketahui, aktivitas itu sudah berlangsung sejak 2018 di lahan seluas 3 hektare yang diklaim milik Z. "Bisa dibilang, mereka beroperasi 24 jam. Ada banyak titik (penambangan) di situ," kata Annur Rahim.

Halaman
123
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved