Perjuangan Agustiana - Ibu 7 Anak Memilah Sampah demi Biaya Sekolah Anaknya

Tangannya telanjang tanpa kaos tangan. Ia lebih lincah memilah plastik secara manual tanpa mengenakan pelindung tangan.

Perjuangan Agustiana - Ibu 7 Anak Memilah Sampah demi Biaya Sekolah Anaknya
TRIBUN KALTIM / ICHWAL SETIAWAN
Agustiana memilah botol plastik dan gelas plastik di Tempat Pemilahan Sampah Terpadu (TPST) Bessai Berinta Kelurahan Bontang Kuala. Ibu 7 anak ini harus bekerja untuk membiayai 3 orang anaknya yang masih menempuh pendidikan. 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Satu demi satu sampah plastik dipilah Agustiana, sesuai jenisnya masing-masing.

Tangannya telanjang tanpa kaos tangan. Ia lebih lincah memilah plastik secara manual tanpa mengenakan pelindung tangan.

Ibu 7 anak ini baru 9 bulan bekerja di Tempat Pemilahan Sampah Terpadu (TPST) Bessai Berinta di Kelurahan Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara.

Sebelumnya, ia bertani untuk memenuhi konsumsi hari-hari. Bergantung dari tanaman singkong tak banyak membantu kebutuhan hidup.

Apalagi 3 orang buah hatinya masih butuh biaya banyak. Tiga anak Agustiana masih bersekolah, paling bungsu tingkat Sekolah Dasar (SD).

“Anak kedua saya baru-baru kemarin diterima kerja di industri hanya jadi buruh sih. Tapi bisa bantu buat tiga anakku yang sekolah,” ujar Agustiana warga RT 04, Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat ini kepada tribunkaltim.co di sela-sela aktivitasnya, Jumat (16/8/2019).

Saban hari ia bersama 9 rekan sebayanya memisah sampah non-organik dari mesin konveyor.

Dari rel konveyor yang terus berjalan, tangannya sigap memungut plastik-plastik dari limbah rumah tangga.

Alat konveyor hanya beroperasi hingga tengah hari. Setelah itu, aktivitas lanjutan yakni memilah plastik agar seragam dengan jenisnya.

“Botol plastik sama botol, gelas juga begitu, nanti dikarungkan,” ungkapnya.

Agustiana hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun, semangatnya agar buah hatinya tetap bersekolah memaksanya untuk bekerja di usia nyaris setengah abad.

Suaminya, Matias kini mengganggur. Anak sulungnya pun tak lagi bekerja. Pendapatan dari bekerja harian di TPSP Bessai Berinta tak berlebih, cukup untuk makan dan biaya sekolah anaknya.

“Yah cukup aja, kadang-kadang seadanya tapi disyukuri saja,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ichwal Setiawan
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved