Berita Bontang Terkini

Walikota Bontang Neni Moerniaeni Bagikan Buku Tulis Kepada Puluhan Ribu Pelajar, Begini Tujuannya

Wali Kota Neni mengatakan pengadaan buku tulis gratis kepada pelajar merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap dunia pendidikan.

Walikota Bontang Neni Moerniaeni Bagikan Buku Tulis Kepada Puluhan Ribu Pelajar, Begini Tujuannya
Tribunkaltim.co/HO Pemkot Bontang
BUKU GRATIS — Walikota Bontang Neni Moerniaeni didampingi Kadis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang menyalurkam paket buku tulis gratis kepada para murid sekolah seluruh Kota Bontang, Kalimantan Timur. 

Acara Sabtu Ceria kami adakan tiap bulan sekali selama kurang lebih 45 menit.

Setiap anak bebas menunjukkan kemampuannya pada saat itu, menyanyi, baca puisi, menunjukkan keberhasilan pembelajaran dan bercerita” ujar Rahadiani Dwi, guru kelas II, 29 Juni 2019.

Rahadiani berharap dengan penghargaan demikian, siswa-siswa yang lain juga terpacu untuk lebih banyak membaca buku dan mau tampil bercerita di Sabtu Ceria.

Guru dan Komite  SDN 020 Balikpapan Tengah menghitung uang yang terkumpul dari program koin literasi.
Guru dan Komite SDN 020 Balikpapan Tengah menghitung uang yang terkumpul dari program koin literasi. (Tribunkaltim.co/ilo)

Buku yang dipilih oleh siswa biasanya juga buku yang disukai oleh teman-teman sebayanya. Ini poin yang amat penting karena program kita adalah bagaimana menumbuhkan kesukaan membaca pada anak-anak.

"Supaya siswa gemar membaca, biarkan mereka memilih buku sesuai selera mereka,” ujar Listiyorini, guru kelas IV A yang menemani siswa belanja buku.

Menurut Listiyorini, kegiatan pengumpulan koin dan pembelian buku sendiri oleh siswa ini menumbuhkan sifat memiliki siswa terhadap buku-buku di sekolah.

“Karena mereka sendiri yang kumpulkan koin dan membeli buku, mereka menjadi lebih merasa memiliki terhadap buku-buku tersebut,” ujarnya.

Pembelian Pipa Untuk Pipa Baca

Selain untuk beli buku, hasil Koin Literasi tersebut juga dibelikan pipa parallon yang dibelah sebagian untuk digunakan sebagai dudukan buku yang sudah dibeli tersebut. Pipa tersebut kemudian dipasang di setiap dinding luar depan kelas.

Kelas satu sampai kelas enam memiliki pipa baca masing-masing dan kurang lebih 80 buku yang berhasil dibeli dengan koin tersebut diletakkan secara merata di pipa-pipa baca tersebut setiap hari.

“Supaya jumlah buku yang kami beli banyak, kami tidak membeli di toko buku yang mahal. Walaupun kualitas kertasnya agak berbeda, tapi isinya bagus,” ujar Listyorini.

“Untuk mengakomodasi program 15 menit membaca sebelum pembelajaran yang kami laksanakan tiap hari pembelajaran, kami sebenarnya sudah memiliki pojok baca di tiap kelas," ujarnya. 

Buku-buku di pojok baca, berasal kebanyakan dari siswa. Tiap siswa dulu sebelumnya menyumbang rata-rata satu buku atau lebih secara sukarela.

Dengan adanya pipa baca yang terletak di dinding luar kelas dan pojok baca yang ada di dalam kelas, siswa semakin sering terpapar dengan buku.

"Kemana-mana mereka akan lihat buku. Kita berharap dengan strategi memapar siswa dengan buku ini, siswa tergerak untuk selalu baca buku,” ujar ibu kepala sekolah Linceria Hutapea.

Siswa sedang aktivitas baca buku di dekat pipa baca hasil dari pengumpulan koin literasi di SDN 020 Balikpapan Tengah.
Siswa sedang aktivitas baca buku di dekat pipa baca hasil dari pengumpulan koin literasi di SDN 020 Balikpapan Tengah. (Tribunkaltim.co/ilo)

Awal Mula Program

Program literasi ini muncul setelah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut dilatih program PINTAR Tanoto Foundation tentang manajemen sekolah dan peran serta masyarakat, yang di dalamnya juga berisi menggerakkan program budaya baca.

Setelah ikut pelatihan tersebut, pihak sekolah langsung mengundang komite.

Dan juga mengundang orang tua siswa mengadakan rapat untuk menggerakan budaya baca.

Dan program-program lainnya. Komite dan orang tua sepakat menyukseskan program tersebut.

Pembuatan pipa paralon untuk dudukan baca itu dilakukan oleh orang tua siswa.

Mereka juga aktif membantu pada banyak kegiatan yang lain.

Misalnya pembuatan taman, acara olahraga, halal bi halal dan lain-lain.

"Ini terjadi setelah komite dan orang tua kami ajak musyawarah secara terbuka. Kami ceritakan kebutuhan sekolah dan keterbatasan sekolah untuk menanggung semuanya,” ujar Rahadiani.

Menurut Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, gerakan koin literasi yang dilakukan oleh SDN 020 perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain.

(Ichwal Setiawan/Tribunkaltim.co)

Penulis: Ichwal Setiawan
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved