Ibu Kota Negara

Ibu Kota Negara di Putuskan di Kaltim, Walikota Samarinda : Kita Menerima Kebijakan Presiden

Walikota Samarinda Syaharie Jaang menanggapi hal tersebut. Dia mengatakan, pengumuman tersebut, apapun hasilnya, tetap menjadi hal yang positif.

Ibu Kota Negara di Putuskan di Kaltim, Walikota Samarinda : Kita Menerima Kebijakan Presiden
TribunKaltim.Co/Nalendro Priambodo
Walikota Samarinda Syaharie Jaang 

2. Dalam hal Kuantitas air permukaan, Kaltim memperoleh kuantitas air dari tiga Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Sanggai/Sepaku, DAS Samboja dan DAS Dondang.

3. Selain itu, daya dukung air tanah di lokasi deliniasi sebagian besar termasuk ke dalam kelas rendah.

4. Wilayah Deliniasi tidak memiliki historis kebakaran hutan yang sering. Sebagian besar wilayah deliniasi merupakan hutan, namun hanya beberapa titik saja yang menjadi pemicu kebakaran hutan.

Titik lokasi kebakaran berada di sisi selatan Samboja dan Sepaku serta bagian Tahura.

5. Berdekatan dengan kota besar Balikpapan dan Samarinda, serta dilintasi jalan tol Balikpapan-Samarinda.

Selain itu didukung oleh Bandara international Sultan Aji Muhaman Sulaiman, Sepinggan Balikpapan dan Bandara International Aji Pangeran Tumenggung Pranotor Samarinda, ditambah dekat dengan Pelabuhan Terminal Peti Kemas Kariangau.

6. Daerah Kalimantan Timur dominan masyarakatnya merupakan pendatang yaitu etnis jawa 30%, Bugis 21% dab Banjar 12%. Sehingga potensi terjadinya konflik sosial sangatlah rendah.

7. Memiliki keunggulan dari aspek pertahanan dan keamanan, dimana Kalimantan Timur memiliki akses darat, laut dan udara yang strategis.

Itulah keunggulan Kalimantan Timur menurut penilaian Bappenas, keunggulan ini sangat menunjang keperluan ibu kota baru.

Baca juga :

Pemindahan Ibu Kota RI dari Jakarta, Mardani Ali Sera Senang Karena PKS Menang di Kalimantan Timur

Ibu Kota Indonesia di Kaltim, Gubernur Kaltim Isran Noor Beberkan Sulawesi Juga akan Kena Dampaknya

Dampaknya hingga ke Sulawesi

Secara resmi Presiden Joko Widodo telah mengumukan Ibu Kota Indonesia di Kaltim, atau Kalimantan Timur.

Keputusan Ibu Kota Indonesia di Kaltim memberikan angin segar bagi Kalimantan Timur dan daerah sekitarnya.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur Kaltim Isran Noor saat ditemui Kompas.com di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Kata Gubernur Kaltim Isran Noor, penetapan Ibu Kota Indonesia di Kaltim akan memberi dampak dari sisi pergerakan ekonomi.

Satu di antaranya di bagian wilauah Sulawesi dalam waktu dekat ini.

Proses pembangunan Ibu Kota Indonesia di Kaltim pastinya pasokan bahan bangunan akan didatangkan dari wilayah Sulawesi.

Secara geografis, Kalimantan Timur juga bersisian dengan wilayah Sulawesi bagian barat yang dipastikan juga akan terkena dampaknya.

"Ini adalah suplai bahan bangunan yang kualitas batunya sangat bagus," ujar Gubernur Kaltim Isran Noor.

"Wilayah tengah ke timur akan mendapat dampaknya karena jarak wilayah ini berada di posisi tengah-tengah negara," kata Gubernur Kaltim Isran Noor.

Nah, Gubernur Kaltim Isran Noor, memastikan, wilayahnya sangat siap menjadi pusat pemerintahan Indonesia pengganti Jakarta.

"Kami semua siap. Masyarakat siap, pemerintah daerah siap. Tidak ada pilihan lain kecuali harus siap," ungkap Gubernur Kaltim Isran Noor.

Senada di tempat terpisah, di Kalimantan Utara pun tanggapi positif soal Ibu Kota Indonesia di Kaltim ini.

Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) Prof Adri Patton.

Kepada Tribunkaltim.co, Adri Patton mengakui Kalimantan Timur memang layak dari berbagai sisi, mulai dari geografis, infrastruktur pendukung, serta relatif aman dari potensi bencana alam.

Nah, Adri Patton awalnya memprediksikan lokasi ibu kota negara itu di Samboja, perbatasan Balikpapan-Kutai Kartanegara.

Tetapi Pak Presiden telah memutuskan hari ini, Kalimantan Timur yang keluar jadi pilihan lokasi Ibu Kota Negara RI yang baru.

Di mana pun itu di Pulau Kalimantan, tentu akan memberi multiplier effect bagi Kalimantan dan Indonesia secara umum," sebut Adri Patton kepada Tribunkaltim.co melalui sambungan telepon selulernya, Senin (26/8/2019) petang.

Baca juga :

Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan Timur, Respon Kritis Sandiaga Uno dan Reaksi Keras Fahri Hamzah

Rektor UBT Sebut Ibu Kota Negara RI di Kaltim, Pendidikan & Infrastruktur di Kalimantan akan Membaik

Secara khusus, dampak positif bagi Kalimantan terhadap pemindahan Ibu Kota Negara ini akan lebih terlihat.

Pembangunan wilayah-wilayah perbatasan sebut Adri Patton akan lebih intensif.

Perbatasan Kalimantan Utara sampai Kalimantan Barat sepanjang 2019 kilometer itu akan lebih baik.

Desa-desa dan kecamatan-kecamatan perbatasan juga akan lebih baik.

Aksesibilitas antar provinsi juga akan lebih baik," sebutnya.

Pemilihan Kalimantan yang notabene berbatasan dengan sejumlah negara tetangga, lanjut Adri Patton, juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menata wajah terdepan NKRI.

Hingga urusan diplomatik baik hubungan bilateral maupun hubungan multilateral tambah Adri Patton bakal lebih erat, dalam artian hubungan perdagangan lintas batas lebih intensif dan terawasi.

Itu juga menjadi penting. Perdagangan lintas batas bertumbuh intensif baik dalam skema Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), maupun Asia to Asia, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Pendapatan per kapita masyarakat di Kalimantan dan Indonesia pada umumnya," ujarnya.

Adri Patton berpendapat, perpindahan ibu kota baru ini turut memberi efek yang luar biasa bagi dunia pendidikan di Kalimantan. Namun, ia meminta anak-anak millenial mempersiapkan diri menghadapi peluang-peluang positif dengan berpindahnya ibu kota negara ini.

"KIta juga harus terus menyiapkan SDM kita. Otomatis perguruan-perguruaan tinggi di Kalimantan akan mendapat perhatian lebih besar lagi," ujarnya.

Bidang pertahanan dan keamanan di Kalimantan lanjutnya, akan lebih kuat dibanding sebelumnya.

"Pemerintah tentu ingin lebih memperkuat Pos Pamtas di sepanjang 2019 kilometer garis perbatasan di Kalimantan. Termasuk membangun Pos Pamtas baru dan Pos Lintas Batas Negara yang lebih banyak," ujarnya.

Berbagai macam respon masyarakat dengan kebijakan berpindahnya ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

Masyarakat provinsi Kalimantan Utara, sebagai daerah yang bertetangga dengan Kalimantan Timur kebanyakan setuju dan merasa bahagia berpindahnya ibu kota.

Dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) misalnya.

Salah satu PNS Pemprov Kalimantan Utara, Asdianto berkomentar, bahwasanya biaya perjalanan dinas ke ibukota di Kalimantan Timur bakal lebih efisien.

Dibanding sejauh ini melakukan perjalanan dinas ke Jakarta yang dirasa cukup menguras biaya transport dan kondisi kebugaran.

"Kalau Ibu Kota Negara ada di Kalimantan Timur, yang secara geografis ada di tengah, itu strategis. 
Setidaknya dari Kalimantan Utara itu bisa menghemat biaya transport untuk perjalanan dinas ke ibukota nantinya," kata Asdianto kepada Tribunkaltim.co. Senin (26/8/2019) sore.

Menurutnya, hal yang sama juga akan dirasakan oleh ASN-ASN di Kawasan Timur Indonesia seperti Papua, Maluku dan Nusa Tenggara.

Ia berharap perpindahan ibu kota negara ini ikut menguatkan pengawasan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang selama ini sering dipermasalahkan kedua negara terkait batas teritorial.

"Semoga saja ini langkah yang betul-betul strategis multi-sektoral," sebutnya.

Dedi Suhendra, pekerja swasta di Tanjung Selor berpendapat, pemerintah harus menyiapkan strategi mengatur arus urbanisasi jutaan masyarakat Tanah Air demi mencegah ledakan penduduk dan kemacetan kendaraan.

"Ketika tidak ada regulasi tegas perihal angkutan umum, dan pola pikir masyarakat masih senang belanja kendaraan pribadi, macet seperti Jakarta akan pindah ke Kaltim dan wilayah sekitarnya," ujarnya.

Begini Skenario Pemindahan ASN dari Jakarta Menuju Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur.

Jutaan aparatur sipil negara atau ASN bakal pindah dari DKI Jakarta ke ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Diketahui, Presiden Jokowi baru saja mengumumkan lokasi ibu kota baru, yakni Provinsi Kalimantan Timur.

Ibu kota baru nantinya akan berada di di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Lokasi ini, sebut Presiden, dipilih karena karena kegiatan ekonomi yang terpusat ini membuat Pulau Jawa menjadi sangat padat dan menciptakan ketimpangan dengan pulau-pulau di luar Jawa.

Dilansir dari Tribunnews.com, selain alasan pemerataan, pemilihan lokasi ibu kota baru juga mempertimbangkan potensi bencana.
"Kenapa di Kalimantan Timur?

Pertama, risiko bencana minimal.

Baik bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dan tanah longsor," ujar Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Kemudian, Kalimantan Timur juga dinilai strategis. Lokasinya berada di tengah-tengah wilayah Indonesia.

Kalimantan Tinur juga berada di dekat perkotaan yang sudah berkembang sepeti Kota Balikpapan dan Samarinda.

Alasan lainnya adalah dukungan infrastruktur yang lebih lengkap serta terdapat lahan pemerintah seluas 180.000 hektar.

Luas ibu kota baru Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan kawasan induk ibu kota baru akan memakan wilayah hingga 40.000 hektar.
Nantinya, luas wilayah ini akan dikembangkan menjadi 180.000 hektar dari tanah yang dimiliki pemerintah di sana.

Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, luas wilayah DKI mencapai 662,33 kilometer persegi.

Lahan seluas 1 kilometer persegi setara dengan 100 hektar.

Ini artinya, luas total wilayah ibu kota saat ini 66.233 hektar.

Jika dibandingkan, luas kawasan induk ibu kota baru sekitar dua pertiga luas DKI Jakarta.

Sedangkan luas ibu kota baru secara keseluruhan akan setara hampir dengan 3 kali luas DKI Jakarta. (*)

Penulis: Cahyo Wicaksono Putro
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved