Otomotif
Mulai Hari Ini PLN Beri Diskon Tarif Saat Carger Motor Mobil Listrik, Begini Cara tuk Dapatkannya
"Ada diskon dari jam 10 malam sampai jam 4 pagi, nge-charge di rumah ada diskon 30 persen mulai 1 September 2019 sampai seterusnya
TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Mulai hari ini, 1 September 2019 PLN bakal memberikan diskon tarif listrik bagi Anda yang mengisi daya mobil maupun motor listrik di rumah.
Diskon tarif listrik tersebut sebesar 30 persen bagi pemilik kendaraan listrik di malam hari, mulai pukul 22.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB yang bakal berlaku mulai hari ini.
Sementara untuk diskon tambah daya listrik, PLN akan memberikan diskon sebesar 75 persen bagi pemilik motor listrik dan 100 persen atau gratis bagi pemilik mobil listrik.
Hal ini tentu saja agar pemilik kendaraan listrik bisa menggunakan charging station di rumah tanpa kendala daya listrik.
"Ada diskon dari jam 10 malam sampai jam 4 pagi, nge-charge di rumah ada diskon 30 persen mulai 1 September 2019 sampai seterusnya," ujar Sripeni dalam acara pameran dan konvoi kendaraan listrik di Kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (31/8/2019).
Daftarkan diri Bagi Anda yang ingin mendapat diskon-diskon di atas, Senior Manager General Affairs PLN UID Jakarta mengatakan, Anda perlu mendaftarkan diri dahulu kepada PLN.
Senior Manager General Affairs PLN UID Jakarta Raya Tris Yanuarsah menjelaskan, untuk bisa mengisi daya kendaraan listrik dari rumah, pelanggan perlu untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu kepada PLN.
Karena meteran dan adaptor yang digunakan untuk melistriki peralatan kendaraan listrik berbeda dengan melistriki kebutuhan rumah lainnya.
"Kita kan setting dulu meterannya, adaptornya juga beda. Jadi bisa bilang ke kita dulu sebelumnya," jelas dia.
Dia menjelaskan, nantinya setelah mendaftarkan diri ke PLN dan menggunakan charging station di rumah untuk kendaraan listrik, Anda akan memiliki dua tagihan.
Tagihan pertama yaitu tagihan listrik bulanan Anda dan tagihan kedua yaitu tagihan untuk charge kendaraan listrik. Nah, diskon yang 30 persen tadi akan otomatis terpotong di tagihan kendaraan listrik setiap bulan.
Sisi lain,
Model Tesla 3 merupakan mobil listrik termurah yang dimiliki Tesla.
Prestige Motorcars sebagai importir umum resmi menjual mobil ramah lingkungan itu untuk pasar otomotif nasional.
Model 3 yang hadir di Indonesia hadir dalam tiga varian.
Yaitu Standard Range Plus, Long Range, dan Performance.
Masing-masing tersedia dalam lima pilihan warna.
Yakni Pearl White Multi Coat, Solid Black, Midnight Silver Metallic, Deep Blue Metallic, & Red Multi Coat.
"Ini merupakan era baru, era kendaraan listrik bahwa dengan harga mobil listrik yang semakin terjangkau dan turut sertanya Pemerintah mendukung kendaraan berbasis listrik dengan berbagai insentif yang ada," ucap Rudy Salim, Presiden Direktur Prestige Motorcars dalam siaran resmi, Minggu (1/9/2019).
Rudy melanjutkan, Prestige Motorcars sebagai importir umum selalu menjaga komitmen untuk memberikan pengalaman dan layanan terbaik kepada penggemar mobil listrik, mobil masa kini Indonesia.
"Kami juga memberikan layanan 2 tahun garansi, jaminan suku cadang, service, dan jaminan baterai selama 8 tahun untuk setiap pembelian unit Tesla guna menjamin rasa aman kepada konsumen," ucap Rudy.
Spesifikasi Tesla Model 3 kemungkinan besar tak akan dilengkapi dengan instrumen cluster.(paultan.org)
Model 3 varian Standard Range Plus, berpenggerak roda belakang dengan akselerasi 0-100 km per jam dalam 5,3 detik dan kecepatan maksimum 225 km per jam.
Long Range penggerak semua roda dengan akselerasi 0-100 km per jam dalam 4,4 detik, kecepatan maksimum 233 km per jam.
Terakhir varian Performance dengan penggerak semua roda yang mampu berakselerasi 0-100 km per jam dalam 3,2 detik dengan kecepatan maksimum 261 km per jam.
Standard Range Plus mampu mencapai jarak tempuh hingga 386 km, Long Range dan Performance hingga 499 km dalam satu kali pengisian daya.
Dan Tesla Model 3 Selain itu, Model 3 merupakan kendaraan yang dapat menekan biaya operasional pengisian daya secara signifikan.
Dalam satu kali pengisian daya baterai dari nol sampai penuh, biaya dengan yang diperlukan sekitar Rp 70.000 dengan estimasi waktu pengisian daya selama empat jam.
"Hal ini tentunya seperlima lebih hemat dibandingkan biaya bahan bakar kendaraan konvensional yang menggunakan mekanisme combustion engine," kata Rudy.
Produsen Minta Kepastian Pasar
Sejak Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang kendaraan listrik, sejumlah produsen otomotif terus didorong untuk membuat mobil dan sepeda motor listrik di Indoenesia.
Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.
Payung hukum mobil ramah lingkungan ini juga akan didukung Peraturan Pemerintah (PP) baru, hasil dari revisi PP Nomor 41 tahun 2013, tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Setidaknya jika menilik salah satu pasal tepatnya pasal 36 pada peraturan tersebut yang mengindikasi, bahwa jalannya peraturan ini akan memakan waktu setidaknya setahun setelah Perpres ditandatangani,
maka para pelaku industri akan memiliki waktu satu tahun ini untuk memastikan semua faktornya siap sehingga hasil yang didapat pun akan optimal.
Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto menyatakan selain menyiapkan produk dan juga teknologi untuk mendapatkan penetrasi yang optimal, juga dibutuhkan kesiapan pasar.
“Perpres tentu akan dapat mendorong pertumbuhan pengadaan kendaraan bermotor listrik dan teknologinya, tetapi akan lebih optimal apabila pasar juga juga disiapkan,
artinya harus ada yang memikirkan tingkat marketability juga, dengan begitu akan ada kecocokan yang tepat antara produk yang disediakan dengan kebutuhan pasar sehingga penetrasinya sempurna,” ujarnya, Kamis (29/8/2019), seperti dilansir Tribunnews.com.
Lebih jauh pria yang akrab disapa Suryo ini menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman para agen pemegang merek (APM) di Indonesia yang dalam kurun waktu 10 tahun ini sudah memasarkan kendaraan bermotor listrik yang rata-rata berjenis Hybrid Electronic Vehicle (HEV).
Di Indonesia sendiri penetrasinya belum cukup tinggi, yang artinya merupakan sebuah tantangan besar untuk nantinya mencapai target roadmap di tahun 2025 dengan optimal.
“Hingga saat ini setidaknya sudah ada lebih dari 5.400 pengguna jenis kendaraan bermotor listrik di Indonesia dan ini masih cukup rendah.
Dimana setidaknya mungkin bahkan tak sampai 1 persen dari total kendaraan yang ada, sehingga rasanya apabila kita bisa siapkan pasar setidaknya selama setahun ini.
"Maka pada saat nanti dimulainya era kendaraan bermotor listrik penetrasi dan penerimaannya akan lebih optimal,” ujarnya.
Meneruskan pengalaman sebelumnya menurut Suryo cara paling mudah adalah mengeliminasi sejumlah kekhawatiran konsumen akan kendaraan bermotor listrik.
Benar bahwa mobil listrik akan memberikan benefit seperti running cost yang murah dan juga perawatan yang lebih mudah.
Tetapi jangan lupa masih ada beberapa kekhawatiran seperti harga yang relatif tidak murah.
Kesiapan infrastruktur di berbagai daerah, kemudahan penggunaan seperti charging yang cepat dan beberapa yang lain," katanya.
"Apalagi kalau mengingat negara kita cukup unik karena kota besar kita terkenal dengan kemacetan, tetapi ada juga budaya mudik yang tidak cuma macet, tapi jauh jaraknya dan lama mengemudinya,
hal hal ini membuat para konsumen masih akan concern terhadap mobil listrik, maka selain menyiapkan produk ada baiknya kita siapkan marketnya agar nanti ujungnya sama-sama siap maka akan optimal,” katanya.
Suryo menjelaskan, salah satu yang menjadi tugas APM adalah untuk dapat membuat marketability level yang baik antara pilihan produk dan kebutuhan, di mata rantai industri ini APM berada di tengah antara produsen dan juga market.
"Maka kedepan nya menurut kami penting juga untuk dapat memilih dengan tepat produk dan teknologi KBL yang ada dan sudah siap menyesuaikan dengan kebutuhan market dan kondisi kondisi lain,
maka mari kita dengan sama sama punya setahun untuk salah satunya menyiapkan market dengan mengurangi kekhawatiran konsumen,” ujar Suryo lagi.
Menurut Suryo, menyiapkan pasar caranya bisa bermacam-macam.
Selain tentunya memberikan banyak informasi agar tingkat pengetahuan terhadap KBL baik, penyiapan infrastruktur pendukung dan jaringan layanan akan sedikit banyak membantu mengurangi kekhawatiran.
"Satu lagi adalah program benefit yang juga bisa menjadi pemancing sehingga akan jelas terasa perbedaan bagi pengguna KBL dan kendaraan biasa,
rasanya berbagai insentif di area hilir ini juga akan banyak membantu nantinya, sehingga tak hanya di area hulu efek positifnya tapi lebih total,” katanya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mau Charge Mobil Listrik di Rumah Dapat Diskon? Begini Prosedurnya."