Penyebab Kerusuhan Papua dan Kisah Mahasiswa Papua di Samarinda Jaga Nama Baik NKRI

Nah, mahasiswa serta masyarakat Papua di Kota Tepian, Samarinda Kalimantan Timur, mengaku tidak terpengaruh dengan kejadian di Surabaya dan Malang.

Penyebab Kerusuhan Papua dan Kisah Mahasiswa Papua di Samarinda Jaga Nama Baik NKRI
Kompas / Alif
Masyarakat Papua yang berada di Jakarta menggelar acara tari yospan massal di kawasan hari bebas kendaraan bermotor, di Jalan MH Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (1/9/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Serangkaian peristiwa terjadi pasca-Pemilu 2019 dan usai pertemuan Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di MRT Jakarta.

Beberapa di antaranya menimbulkan kehebohan, mulai dari kasus amblasnya saldo Bank Mandiri, mendadak padamnya listrik PLN dan lumpuhnya saluran telekomunikasi di sebagian wilayah Jakarta dan Pulau Jawa, hingga kerusuhan di Papua sejak tanggal 19 Agustus 2019.

Kerusuhan terjadi di beberapa kota, seperti di Papua, apa penyebab kerusuhan Papua ini.

Hal ini menyusul kedatangan beberapa ormas ke Asrama Papua di Surabaya setelah mendengar informasi bendera Merah Putih yang terpasang di tiang, dipatahkan orang tidak dikenal.

Massa beratribut ormas dikabarkan mendatangi asrama Papua. Terjadi insiden umpatan kasar berbau rasisme terhadap warga Surabaya asal Papua yang menghuni asrama tersebut.

Dadu bergulir, pada hari Senin (19/8/2019) mulai terjadi kerusuhan di Papua yang berlanjut hingga hari-hari selanjutnya. Yang perlu dicermati dalam kerusuhan di Jayapura pada Kamis (29/8/2019), ada pemotongan kabel serat optik oleh orang tidak dikenal.

Kejadian di Papua ini, mengingatkan penulis saat berkunjung ke Tobelo dan Morotai di Halmahera Utara pada tahun 2009. Dalam perbincangan dengan warga setempat, mereka memandang bahwa kerusuhan komunal yang pernah terjadi di Maluku Utara adalah imbas permainan politik di Pusat (Jakarta). Saat itu, penulis berbincang dengan warga Tobelo dan Morotai dari komunitas Muslim dan Nasrani.

“Awalnya kita tidak sadar. Belakangan setelah semua hancur, warga mulai sadar kita diadu domba. Ini kan yang bertarung di pusat,” kata Abdul Halil, salah seorang warga yang ditemui saat itu.

Kembali ke Papua, sejumlah pola dalam kerusuhan yang terjadi, mirip dengan kerusuhan di Aceh, Timor Timur, dan Maluku dalam kurun 1999–2002. Semisal dalam kasus pemotongan kabel fiber optik dan beberapa infrastruktur, mengingatkan pada peristiwa pemotongan-pemotongan tower listrik PLN di pesisir timur Nangroe Aceh Darussalam.

“Saya ditawari seorang tokoh ormas yang pernah aktif di Timtim semasa jajak pendapat untuk bantu operasi di Aceh. Tapi operasinya kok malah merugikan kepentingan masyarakat kampung halaman saya,” kata Zain – bukan nama asli – seorang pemuda Aceh di Jakarta yang mendapat tawaran tersebut.

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved