Kemarau Landa Kepulauan Derawan, Tukik, Atau Bayi Penyu Menetas Prematur, Ini Langkah BKSDA

Kemarau di Kepulauan Derawan membuat tukik atau bayi penyu menetas prematur, contihnya terjadi di Pulau Sangalaki. BKSDA pun ambil langkah

Kemarau Landa Kepulauan Derawan, Tukik, Atau Bayi Penyu Menetas Prematur, Ini Langkah BKSDA
tribunkaltim.co/Geafry Necolsen
Mayoritas tukik atau anak penyu di Pulau Sangalaki menetas prematur karena musim kemarau. Suhu pasir pantai yang naik drastis menjadi penyebab telur penyu menetas sebelum waktunya. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kemarau di Kepulauan Derawan membuat tukik atau bayi penyu menetas prematur, contihnya terjadi di Pulau Sangalaki. BKSDA pun ambil langkah.

Musim kemarau tidak hanya membuat masyarakat di sebagaian kawasan kesulitan mendapat air bersih dan membuat hutan dan lahan mengering.

Musim kemarau juga mulai berpengaruh terhadap satwa.

Satu diantaranya penyu.

Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Dheny Mardiono, musim kemarau membuat satwa di sejumlah pulau konservasi kesulitan mendapat air minum.

Sejumlah pulau memang tidak memiliki sumber air, karena itu sebagian besar satwa hanya mengandalkan air hujan untuk minum.

Atau dari tumbuhan yang banyak mengandung air.

“Tetapi selama musim kemarau ini kan jarang sekali hujan.

Akibatnya banyak satwa yang kekurangan air minum, dan tanaman sedikit sekali yang mengandung air,” ungkapnya, Selasa (3/9/2019).

Kekeringan juga menyebabkan telur penyu menetas prematur, alias menetas sebelum waktunya.

Halaman
1234
Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Rafan Arif Dwinanto
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved