Kemarau Landa Kepulauan Derawan, Tukik, Atau Bayi Penyu Menetas Prematur, Ini Langkah BKSDA

Kemarau di Kepulauan Derawan membuat tukik atau bayi penyu menetas prematur, contihnya terjadi di Pulau Sangalaki. BKSDA pun ambil langkah

Kemarau Landa Kepulauan Derawan, Tukik, Atau Bayi Penyu Menetas Prematur, Ini Langkah BKSDA
tribunkaltim.co/Geafry Necolsen
Mayoritas tukik atau anak penyu di Pulau Sangalaki menetas prematur karena musim kemarau. Suhu pasir pantai yang naik drastis menjadi penyebab telur penyu menetas sebelum waktunya. 

“Karena suhu pasir mengalami peningkatan.

Dari yang biasanya 30 derajat celcius, sekarang naik jadi 33 derajat celsius,” jelasnya.

Seperti diketahui, secara alamiah, penyu menyimpan telur-telurnya di dalam pasir sebelum menetas menjadi tukik atau anak penyu.

Umumnya, telur penyu membutuhkan waktu 50 sampai 60 hari sebelum menetas.

Penyu Lekang Terjerat Jala Nelayan di Laut Manggar, Begini Kondisinya Saat Ini

5 Striker Terbaik yang Pernah Dimiliki Inter Milan, Penyumbang Gelar Scudetto dan Liga Champions

Insentif Guru dan Penyuluh T-II Telah Tersalurkan Rp 13,4 Miliar

Namun selama musim kemarau ini, kebanyakan telur penyu sudah menetas di bawah 40 hari.

BKSDA kata Dheny Mardiono, berupaya menyiasatinya dengan menyimpan tukik yang baru menetas di bak pasir, agar fisiknya lebih kuat sebelum dilepas ke pantai.

“Kami juga membuat embung kecil di Pulau Sangalaki sebanyak enam titik. Supaya satwa di sini bisa minum,” ungkapnya.

Embung itu dibuat dengan menggali pasir, dilapisi dengan plastik untuk mencegah air merembes ke dalam pasir.

Air-air itu sengaja dibawa dari daratan dengan menggunakan galon.

Selain satwa liar di pulau-pulau konservasi, kekeringan juga dirasakan oleh para petugas yang berjaga di pulau-pulau konservasi seperti Sangalaki, Semama, Blambangan dan sebagainya.

Halaman
1234
Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Rafan Arif Dwinanto
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved