Darurat Kabut Asap

Kabut Asap Masih Pekat Ancam Keselamatan Transportasi di Kutai Barat

Hingga hari ini kondisi udara di Kubar terpantau masih tidak sehat. Cahaya matahari tidak tembus ke tanah.

Kabut Asap Masih Pekat Ancam Keselamatan Transportasi di Kutai Barat
Tribunkaltim.co/Febriawan
Kondisi Kutai Barat Kalimantan Timur yang hingga Senin (16/9/2019) siang, masih diselimuti kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan. 

Tempat terpisah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara punya penilaian berbeda terhadap kualitas udara atas kabut asap yang terjadi di sejumah wilayah di Kalimantan Utara.

Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan Hidup Obed Daniel mengungkapkan, berdasarkan data visual server Air Control Monitoring System (ACMS) milik DLH Kalimantan Utara menunjukkan kualitas udara di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan khususnya masih relatif aman alias baik.

"Memang fakta di lapangan, melihat dari kacamata masyarakat, bahwa polusi udara sudah mengkhawatirkan. Jarak pandang berdasarkan data BMKG hanya 400 meter. Namun berdasarkan alat ACMS kami, kualitas udara masih 17 microgram/nano meter kubik. Artinya itu masih baik," sebut Obed Daniel kepada Tribunkaltim.co, Senin (16/9/2019).

Ia mengambahkan, ACMD DLH Kalimantan Utara punya server yang dipusatkan di kompleks Pasar Induk Bulungan.

Namun kualitas udara secara realtime sementara ini belum dapat ditampilkan pada alat yang dipasang di Kantor Gubernur lantaran sedang pemeliharaan.

"Alat kami servernya Pasar Induk dan display-nya yang ada di depan kantor gubernur. Memang kondisi display itu tidak menunjukkan data kualitas udara saat ini karena masih dalam proses maintenance. Namun server tetap mencatat per hari kualitas udara di Tanjung Selor," ujarnya.

Ia mengungkapkan, dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) 0-50 berarti masih dalam kategori baik. Selanjutnya kategori sedang yakni berindeks 51-100. Selanjutnya kategori Tidak Sehat berindeks 101-199 . Lalu kategori Sangat Tidak Sehat yakni 200-299, dan kategori Berbahaya dengan indeks 300-lebih.

Sebagai pembanding, DLH berkoordinasi dengan DLH Kota Tarakan untuk mengetahui kualitas udara di kota tersebut. Hasil visual ACMS DLH Kota Tarakan menunjukkan kualitas di kota itu juga masih baik.

"Tarakan punya alat sejenis juga dan hasilnya sama. Kurang lebih persis. Artinya di Tarakan itu menyatakan, kualitas udara di Tarakan itu masih kategori hijau, belum membahayakan kesehatan," ujarnya.

Walau demikian, DLH Kalimantan Utara tetap menghargai indeks kualitas udara dari sudut pandang OPD Pemprov lainnya seperti Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Kita punya OPD lintas sektor. Katakanlah Dinkes, BPBD. Mungkin kalau dari kacamata OPD tersebut sudah katakan berbahaya, silakan saja. Tetapi berdasarkan data kita bahwa masih belum mengkhawatirkan. Karena kita berbicara kan berdasarkan data," sebutnya.

Walau demikian DLH terus memberikan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menghindari kegiatan pengapian yang bisa meningkatkan intensitas kabut asap hingga menyebabkan kualitas udara berubah menjadi buruk.

"Bahkan kami pun melakukan aksi membagikan masker kepada anak sekolah dan masyarakat yang beraktifitas di luar ruangan," sebutnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalimantan Utara Agus Suwandi sebelumnya punya pandangan berbeda. Ia menjelaskan, melihat kondisi kabut asap beberapa hari belakangan dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

 "Utamanya terhadap paru-paru. Jangka panjangnya bisa terjadi infeksi paru-paru, asma, saluran pernafasan, alergi, dan berbagai macam penyakit lainnya," kata Agus Suwandi kepada Tribunkaltim.co, mewakili Kepapa Dinas Kesehatan, Usman.

(Tribunkaltim.co)

Penulis: Febriawan
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved