Lebih 20 Ribu Balita di Kaltim Stunting, Dinas Kesehatan : Dampaknya Bisa Lebih Parah

Bukan hanya berat dan tinggi badan saja, dituturkan Andi, apabila persoalan ini dibiarkan berlarut-larut maka akan mengakibatkan persoalan yang lebih

Lebih 20 Ribu Balita di Kaltim Stunting, Dinas Kesehatan : Dampaknya Bisa Lebih Parah
TribunKaltim/Purnomo susanto
Erni Makmur Hadi Mulyadi didampingi Ketua TP PKK Provinsi Kaltim, Norbaiti Isran Noor saat menyerahkan bingkisan kepada bunda Air Susu Ibu (ASI), seminar Pekan Asi Sedunia 2019, pada Selasa (17/9/2019), pukul 09.00 WITA, di Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada Samarinda 

TRIBUNKALTIM.CO - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kaltim, Andi M Ishak mengungkapkan, sesuai pendataan dari 142.353 balita ada sebanyak 89.137 balita telah melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan umur.

Dari jumlah itu, ditemukan sebantak 20.641 balita stunting (Bayi pendek).

“Stunting atau bayi pendek ini merupakan fokus pemerintah saat ini. Dimaksudkan stunting ini karena ukuran tinggi dan berat badannya tidak sesuai dengan umur bayi. Ini memang harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya saat diwawancara  Tribunkaltim.co di seminar Pekan Asi Sedunia 2019, pada Selasa (17/9/2019).

Bukan hanya berat dan tinggi badan saja, dituturkan Andi, apabila persoalan ini dibiarkan berlarut-larut maka akan mengakibatkan persoalan yang lebih serius lagi.

Dijelaskan olehnya, lambat dan terganggunya pertumbuhan pada otak anak menjadi kekhawatiran sendiri oleh pemerintah. Dan persoalan stunting, harus segera diselesaikan.

“Dampaknya bisa lebih parah dari persoalan tinggi dan berat badan anak itu tidak sesuai dengan umurnya. Tapi, pertumbuhan otak anak akan terganggu. Akibatnya, setelah anak-anak kita dewasa nanti mereka tidak dapat bersaing dengan anak lainnya. Kecerdasannya renda. Tentu ini akan menjadi beban,” pungkasnya.

Kubar dan PPU jadi Lokasi Program Penurunan Stunting

Melihat angka balita stunting begitu beaar di Kaltim, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kaltim, Andi M Ishak menyatakan, kondisi Kaltim masuk pada tingkat mengkhawatirkan.

untuk itu, dibeberkan olehnya, pemerintah saat ini memiliki strategi dalam menyikapi persoalan ini. Sehingga, dijelaskan Andi, nantinya kasus stunting di Kaltim akan dapat ditekan.

“Saat melihat angka yang dikeluarkan usai pendataan, kami pun kaget melihatnya. Ternyata, potensi stunting di Kaltim ini sangat besar sekali. Dan, bisa dikatakan masuk dalam tahap mengkhawatirkan. Pemerintah pusat pun menetapkan dua kabupaten untuk dijadikan lokasi program percepatan penurunan stunting., yakni Kabupaten Panajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Kutai Barat (Kubar),” katanya.

Dijelaskannya lagi, dari 20.641 balita stunting, tidak semua balita tersebut terganggu pertumbuhan otaknya. Hanya saja, potensi besar akan terganggu pertumbuhan otaknya. Apabila, ditegaskan olehnya, pemerintah terlambat dalam menindaklanjuti program. Sehingga, melalui Strategi Nasional (Stranas), ada 8 langkah yang akan dijalankan.

“Meski demikian, bisa saya sampaikan semua data tersebut bukan berarti ada kerusakan otak pada 20.641 balita stunting. Tapi, jumlah itu masuk dalam kategori menuju terganggunya pertumbuhan otak. Seperti penentuan PPU dan Kubar. Karena data lama, di sana ditunjuk. Padahal, sekarang kasus stunting di sana sudah menurun. Tapi, ya tidak apap juga di sana dijadikan locus,” katanya.

“Salah satu stranas yang dilakukan, kita lakukan intervensi ke kabupaten maupun kota di Kaltim untuk bisa menjalankan seluruh program yang diberikan oleh pemerintah pusat. Terutama, pendataan sesuai nama dan alamat sangat oenting untuk dapat memetakan sebaran kasus stunting. Selain itu, sasaran program juga akan tepat ketika data yang disampaikan lengkap,” lanjutnya.

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved