Lily Meninggal di Malaysia, Keluarga Curiga Mulai Sulit Komunikasi Sampai Organ Tubuh Dijual

Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Ternate, Maluku Utara, Lily Wahidin (28) meninggal dunia di Malaysia pada Senin (2/9/2019) lalu

Lily Meninggal di Malaysia, Keluarga Curiga Mulai Sulit Komunikasi Sampai Organ Tubuh Dijual
TribunKaltim.Co/HO/Kompas.Com
Dua anak dari korban Lily Wahidin yang duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) berpose dengan memegang foto kedua orang tuanya di kediamannya di Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (17/09/2019) 

TRIBUNKALTIM.CO-Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Ternate, Maluku Utara, Lily Wahidin (28) meninggal dunia  di Malaysia pada Senin (2/9/2019) lalu.

Namun pihak keluarga masih menaruh curiga dengan kematian Lily karena  ditemukan sejumlah kejanggalan, mulai dari soal komunikasi, dokumen kontrak kerja hingga jahitan panjang mulai dari bawah kerongkongan hingga bawah pusat.

Sulit komunikasi

Sebelum kabar kematian istrinya, Mahrus Adam, suami Lily, mengaku sudah menyimpan firasat yang tidak baik ketika beberapa hari sebelum kematian istrinya dirinya sulit berkomunikasi dengan pihak agengsi.

Keluarga Tak Yakin TKW Lily Meninggal Karena Jatuh, Ada Jahitan Aneh dari Leher hingga Bawah Pusar

Lily Wahidin Sempat Kirim Foto Lewat WA Dokumen Kontrak Kerja, Mahrus: Itu Bukan Tandatangannya

Terakhir, katanya, dia berkomunikasi dengan istrinya pada 29 Agustus 2019, itu pun dengan menggunakan ponsel milik majikannya di Malaysia.

Komunikasi itu juga hanya berlangsung beberapa menit, setelah itu putus.

“Istri saya hanya bilang kalau dia sudah tiba di rumah majikannya. Hanya itu, langsung putus padahal saya masih ingin bicara lagi lebih banyak dengan dia,” ujar Mahrus kepada Kompas.com, Jumat (20/09/2019).

Dilansir dari Tribunnews.Com, keesokan harinya, pada 30 Agustus 2019, sekitar jam 4 sore dia menerima telepon dari nomor +60, dia sangat yakin bahwa nomor yang diawali dengan angka itu adalah dari Malaysia, dan ternyata dari pihak agengsi.

"Istri bapak sakit tapi kelihatan tidak sakit atau pura-pura dan saya sudah ambil dari rumah majikan untuk dibawa ke agensi di sana selama dua hari,” ujar Mahrus menirukan pembicaraannya.

“Saya langsung jawab, kalau memang begitu, tidak bisa lagi kerja lebih baik istri saya dipulangkan saja, terus katanya tidak bisa karena harus membayar ganti rugi sebesar Rp 30 juta.

Halaman
1234
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved