Darurat Kabut Asap

DLH Kaltara Sarankan Membuka Lahan dengan Teknologi Tanpa Membakar

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara tetap mengimbau agar masyarakat, individu, kelompok, aliansi, organisasi, instansi/lembaga

DLH Kaltara Sarankan Membuka Lahan dengan Teknologi Tanpa Membakar
Tribun Kaltim/M Arfan
Sekretaris DLH Kaltara Nurhamdi (tengah) menjadi pembicara dalam 'Respons Kaltara' di Kedai 99 Tanjung Selor, Selasa (24/9/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO - Walau intensitas kebakaran hutan dan kabut asap semakin berkurang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara tetap mengimbau agar masyarakat, individu, kelompok, aliansi, organisasi, instansi/lembaga tetap waspada terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Mengingat, iklim kering masih akan berlangsung hingga tahun 2020 mendatang.

"Selain waspada, kita juga harus peduli apabila terjadi bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan. Bahwa aktivitas kita yang menggunakan lingkungan untuk mengeksploitasi sumber daya alam, harus kita peduli akan dampak-dampaknya," sebut Nurhamdi, Sekretaris DLH Kalimantan Utara dalam 'Respons Kaltara' di Kedai 99 Tanjung Selor, Selasa (24/9/2019).

Peralatan BPBD Belum Memadai Tangani Karhutla Intensitas Besar, Sarankan Siapkan Kanal Air

Kemarahan dan Penyesalan Jokowi Soal Kebakaran Hutan dan Lahan; Harusnya Bisa Tak Sebesar Ini!

Sejumlah Perusahaan Berafiliasi Singapura dan Malaysia Penyebab Karhutla di Indonesia

Sederet Kendala yang Dihadapi Petugas untuk Padamkan Karhutla di Lokasi Ibu Kota Baru Indonesia

DLH secara khusus menekankan dan mengimbau koorporasi atau perusahaan agar menyiapkan menyiapkan mitigasi bencana kebakaran di areal konsesinya. Begitu juga dengan masyarakat.

Nurhamdi mengungkapkan, pola memulai menggarap lahan untuk pertanian dan perkebunan semestinya sudah menggunakan teknologi tanpa membakar.

"Sudah banyak teknologi pertanian yang tidak menggunakan cara bakar, yang bisa meningkatkan produksi pertanian. Kita imbau agar bisa lebih memilih cara yang memakai teknologi. Bisa berkonsultasi dengan Dinas Pertanian," sebutnya.

Kepala BMKG Stasiun Tanjung Harapan M Sulam Khilmi mengungkapkan, dua minggu ke depan cuaca kering masih akan berlangsung. Sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan masih ada.

"Tiga hari yang lalu ada hujan di Tanjung Palas, tetapi intensitas itu belum cukup untuk memadamkan titik-titik api. Prediksi kami sekurang-kurangnya pertengahan Oktober sudah ada hujan," ujarnya.

Yang perlu digarisbawahi sebutnya adalah iklim kering ekstrim tahun ini akan lebih ekstrim lagi tahun depan.

"Udara yang bertiup dari Australia ke Indonesia, belum mengandung uap air yang cukup banyak. Kelembaban udara masih sangat minimal," ujarnya.

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved