Berita Pemkab Kutai Barat

Merupakan Daerah Endemis, Dinkes Terus Berupaya Eliminasi Penyakit Kaki Gajah di Kubar

salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian Kutai Barat adalah filariasis, atau yang biasa dikenal kaki gajah.

Merupakan Daerah Endemis, Dinkes Terus Berupaya Eliminasi Penyakit Kaki Gajah di Kubar
HUMASKAB KUBAR
Asisten III etkab Kubar Ayonius membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis (kaki gajah) di gedung BP3D Perkantoran Kubar, Rabu (25/9/2019). 

SENDAWAR - Berhasilnya pembangunan daerah ditentukan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat. Untuk menghasilkan sumber daya manusia sehat, salah satunya melalui pembangunan sektor kesehatan, dimana masyarakat harus dipastikan bebas dari berbagai penyakit, termasuk penyakit kaki gajah atau biasa disebut filariasis.

Demikian dikemukakan Bupati Kubar FX. Yapan dalam sambutannya yang dibacakan Asisten III Ayonius saat membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis (kaki gajah), bertempat di gedung BP3D lantai 2 perkantoran Kubar, Rabu (25/9) pagi.

Acara dihadiri Camat dan Kepala Puskesmas se-Kubar menghadirkan narasumber dari Dinkes Provinsi Kaltim dan Dinkes Kubar. Kegiatan berlangsung selama satu hari.

"Pembangunan kesehatan tidak mungkin berhasil tanpa dukungan, peran serta dan komitmen seluruh pemangku kepentingan serta kepedulian masyarakat. Oleh karena itu, diseminasi, sosialisasi dan advokasi tentang eliminasi filariasis, perlu kita lakukan untuk menghasilkan komitmen bersama, demi keselarasan pembangunan di daerah, sebagai kerangka awal untuk menjalin kerjasama lintas sektor," kata Bupati seperti yang disampaikan Asisten II.

Sosialisasi dan Koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis diharapkan dapat mencarikan solusi mengenai upaya eliminasi filariasis (kaki gajah) di Kutai Barat, sehingga masalah filariasis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat Kutai Barat.

Bupati mengajak OPD terkait melakukan upaya preventif dengan mengidentifikasikan kasus filariasis/kaki gajah dan upaya-upaya pencegahannya. Selain itu, mengidentifikasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam rangka memutus rantai penularan penyakit filariasis/kaki gajah.

Dan, perlu menyusun langkah-langkah kegiatan dan rencana operasional dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit filariasis/kaki gajah.

Sementara Ketua Panitia dr Rafaela Wisda Fiesta Hinuq menjelaskan salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian Kutai Barat adalah filariasis, atau yang biasa dikenal kaki gajah.

Hingga saat ini masih menjadi ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, walaupun penyakit ini tidak menyebabkan kematian.

Penyakit kaki gajah bisa menyebabkan kecacatan seumur hidup, stigma sosial, hambatan psiko-sosial dan penurunan produktivitas kerja penderita, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Berdasarkan hasil survei di Kampung Merayaq Kecamatan Mook Manaar Bulant dan Kampung Gemuhan Asa Kecamatan Barong Tongkok yang dilaksanakan pada 2018 lalu, menunjukkan bahwa hasil Mikrofilaria Rate masih cukup tinggi yaitu 2,02% (dua koma nol dua persen) dari yang ditargetkan yaitu <1% (kurang dari satu persen), sehingga hasil survei ini menunjukkan bahwa Kutai Barat masih merupakan daerah endemis Filariasis / Kaki Gajah.

"Pemkab Kutai Barat melalui Dinas Kesehatan mengupayakan eliminasi penyakit kaki gajah ini, yakni pemutusan mata rantai penularan dengan jalan melakukan pemberian obat pencegahan massal penyakit kaki gajah pada Bulan Eliminasi Kaki Gajah setiap Oktober. Kegiatan pemberian obat pencegahan filariasis sudah dilaksanakan selama 7 tahun berturut-turut mulai 2011 hingga 2017," jelas Rafaela.

Selain kegiatan pengobatan massal juga dilaksanakan penanganan kasus klinis penyakit kaki gajah di setiap puskesmas yang dijumpai kasus filariasis dalam wilayah Kutai Barat. S

ebagai dasar rujukan pelaksanaan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis ini adalah Kepmenkes RI No. 1582/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) dan UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, serta Ketetapan WHO tahun 2000 tentang Kesepakatan Global Eliminasi Filariasis tahun 2020. (hms36)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved