Perumahan Jokowi di Balikpapan, Diresmikan Langsung Presiden Sampai Dilema Umbar Janji Air PDAM

Sejauh ini pihak developer merasa abai, tidak sediakan distribusi air bersih ala PDAM atau pun program pengarian mendiri berupa WTP.

Perumahan Jokowi di Balikpapan, Diresmikan Langsung Presiden Sampai Dilema Umbar Janji Air PDAM
Kolase Tribunkaltim.co
Presiden Joko Widodo meninjau perumahan Pesona Bukit Batuah, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (13/7/2017) sekitar 13.10 Wita. Waktu itu Jokowi mengenakan jaket sporty berwarna biru kuning saat menyapa warga di permukiman Pesona Bukit Batuah. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kali ini program perumahan Jokowi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur sisakan persoalan baru.

Gejolak ini satu di antaranya dirasakan warga penghuni perumahan Jokowi Pesona Bukit Batuah, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

Persoalan yang dikeluhkan para penghuni ialah soal ketersediaan air bersih, pihak developer Pesona Bukit Batuah sejak tahun 2017, belum tunaikan janjinya.

Hujan Deras, Jalanan Perumahan Jokowi Pesona Bukit Batuah Berlumpur dan Sulit Dilewati

Pagi Ini Turun Hujan Deras di Balikpapan, Warga Pesona Bukit Batuah Batu Ampar Sibuk Tadah Hujan

Warga Perumahan Jokowi Datangi Developer Pesona Bukit Batuah, Protes Pasokan Air Bersih yang Langka

Sejauh ini pihak developer merasa abai, tidak sediakan distribusi air bersih ala PDAM atau pun program pengarian mendiri berupta Water Treatment atau WTP.

Belasan warga yang mewakili warga Pesona Bukit Batuah geruduk kantor developer Pesona Bukit Batuah,Sabtu (5/10/2019).

Mereka para warga Pesona Bukit Batuah menutut kepada developer untuk segera tuntaskan janjinya, sebagaimana jargon di brosur pemasarannya, yang disebut tersedia air PDAM.

Melihat sejarah ke belakang, keberadaan perumahan Jokowi merupakan program pemerintah pusat, mendapat dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo.

Sampai-sampai, peresmian pertama kalinya perumahan Jokowi ini dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo sendiri.

Catatan Tribunkaltim.co, ini berlangsung di tahun 2017.

Waktu itu, Presiden Joko Widodo cek langsung kondisi bangunan rumah Pesona Bukit Batuah yang sudah berdiri.

Saat itu ada sang pengembang Pesona Bukit Batuah, Edi Djuwad pun ada di lokasi bersama Presiden Joko Widodo.

Edi yang juga Ketua Real Estate Indonesia ini mendengar langsung masukan dari Presiden Joko Widodo untuk diatasi tanpa tertunda. 

Saat itu Presiden Joko Widodo meyakinkan bahwa program tersebut terlah berjalan sebagaimana mestinya.

"Tepat sasaran. Dikontrol semua, kok. Penggunanya siapa, karena ini subsidi dari pemerintah. Jadi pendapatan income dicek, kerja di mana dicek, semua dicek," kata Presiden Joko Widodo.

Program tersebut tak hanya ada di Balikpapan, namun juga ada di kabupaten kota lainnya di Kalimantan Timur.

Menanggapi beberapa pengembang dan himpunan pengusaha properti yang mengeluh dengan progran tersebut, Jokowi menanggapinya enteng.

Kalau mau untung banyak, jangan bangun yang ini.

"Saya tanya developer, ya untungnya dikit tapi kalau jumlahnya banyak bisa dikalikan, gede," tutur Presiden Joko Widodo

Memang untung kecil, tapi nyatanya jadi juga, kan.

"Masa pengusaha mau bangun tapi gak untung, gak ada itu," ujar Presiden Joko Widodo.

 Sejak diresmikan di tahun 2017, hingga kini warga yang sudah terlanjur sah akad jual beli menanti adanya fasilitas PDAM.

Beberapa warga sudah bersabar lama tetapi tidak kunjung diwujudkan hingga tahun 2019.

Sebagai langkah solusi, ada warga yang membeli eceran tandon yang harganya biasa dibilang sangat mahal, per tandon bisa seharga Rp 80 ribu.

"Uang cicilannya lebih murah daripada beli arinya. Harus beli tandon, paling lima hari sudah habis, sekali isi Rp 80 ribu," ujar Ira warga penghuni Pesona Bukit Batuah di blok P.

Dirinya berharap, pihak developer jika memang tidak sanggup sediakan air PDAM ada baiknya buat WTP sendiri dengan harga yang ramah, tidak tinggi seperti tandon eceran.

"Di brosur kami dijanjikan ada air PDAM, tapi ditunggu-tunggu mana. WTP saja tidak ada, apalagi mau PDAM," tanya Ira, kepada Tribunkaltim.co

Suparno terpaksa harus menampung air hujan untuk mengurangi biaya pembelian air bersih untuk kebutuhan rumah tangganya.

"Kalau mengharapkan PDAM masih lama. Saya terus tagih sama developer untuk supaya cepat buat sambungan PDAM. Air itu utama. Kalau tidak ada air pasti kami yang disini kesusahan," ujarnya.

Dia pun tidak mau mengambil resiko menggali sumur tanah. Selain akan tambah biaya yang bisa dibilang cukup mahal, belum tentu kualitas air di bawah rumahnya itu layak pakai.

Dimaklumi, air tanah di Kota Balikpapan sangat tidak baik, kalau pun bisa keluar, warnanya kuning, paling buruknya air bercampur lumpur.

Rumah yang sudah masuk kredit.

Rumah perlu ditinggali, mengingat selama ini Suparno selalu mengkontrak rumah, keluarkan uang namun tidak bernilai investasi.

Mengambil rumah dan menempati merupakan pilihan dirinya yang paling tepat meski rumah masih terdapat kekurangannya.

"Saluran air drainse sudah tersedia. Listrik sudah berfungsi, tinggal airnya saja. Pokoknya rumah harus ditinggali. Apa pun yang terjadi, harus dijalani," tutur bapak beranak dua ini.

Antisipasinya, Suparno pun mengakali dengan menampung air hujan ke dalam wadah tandon berukuran 1.100 liter, atau kalau sedang jarang hujan, dirinya mengandalkan konsumsi air yang dibeli dari penjual air keliling.

Itu pun kalau sedang beruntung, kadang pedagang penjual air libur atau tidak berjualan susah mendapatkan air, terpaksa mencari pedagang air yang lain.

Secara hitung-hitungan dirinya harus rutin membeli air bersih keliling sebanyak 1.100 liter mengeluarkan uang sampai Rp 90 ribu per tiap minggu, bahkan bisa seminggu mengisi dua kali kalau tidak sampai turun hujan.

Di tahun 2017, Edy Juwadi, Direktur Pengembang Pesona Bukit Batuah kala itu, menegaskan, proses untuk menuju pelengkapan infrastruktur air akan berproses, tidak bisa dalam waktu singkat, tentu perlu tahapan yang harus dilewati.

“Pak Presiden Joko Widodo mengapresiasi karena rumah yang dibangun hampir 500 unit sementara permintaannya mencapai 2.000,” katanya.

Mengenai adanya keluhan soal air saat ada kunjungan Presiden Joko Widodo, dirinya menyatakan, semua masih tahap awal, akan menuju proses pembangunan yang lebih lengkap dan mantap.

Dirinya beralasan saat Presiden Joko Widodo masuk ke dalam rumah yang sudah terbangun memang belum tersambung distribusi air PDAM, padahal sudah ada 10 rumah yang di sisi lain sudah tersambung dengan PDAM.

“Kunjungannya Pak Jokowi mendadak, sementara pemasangan air kan masih dalam proses," tegas Edy kala itu. 

Karena itu, kata dia, mustahil dalam waktu sekejap, satu kali kedip mata langsung tersambung, ada aliran air PDAM Balikpapan.

”Kalau yang sudah terpasang pipa PDAM bisa dilihat langsung di lokasi, ada meterannya di depan rumah,” promo Edy.

(Tribunkaltim.co/BudiSusilo)

Penulis: Budi Susilo
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved