Media Sosial

Kisah Pendengung di Indonesia Gunakan Media Sosial Kampanyekan Junjungannya, Dibayar Jutaan

Mulai saat itulah pengguna media sosial di Indonesia bertumbuh cepat dan segera menjadi bagian keseharian warga.

Kisah Pendengung di Indonesia Gunakan Media Sosial Kampanyekan Junjungannya, Dibayar Jutaan
ilustrasi.net
Media Sosial 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Di era banjir informasi, pembentukan opini publik menjadi suatu kebutuhan.

Menjawab kebutuhan inilah muncul para pendengung pesan atau buzzer dan pemberi pengaruh (influencer) di ranah sosial media.

Afiliasi mereka pun sangat cair, seperti derasnya arus informasi.

Dua Pemalak di Lampu Merah Ditangkap, Berawal Saat Aksinya Viral di Media Sosial

Berawal dari Media Sosial, Dua Pembunuh Polisi Ditangkap Setelah Buron 8 Tahun

Guru SD Negeri 027 Tenggarong Seberang Ini Buat Gawai di dalam Kelas dari Penjahat jadi Sahabat

Fenomena bisnis pendengung dan pemberi pengaruh di Indonesia diketahui mulai marak sejak awal dekade 2010.

Mulai saat itulah pengguna media sosial di Indonesia bertumbuh cepat dan segera menjadi bagian keseharian warga.

Awalnya, media sosial ini digunakan untuk memasarkan atau meningkatkan paparan informasi suatu produk atau jasa.

Laporan Center for Innovation Policy and Governance (CIPG) menyebutkan, memasuki Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, bisnis pendengung mulai masuk ke dunia politik.

Tim sukses pasangan calon bergerilya mengampanyekan junjungannya di media sosial agar sukses mendulang suara terbanyak di bilik suara.

Salah satu pendengung yang dibayar adalah Alex (bukan nama sebenarnya).

Yang menjadi pasukan siber gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI 2017.

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved