Prihatin Penusukan Wiranto, Direktur LPI Sebut Ada Keteledoran di Masa Lalu dan Singgung Era SBY

Penikaman kepada Wiranto oleh anggota JAD bukan perkara sederhana, partai politik diminta ikut terjun melawan tindak terorisme

HO/kompas.com/ninjaencyclopedia
Peristiwa Menkopolhukam Wiranto ditusuk dan kunai 

TRIBUNKALTIM.CO - Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens merasa prihatin dan marah terhadap kejadian yang menimpa Wiranto.

Menurut dia penikaman kepada Wiranto oleh anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) bukan perkara sederhana.

Oleh karena itu Boni Hargens meminta partai politik untuk ikut terjun melawan tindakan terorisme.

Usai Jenguk Wiranto, Zulkifli Hasan Beberkan Kondisi Menkopolhukam

8 Orang ini Harus Berurusan dengan Hukum Gara-gara Status Mereka saat Wiranto Ditusuk

Beginilah Isi Postingan Facebook Istri Bekas Dandim Kendari Soal Menkopolhukam Wiranto Ditusuk

Sederet Fakta 3 Anggota TNI Dicopot Lantaran Istrinya Nyinyir Kasus Menkopolhukam Wiranto Ditusuk

"Saya lebih mengkritisi peran partai politik dalam melawan terorisme daripada melihat tragedi yang menimpa Pak Wiranto ini dari aspek keamanan murni," ujar Boni di Jakarta, Sabtu (12/10/2019).

Boni Hargens mengatakan partai-partai yang masih mengandalkan simbol agama sebagai alat mobilisasi politik harus didorong untuk memiliki komitmen yang lebih besar dalam melawan terorisme.

Boni menilai selama ini beberapa partai yang konsisten dan tegas melawan terorisme hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Golkar.

"Partai lain harus lebih serius. Bagaimana caranya? Mulai dari rekrutmen calon kepala daerah atau calon wakil rakyat, harus ada screening ideologi supaya yang terpapar radikalisme tidak ikut masuk menguasai ruang kekuasaan," ucap Boni.

Menko Polhukam Wiranto (kedua kiri) diserang orang tak dikenal dalam kunjungannya di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). Wiranto menderita luka dua tusukan di bagian perut dan polisi mengamankan dua tersangka suami istri Syahril dan Fitri Andriana yang diduga terpapar jaringan ISIS.
Menko Polhukam Wiranto (kedua kiri) diserang orang tak dikenal dalam kunjungannya di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). Wiranto menderita luka dua tusukan di bagian perut dan polisi mengamankan dua tersangka suami istri Syahril dan Fitri Andriana yang diduga terpapar jaringan ISIS. ((ANTARA FOTO/DOK. POLRES PANDEGLA))

Dia mencontohkan bagaimana di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonono (SBY) banyak kader radikal yang dibiarkan masuk Pemda, DPRD, BUMN, birokrasi dan lembaga negara lainnya.

Menurut Boni apa yang terjadi sekarang adalah konsekuensi dari keteledoran di masa lalu.

Boni tidak bermaksud mencari siapa yang salah dalam peristiwa penyerangan terhadap Wiranto.

Halaman
1234
Editor: Doan Pardede
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved