Hari Ini Dalam Sejarah

Ledakkan Mc Donald House Singapura Usman Harun Dieksekusi, Diangkat jadi Pahlawan dan Jadi Nama KRI

Hari Ini dalam Sejarah: 2 Anggota KKO Dieksekusi Mati di Singapura setelah meledakkan Mc Donald House di Singapura pada 10 Maret 1968

Ledakkan Mc Donald House Singapura Usman Harun Dieksekusi, Diangkat jadi Pahlawan dan Jadi Nama KRI
(www.tnial.mil.id)
Usman Janatin dan Harun Said. 

Harian Kompas, 16 Oktober 1968 mengabarkan, Pemerintah Singapura menolak permintaan Presiden

Soeharto untuk meringankan hukuman terhadap dua anggota KKO tersebut.

Sebelumnya, Presiden Soeharto telah menyampaikan surat kepada Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada

tanggal 10 Oktober 1968 atau sehari setelah Menteri Luar Negeri Singapura, S Rajaratnam mengirimkan

surat jawaban terhadap permintaan dari Menlu Adam Malik.

Saat itu, di Indonesia, penolakan Pemerintah Singapura dianggap sebagai tindakan yang tidak bersahabat.

Setelah menerima penolakan, Presiden Soeharto kembali mengirimkan utusannya, yaitu Brigjen

Tjokropanolo untuk menegaskan kembali isi surat terdahulu dan meminta agar hukuman mati ditunda.

Tak hanya Pemerintah Singapura, pengadilan federal Malaysia (saat itu Singapura masih bergabung

dengan Malaysia) juga telah menolak permintaan Pemerintah RI pada tanggal 5 Oktober 1966.

Hal ini kemudian membuat kedua anggota KKO itu dieksekusi mati di tiang gantungan pada 17 Oktober

1968 atau selang tiga hari setelah peristiwa ledakan di Orchard Road.

Disambut Sebagai Pahlawan

Sebelum dieksekusi, Usman saat itu memberikan permintaan  terakhir yang disampaikan oleh Kuasa

Usaha al. RI di Singapura, Letkol Ramly. Dalam suratnya,

Usman meminta agar jasadnya dibawa pulang ke Indonesia.

Selain itu, ia meminta agar keluarganya diberi tahu

Harian Kompas, 18 Oktober 1968 menyebutkan, setelah dihukum gantung, jenazah kedua anggota KKO

tersebut diterbangkan ke Tanah Air pada hari yang sama. Tak hanya itu, kedatangan kenazah juga

disambut oleh masyarakat yang memenuhi bandara Kemayoran. Segera setelah berada di Indonesia,

Pemerintah dan menaikkan pangkatnya menjadi Kopral Anumerta dan Sersan Anumerta. Pimpinan KKO

juga mengusulkan agar keduanya dianugerahi Bintang Sakti serta diangkat menjadi pahlawan nasional.

Kemudian setelah meninap semalam di aula Hankam, jenazah Usman dan Harun dimakamkan di Taman

Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer.

Hubungan RI-Singapura

Peristiwa tersebut tentunya memengaruhi hubungan kedua negara.

Setelah beberapa tahun berselang, PM Lee Kuan Yew menaburkan bunga di makam Usman dan Harun.

Arsip Harian Kompas, 28 Mei 1973 tersebut menyebutkan, PM Lee saat itu tak hanya menaburkan bunga di atas makam keduanya.

Taburan bunga itu berlangsung sesaat setelah Lee menaburkan bunga di makam Pahlawan Revolusi.

Meski berlangsung singkat, namun peristiwa ini merupakan titik bersejarah dalam perkembangan

hubungan RI dan Singapura pasca-eksekusi mati Usman dan Harun, delapan tahun sebelumnya.

Lee dalam bukunya berjudul From Third World to First: The Singapore Story:1965-2000, seperti dikutip dari

pemberitaan Kompas.com 24 Maret 2014 menyatakan, ketika itu Dubes Singapura untuk Indonesia,

Lee Khoon Choy, yang menyarankan untuk menutup episode kelam itu dengan sebuah bahasa tubuh

diplomatik yang bersahabat.

Lee Khon Choy akhirnya menyarankan PM Lee untuk meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun.

KRI Usman Harun akan meriahkan HUT TNI ke-69 di Pangkalan Komando Armatim (Koarmatim)
KRI Usman Harun akan meriahkan HUT TNI ke-69 di Pangkalan Komando Armatim (Koarmatim) ((dani prabowo/kompas.com))

Hubungan kedua negara kembali memanas saat Pemerintah RI berencana memberi nama salah satu kapal

perang baru buatan Inggris dengan nama KRI Usman-Harun.

Pemerintah Singapura menganggap, pemberian nama itu akan melukai rakyat Singapura terutama mereka

yang menjadi korban peledakan bom. Namun protes yang dilayangkan lewat Menteri Luar Negeri K

Shanmugam ini hanya dianggap sebagai suatu bentuk keprihatinan.

"Kenapa harus seperti itu (diganti)? Kita cukup mencatat keprihatinan dari Pemerintah Singapura.

Saya rasa demikian," ucap Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa seperti dikutip dari pemberitaan

Kompas.com, 6 Februari 2014.

Namun karena tidak diindahkan, Pemerintah Singapura melalui Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen

mengatakan negaranya melarang kapal perang Indonesia itu memasuki teritorinya, termasuk pelabuhan

dan pusat pangkalan angkatan laut. Meski dilarang untuk memasuki perairan Singapura, namun Panglima

TNI Jenderal Moeldoko memastikan tak akan mengubah nama KRI Usman-Harun.

 Penyamaran Berantakan di Kapal Begama
Tiba di Singapura pada 9 Maret 1965 pagi. Djanatin alias Oesman bin Haji Mochammad Ali, Tohir alias

Harun bin Said dan Gani bin Arup, menyebar. Mereka memetakan lokasi sabotase yang memiliki dampak

psikologis besar bagi masyarakat Singapura.

OPERASI pemetaan Singapura berlangsung hingga malam hari.

Mereka lalu berkumpul di tempat rahasia untuk memetakan pengamatan lokasi sabotase.

Hotel Mac Donald yang berada di Orchard Road menjadi bidikan. Hotel ini berada di kota Singapura.

Namun, pemetaan lokasi dirasa kurang memuaskan. Mereka bersepakat untuk kembali ke daerah sasaran

untuk melakukan penelitian secara mendalam.

Bahan peledak seberat 12,5 kilogram telah disiapkan. Oesman dan kedua anggota lalu menyusuri hotel

tersebut pada malam hari. Mereka tidak langsung menaruh bom di hotel. Situasi hotel yang ramai

membuat mereka menahan diri. Setelah berangsur-angsur sepi, bom lalu diletakkan.

Sekitar pukul 03.07 pagi, bom meledak di Mac Donald. Bom ini membuat kalang kabut penghuni hotel dan toko.

Mereka berhamburan, dan berusaha melarikan diri.

Peristiwa ini menyebabkan tiga orang tewas dan 33 orang mengalami luka.

Catatan Drs. Murgiyanto dalam buku bertajuk Usman dan Harun Prajurit, yang dicetak Pustaka Bahari

menyebut, ledakan bom menyebabkan 20 toko rusak berat, dan 24 kendaraan sedan hancur.

Pejabat Sementara Menteri Sumber Daya Manusia Singapura Tan Chuan-Jin mengenang peristiwa itu

dalam akun Facebook miliknya, pada Jumat 8 Februari 2014 lalu. Ia menyebut, peristiwa 10 Maret 1965

nyaris menewaskan sang ayah.

"Saya mengetahui peristiwa itu sejak kecil, karena ayah saya bekerja di Metal Box dan kantornya berada di

MacDonald House. Ayah mengatakan dirinya tidak pernah mengambil cuti, tetapi pada hari itu dirinya

tidak masuk kantor. Ketika mendengar berita tersebut, ayah terguncang sekaligus lega karena bom

meledak di tempat di mana dirinya biasa berada," tulis Tan.

Murgiyanto membeberkan, usai bom meledak, Usman dan dua anggotanya berada di tengah- tengah hiruk

pikuk warga Singapura yang mencoba meloloskan diri dari dampak ledakan bom.

"Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelan kegelapan malam untuk

menghindar dari kecurigaan," tulis Murgiyanto.

Mereka lalu berkumpul di lokasi persembunyian, dan mengatur cara untuk kembali ke pangkalan.

Penjagaan ketat yang dilakukan pihak keamanan Singapura membuat mereka mengatur siasat untuk

berpencar. Hasilnya, Gani berpisah jalan dengan Usman dan Harun. Sementara Usman membuntuti Harun

dari belakang lantaran tidak mengetahui seluk beluk Singapura.

"Untuk menghindari kecurigaan, mereka berjalan berjauhan," tulis Murgiyanto.

Upaya Usman dan Harun menuju pelabuhan Singapura pun sukses.

Mereka berdua menaiki kapal dagang Begama yang akan menuju Bangkok. Mereka lalu menyamar sebagai pelayan dapur.

Namun, penyamaran mereka berantakan pada 12 Maret 1965. Kapten kapal Begama mengetahui

keberadaan mereka. Kapten kapal lalu mengusir Usman dan Harun. Bahkan, bila Usman dan Harun tidak

menggubrisnya, kapten kapal melaporkan keduanya ke pihak polisi.

13 Maret 1965 mereka keluar dari kapal dagang Begama. Ketika sedang mencari kapal lainnya, mereka

melihat motorboat tengah dikendarai seorang Cina. Tanpa pikir panjang, keduanya merebut motorboat itu

dan sejurus kemudian memacunya ke Pulau Sambu. Nahas, motorboat yang mereka naiki mogok di

tengah laut. Hingga akhirnya, patroli Singapura menemukan mereka pada pukul 09.00. Keduanya lalu dibawa ke Singapura sebagai tawanan. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved