Minggu, 19 April 2026

Tragedi Bintaro 1987, Masinis Selamat tapi Dipenjara hingga Istrinya Minta Cerai, Ini Kisahnya

Tragedi Bintaro 1987, Nasib Masinis Kini dan Analisis Kecelakaan Kereta Api yang Tewaskan 156 Orang

Editor: Amalia Husnul A
KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE
Tragedi Bintaro 1987, kecelakaan kereta api terburuk yang menewaskan 156 orang 

TRIBUNKALTIM.CO - Tragedi Bintaro 1987, Nasib Masinis Kini dan Analisis Kecelakaan Kereta Api yang Tewaskan 156 Orang

Dalam sejarah Indonesia, ada kecelakaan kereta api tragis yang melibatkan dua kereta api, peristiwa itu dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987.  

Peristiwa Tragedi Bintaro 1987 adalah musibah terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia hingga menjadi perhatian dunia.

Kecelakaan Tragedi Bintaro 1987 terjadi di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada tanggal 19 Oktober 1987.

Seperti dilansir dari dokumentasi pemberitaan Harian Kompas, 20 Oktober 1987 menyebutkan, saat itu, kereta api Patas No 220 dengan rangkaian tujuh gerbong dari arah Tanah Abang menuju ke arah Merak bertabrakan dengan KA No 225 dari Rangkasbitung ke Tanah Abang.

Kecelakaan kedua kereta api tersebut terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara Sekolah Menengah Atas Negeri 86 Bintaro.

Mengenang Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987 dan Foto-foto, Saat Masinis Kereta Tak Bisa Lihat Semboyan

Tepatnya berada di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan "S", berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara.

Dalam Tragedi Bintaro 1987 tersebut tercatat 156 orang dan 300 luka-luka.

Nasib Masinis

Diketahui, masinis KA 225, Slamet Suradio berhasil selamat dari tragedi memilukan tersebut.

Saat itu, Slamet Suradio dituding memberangkatkan sendiri kereta yang dioperasikannya.

Padahal menurutnya, ia hanya mengikuti instruksi dari PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api).

"Yang seharusnya saya di Sudimara bersilangan dengan KA 220 dibatalkan oleh PPKA yang sedang dinas," kata Slamet dikutip dari YouTube Kisah Tanah Jawa (11/10/2019).

"Berarti saya nunggu di jalur 3. Karena belum ada perintah berangkat, saya tetap menunggu," lanjutnya.

"Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri," ungkap lelaki renta itu.

7 Fakta Tragedi Bintaro yang Tewaskan 156 Orang, Penumpang Tertawa Lihat Petugas Kerja Kereta

Setelah menunggu beberapa saat, Slamet pun akhirnya memberangkatkan kereta sesuai instruksi.

Beberapa saat perjalanan, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan karena tidak ada sinyal apapun yang Slamet terima.

Namun alangkah terkejutnya ia ketika dari arah berlawanan, tampak KA 220 dari stasiun Kebayoran.

"Saya terus narik rem bahaya, ternyata gagal, tidak bisa berhenti, tetep terjadi tabrakan," papar Slamet.

Dalam kondisi terluka parah, Slamet kemudian dibawa oleh seorang perempuan ke rumah sakit dengan mobilnya.

Meski wajahnya bersimbah darah, Slamet masih mengantongi PTP di sakunya.

PTP tersebut jadi satu-satunya bukti Slamet bahwa dirinya tidak bersalah.

Bercak darah di PTP itu membuat hakim percaya bahwa Slamet tidak loncat dari lokomotifnya.

Penderitaan Slamet tak berhenti sampai di situ.

Slamet akhirnya harus menjalani hukuman penjara selama kurang lebih 3 tahun 3 bulan.

Karena hal itu, istrinya pun meninggalkannya dan minta cerai.

Usai keluar dari penjara, Slamet pun harus menelan kenyataan pahit lantaran istrinya sudah direbut rekan sesama masinis.

Namun Slamet berusaha ikhlas atas keadaan tersebut.

Saat ini ia hanya menuntut hak uang pensiunannyaa dikeluarkan seperti pegawai lainnya.

Demi menyambung hidup, Slamet kini bekerja sebagai pedagang asongan.

Analisis Kecelakaan

Dilansir dari Kompas.com, Tragedi Bintaro 1987 bermula dari kesalahan kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara.

Kereta api pertama dari Rangkasbitung melalui Sudimara menuju Palmerah berangkat pukul 06.11.

Saat itu Stasiun Sudimara yang punya 3 jalur uang sudah penuh dengan KA.

Namun, komunikasi yang buruk di KA Sudimara, membuat KA 220 yang saat itu berada di Kebayoran Baru juga ikut diberangkatkan, KA 220 kala itu mengarah ke Sudimara.

Kondisi itu memaksa juru langsir di Sudimara segera memindahkan lokomotif KA 225 menuju ke jalur tiga.

Akan tetapi, ramainya jalur kereta, membuat masinis tidak bisa melihat semboyan dari juru langsir.

Bahkan, KA 225 yang pada awalnya harus berpindah rel tiba-tiba berangkat.

Upaya yang dilakukan juru langsir untuk menghentikan KA 225 sia-sia.

Akhirnya, kereta api yang menarik tujuh gerbong itu harus berhadapan dengan KAA 220 yang meluncur dengan kecepatan 20 kilometer per jam.

Adapun saat itu KA 225V berjalan dengan kecepatan 30 kilometer per jam.

Tak hanya kelalaian, banyaknya korban yang jatuh saat itu juga disebabkan kondisi gerbong kereta yang dipenuhi penumpang.

KA 225 memang dipenuhi penumpang di luar kapasitasnya. Pada setiap gerbong, tersedia 64 kursi rotan dan saat itu dipenuhi oleh para penumpang.

Namun, kapasitas yang disediakan tak cukup untuk menampung banyaknya orang yang ingin menempuh perjalanan yang sama.

Akhirnya, atap gerbong dan ruang kosong di kiri-kanan lokomotif pun juga dijejali penumpang sebagai tempat tangkringan sementara.

Lokasi kecelakaan yang berada di tikungan juga membuat kedua masinis tidak dapat saling melihat.

Ketika menyadari ada kereta lain di jalur yang sama, sudah terlambat bagi masinis untuk menghentikan laju kereta karena jarak antara keduanya sudah terlalu dekat.

Selain itu, pihak petugas palang pintu kereta juga tak mengetahui simbol genta yang menyebabkan kedua kereta itu berhadapan di rel yang sama.

(Tribunnews.com/Anugerah Tesa Aulia/Kompas.com/Rosiana Haryanti)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Peringati Tragedi Bintaro 1987: Ratusan Orang Tewas,Kabar Terkini Masinis hingga Analisis Kecelakaan, https://www.tribunnews.com/nasional/2019/10/19/peringati-tragedi-bintaro-1987-ratusan-orang-tewaskabar-terkini-masinis-hingga-analisis-kecelakaan?page=all.
Penulis: Anugerah Tesa Aulia
Editor: Muhammad Nursina Rasyidin

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved