MICEB

Pembicara dari PT Tiga Negara di Mulawarman International Conference on Economic & Business

Ini merupakan kegiatan rutin akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, dan ini konferensi internasional yang kedua kalinya.

Pembicara dari PT Tiga Negara di Mulawarman International Conference on Economic & Business
TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HARDI P
Konferensi internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul diselenggarakan di ballroom Hotel Bumi Senyiur Samarinda, 5-6 November 2019. Menghadirkan pembicara dari perguruan tinggi luar negeri dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (Unmul), kembali menyelenggarakan konferensi internasional. Kali ini, konferensi menghadirkan empat pembicara utama dan tiga di antaranya dari perguruan tinggi (PT) luar negeri.

Para pembicara tersebut yakni Prof Wen-Shai Hung (Universitas Providence, Taiwan), Prof DR Hj Eny Rochaida (Universitas Mulawarman), DR Jati Kasuma Ali (Universitas Teknologi Mara, Malaysia), dan DR Mohd Hairul Azrin bin Haji Besar (Universitas Brunei Darussalam).

Konferensi internasional atau Mulawarman International Conference on Economic & Business (MICEB) yang kedua ini diselenggarakan di ballroom Hotel Bumi Senyiur Samarinda, Selasa dan Rabu 5-6 November 2019. Tema yang diusung yakni "Penguatan Industri Kreatif, Bisnis Inklusif dan Ekonomi Hijau untuk mencapai Pembangunan Berkelanjutan di Era 4.0."

Kepada Tribunkaltim.co, Ketua Panitia DR Wulan IR Sari menjelaskan, konferensi ini merupakan tuntutan profesi dosen untuk lebih maju apalagi Unmul telah meraih Akreditasi A. "Ini merupakan kegiatan rutin akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul. Ini konferensi internasional kedua," tutur Wulan yang didampingi PIC kegiatan ini, DR Ariesta Heksarini.

Tema konferensi, menurut Ariesta, berbeda setiap tahun. Tahun ini difokuskan pada penguatan ekonomi. Tema ini disesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini. Di perguruan tinggi, selain pendidikan adapula penelitian dan lainnya. "Penulisan ilmiah ini sebagai bukti nyata dan penelitian itu sendiri, terlepas nanti akan dipakai atau dikontribusi untuk pembangunan. Jadi pemateri menyampaikan hasil riset mereka masing-masing sesuai spesialisasinya," beber Ariesta.

Kemarin, Prof Wen-Shai Hung dari Taiwan mempresentasi hasil risetnya tentang "Konfusius dan Ekonomi Hijau," Prof Eny Rochaida dari Unmul memaparkan tentang "Faktor Penentu Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Timur," DR Jati Kusuma Ali dari Malaysia mengulas tentang "Transformasi Digital dan Inovasi adalah Kebutuhan Bisnis", serta DR DR Mohd Hairul Azrinbin Haji Besar mengemukakan tentang "Sustainability Accounting- Arewe ready for IR4.0?".

Usai presentasi, Prof Enny mengungkapkan, persoalan kemiskinan di Kaltim dibeberkannya di forum ini dengan harapan adanya perubahan signifikan ke depan baik dalam kebijakan pemerintah maupun reaksi masyarakat. "Target kita tahun 2018 lalu kemiskinan turun 5 persen di RPJM. Namun hingga kini tidak sampai. Dikaitkan dengan acara ini terutama sustanaible development, yang pertama betul tidak ada kemiskinan lagi dan akan dicapai pada 2030 mendatang. Kemudian, saat orang berbicara tentang revolusi industri 4.0, kita masih berhadapan dengan kemiskinan. Ini kontradiktif," ujarnya.

Menurut Eny, sebenarnya pemerintah daerah telah memiliki banyak program untuk mengentaskan kemiskinan. Namun faktanya belum menyentuh persoalan masyarakat secara langsung. Selain itu, migrasi pendudukan ke Kaltim selama ini cukup banyak, terbanyak dari sektor konstruksi. Solusinya, kata Eny, pemerintah kabupaten dan kota harus lebih fokus pada penanganan langsung ke masyarakat. Misalnya di Kabupaten Kukar. "Ini kabupaten terkaya namun penduduk miskinnya juga terbanyak. Nah, program pengentasan kemiskinan harus lebih menyentuh masyarakat. Selain itu, masyarakat harus proaktif memotivasi diri keluar dari kemiskinan selama ini. Kesempatan berusaha di masyarakat harus diawasi dan dievaluasi," tandasnya.

Selain itu, antara dunia pendidikan dengan dunia kerja atau industri harus terbangun keterpaduan atau kemitraan secara kontinyu. "Lembaga pendidikan jangan hanya sekadar meluluskan orang. Namun harus menghasilkan lulusan yang diserap pasar kerja bahkan menciptakan dunia kerja," tambahnya.

Selain luar negeri dan Unmul, konferensi ini juga dihadiri para dosen atau pemakalah dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Antara lain dari Universitas Riau Kepulauan, Universitas Kristen Maranatha Bandung, Universitas Sahid, STIE YKPN School of Business Yogyakarta, Universitas Jambi, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Balikpapan, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Tadulako, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya dan lainnya.(*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved