Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya & Kemandirian Masyarakat

Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Boyolali: Pendukung Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya, dan Kemandirian Masyarakat

Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya & Kemandirian Masyarakat
HO
Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya & Kemandirian Masyarakat 

Oleh:  Widhyasmaramurti  (Dosen Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia) dan Nur Basuki Rachmanto (Dosen Universitas Indonesia)

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah semakin menjamurnya usaha pendidikan yang lebih mendukung pendidikan formal, maka pendidikan non-formal yang bertujuan untuk merekam segala yang terkait tradisi dan hubungannya dengan budaya alam nusantara dalam sebuah wadah edukasi tampak menjadi sebuah anomali.

Hal yang berkaitan dengan tradisi, umumnya lebih mudah dikenali melalui obyek wisata.

Terlebih di era milenial seperti sekarang ini, di mana budaya asing mudah diterima secara masif melalui gawai yang tidak lepas dari genggaman, membuat budaya nusantara perlahan-lahan dianggap bernilai kuno, kurang gaul, dan semakin tidak digemari.

Saat ini banyak anak muda yang lebih hafal nama-nama tokoh drakor (sebutan untuk drama Korea) ketimbang nama-nama tokoh dalam pewayangan maupun ketoprak.

Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya & Kemandirian Masyarakat
Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Turisme Edukasi, Pelestarian Budaya & Kemandirian Masyarakat (HO)

Banyak sekali anak-anak muda yang fasih menirukan tarian barat atau tarian Gangnam daripada gerak lembut namun lugas dari tarian Jawa yang adiluhung.

Dampak tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa generasi kita di masa depan tidak lagi memahami kearifan lokal bangsanya sendiri.

Walaupun di saat yang sama, karawitan dan tarian Jawa justru mulai berkembang dan digemari di negara-negara maju seperti, Rusia, Inggris, hingga Amerika dengan munculnya grup-grup karawitan di negara tersebut.

Oleh sebab itu, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia membangun Sekolah Budaya Jawa yang dinamakan Pawiyatan Budi Rahayu.

Sekolah Budaya Jawa dibentuk sebagai turisme edukasi di mana pengajaran dilakukan sebagai bagian dari pengemasan destinasi wisata.

Halaman
1234
Editor: Rita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved