Putra Asal Calon Ibu Kota Baru Ini Mimpi jadi Penari Go Internasional Dari Minder Hingga Kiprah Kini

Putra Asal Calon Ibu Kota Baru Ini Mimpi jadi Penari Go Internasional Dari Minder Hingga Kiprah Kini

Putra Asal Calon Ibu Kota Baru Ini Mimpi jadi Penari Go Internasional Dari Minder Hingga Kiprah Kini
Tribunkaltim.co/HO Mulyanto
Putra Asal Calon Ibu Kota Baru Ini Mimpi jadi Penari Go Internasional, Dari Minder Hingga Kiprah Kini 

TRIBUNKALTIM.CO, PENAJAM - Stereotip jenis kelamin yang berkembang di masyarakat sering kali membatasi ruang gerak seseorang.

Contohnya Mulyanto, lelaki yang berkelana dari panggung tari satu ke panggung tari lain, sempat merasa minder menyalurkan bakat menarinya.

Lelaki asal Kabupaten Penajam Paser Utara ini merupakan mahasiswa semester akhir di Universitas Mulawarman.

Kepada Tribunkaltim.co, anak ke 3 dari 5 bersaudara ini, mengisahkan suka duka menjadi penari pria yang percaya diri dan profesional.

Berawal dari lomba yang diselenggarakan prodi kampusnya tahun 2016, mengharuskan tiap kelas mempersembahkan satu jenis tarian. Mahasiswa yang saat ini juga merupakan staf dan guru honorer di salah satu sekolah dasar di Samarinda, juga pelatih tari di MAN 1 dan SMAN 5 Samarinda, memutuskan ikut bersama beberapa orang rekan sejawat yang semuanya perempuan.

"Walaupun saat itu saya cowok sendiri, Alhamdulillah kami juara II. Kemudian, ada kawan yang memberi tahu bahwa ada sanggar membutuhkan penari cewek cowok untuk pembukaan MTQ di Kutai Kartanegara, disitu saya mulai ikut," kisahnya, Minggu (1/12/2019).

Berawal dari iseng mengikuti lomba itulah, kesungguhan menggeluti dunia tari menghasilkan prestasi-prestasi yang ia dan timnya kantongi. Mulai dari juara I Festival Tari Borneo 2016 mewakili kampus, juara I tari kreasi Pedalaman pada Festival Mahakam 2017, ikut serta dalam Parade Tari Nusantara 4 Penghargaan Terbaik yang merupakan acara bergengsi impian panggung para penari Indonesia, hingga mewakili Universitas Mulawarman ke Bintalu, Malaysia dalam Festival Tari Borneo 2018.

"Alhamdulillah, pada Festival Mahakam 2019, membawakan tarian Beq Ingen Kancet, saya dan tim berhasil memperoleh juara II," ujar pria kelahiran 25 tahun lalu ini.

Keinginan menari, sudah dirasakan Mulyanto sejak kecil. Saat sekolah dasar (SD), sering diadakan perlombaan menari, namun tak ia ikuti karena merasa minder akibat diejek oleh kawan-kawannya. Hal tersebut berlangsung hingga menyelesaikan bangku SMA.

Konsep penari lelaki sering didefinisikan sebagai banci. Mulyanto kecil, tidak ingin menghadapi tekanan seperti itu. Seiring pertambahan usia dan pengalaman, kritik tersebut malah ia jadikan motivasi.

Halaman
12
Penulis: Heriani AM
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved