Reuni Akbar 212 Kembali Digelar, Ini Bedanya Era Gubernur Anies dan Ahok, Satu Soal Kehadiran Jokowi

Reuni Akbar 212 kembali digelar, ada beberapa perbedaan mencolok aksi di era Gubernur Anies Baswedan dan Ahok BTP, terutama soal kehadiran Jokowi

Reuni Akbar 212 Kembali Digelar, Ini Bedanya Era Gubernur Anies dan Ahok, Satu Soal Kehadiran Jokowi
Kolase Kompas.com dan Tribunnews.com
PA 212 Rencanakan Reuni Akbar, Inilah 6 Perbedaan Aksi 212 di Era Gubernur Ahok BTP dan Anies Baswedan 

Kehadiran dielu-elukan oleh massa aksi. Mereka memanggil-manggil nama Prabowo sambil mencoba mendekatinya untuk berfoto. Kehadiran Prabowo dijaga ketat oleh pihak keamanan dari panitia.

Ia hadir bersama Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Sebelumnya Anies Baswedan juga sudah menghadiri acara terlebih dahulu.

Saat tiba di panggung utama, lagu kebangsaan Indonesia Raya langsung berkumandang.

Acara Reuni Akbar 212 berlangsung daei pukul 03.00 - 12.00 WIB. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh salah satunya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

2. Zaman Ahok diguyur hujan, zaman Anies terang benderang.

Pada aksi Bela Islam 2 Desember 2016 atau era Gubernur Ahok yang bertepatan dengan hari Jumat, Jakarta diguyur hujan.

Meski diguyur hujan, peserta Aksi Bela Islam tetap bertahan dan mengikuti salat Jumat dengan khatib Habib Rizieq Shihab.

Salat Jumat tidak hanya digelar di kawasan Monas, tetapi juga di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Jenderal Sudirman, Jalan Budi Kemuliaan, dan sejumlah kawasan lain.

Hujan gerimis mengguyur wilayah Jakarta Pusat, saat jutaan muslim menunaikan ibadah salat Jumat di lapangan Monas dan sekitarnya siang tadi, Jumat (2/12/2016).

Namun tak satu pun peserta salat Jumat yang bergeser dari tempatnya untuk menghindari hujan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang bersama Presiden Joko Widodo ikut menunaikan salat Jumat di lapangan Monas, memuji sikap dan semangat para peserta salat Jumat tetap teguh menunaikan shalatnya sampai selesai.

 "Saya menghargai semangatnya. Hujan deras tidak ada yang goyang, tidak ada yang pulang, tidak ada yang lari berteduh, tidak ada. Semua tetap semangat, luar biasa semangat itu," ujar Jusuf Kalla kepada wartawan di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat.

Ibadah salat Jumat itu dilakukan dalam rangka aksi "Bela Islam Jilid III" yang menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk segera ditahan terkait dugaan penistaan agama.

Aksi yang dipusatkan di lapangan Monas itu, diperkirakan diikuti jutaan orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Aksi hari ini berakhir dengan damai tanpa ada gesekan antara peserta aksi dengan petugas kemanan, seperti yang terjadi pada aksi "Bela Islam Jilid II" pada 4 November lalu. Wakil Presiden RI  Jusuf Kalla mengapresiasi hal tersebut. "Ya buktinya tetap damai, Alhamdulillah, Insya Allah," ujarnya.

Tetapi, pada Reuni Akbar 2012 tahun 2018 kemarin atau era Gubernur Anies, Jakarta terang benderang. Sejak pagi, matahari sudah memancarkan sinarnya menemani aksi Reuni Akbar 212. Sementara itu, berdasarkan informasi dari BMKG, cuaca di Jabodetabek pada 2 Desember 2012 sebenarnya berpotensi turun hujan.

Tetapi, hujan pada 2/12/2018 tidak turun di sekitar kawasan Monas atau tempat-tempat peserta Reuni Akbar 212

3. Zaman Ahok diikuti penangkapan aktivis, zaman Anies tidak ada penangkapan

Pada aksi Bela Islam 2 Desember 2016, polisi menangkap sedikitnya 8 orang aktivis. Penangkapan dilakukan antara lain di sebuah hotel berbintang di Jalan MH Thamrin dan beberapa tempat lain.

Para aktivis pro demokrasi itu dituduh akan melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli mengatakan, pengkapan terhadap para aktivis oleh reserse Polda Metro Jaya itu adalah hasil penyelidikan beberapa hari sebelumnya.

“Jadi ini bukan proses 1-2 hari, ini proses lama, lewat penelusuran, pemantauan, monitoring oleh tim sudah dalam kurun waktu 3-4 minggu terakhir," kata Boy. 

Aktivis yang ditangkap 2 Desember 2016 antara lain Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, dan Ahmad Dhani Prasetyo.

Tetapi, pada Reuni Akbar 212 kali ini, tidak ada atau paling tidak belum ada aktivis yang ditangkap. Sejauh ini, polisi pun mengapresiasi Reuni Akbar 212 yang berjalan damai meski dihadiri umat dalam jumlah yang sangat banyak.

Sementara itu, Wartakotalive.com memberitakan, Rachmawati Soekarnoputri dan Ratna Sarumpaet diamankan polisi dari tempat berbeda, Jumat (2/11/2016) pagi. Mereka bersama sejumlah tokoh lainnya dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok untuk dimintai keterangan.

Hal itu dikatakan Kordinator Advokat Cinta Tanah Air, Habiburokhman, yang mendampingi Ratna Sarumpaet melalui pesan singkat aplikasi smartphone kepada Warta Kota, Jumat (2/11/2016). "Sekarang kami di Mako Brimob," kata Habiburokhman.

Menurutnya Ratna diamankan polisi dari Hotel Sari Pan Pacific, sekira pukul 07.00 WIB. "Dari Hotel Sari Pan Pacific, ibu Ratna dibawa ke Mako Brimob. Saya mendampinginya," kata Habiburokhman. Ia mengatakan dari penyidik yang menjemput, Ratna diamankan dengan tuduhan hendak melakukan makar.

"Ratna Sarumpaet ditangkap di Hotel Sari Pan Pacific dengan tuduhan makar," kata Habiburokhman.

Menurut Habiburokhman, selain Ratna ada pula Rachmawati yang ikut diamankan polisi beserta sejumlah tokoh dan aktivis lain. "Ibu Rachma juga dibawa ke Mako Brimob ini," katanya.

4. Zaman Ahok dipimpin Rizieq Shihab, zaman Anies Rizieq Shihab di Arab Saudi

Pada Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 atau era Gubernur Ahok, Rizieq Shihab tampil memimpin umat. Rizieq Shihab juga memberikan khutbah Jumat. Bahkan setelah Aksi Bela Islam selesai di Monas, Rizieq Shihab mengendarai mobil terbuka berkeliling menemui umat hingga ke kawasan Bundaran HI.

Rizieq Shihab juga aktif membakar semangat peserta aksi untuk menuntut Gubernur Ahok yang dianggap telah menistakan agama Islam dan Al Quran.

Tetapi, pada Reuni Akbar 2012 pada 2 Desember 2018 atau era Gubernur Anies Baswedan, Rizieq Shihab tidak bisa memimpin secara langsung. Rizieq Shihab juga tidak bisa hadir karena ‘dalam pengungsian’ di Arab Saudi. Sejak ditetapkan sebagai tersangka sejumlah kasus, Rizieq Shihab memilih tinggal di Arab Saudi.

5. Zaman Ahok aksi umat digelar di daerah, zaman Anies digelar di Jakarta saja

Hujan turun saat Aksi Bela Islam Jilid III digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, 2 Desember 2016. (TRIBUN TIMUR/ALFIAN)
Unjuk rasa atau aksi Bela Islam 212 yang mendesak penangkapan Gubernur DKI  Ahok juga dilakukan di beberapa daerah di Indonesia.

Beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, dan di sejumlah kota di Kalimantan serta Sulawesi menggelar Aksi Bela Islam 212.

Aksi Bela Islam 212 saat itu juga bercampur dengan aksi buruh. Tetapi, pada era Gubernur Anies, Aksi Bela Islam atau Reuni Akbar 212 hanya digelar di Jakarta, tepatnya di kawasan Monas dan jalan protokol di Jakarta.

Meskipun hanya digelar di Jakarta, peserta Reuni Akbar 212 juga berdatangan dari sejumlah daerah, seperti dari Sumatera Barat, Aceh, Riau, Kepri, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sejumlah daerah lain.

6. Zaman Ahok minta adili Ahok, zaman Anies sekadar reuni.

Aksi Bela Islam pada era Ahok fokus utamanya adalah minta penangkapan adan pengadilan terhadap Gubernur Ahok. Pernyataan Ahok yang bilang umat Islam jangan mau dibohongi dengan Surat Al Maidah ayat 51 dianggap menistakan Islam dan Al Quran.

Tetapi, pada Reuni Akbar 212 kali ini, tidak ada tuntutan utama yang disampaikan. Umat hanya berdoa dan diiring dengan ceramah dari sejumlah pembicara serta dihadiri sejumlah tokoh politik. Gubernur DKI Anies Baswedan pun hadir dan menyampaikan pidato, utamanya berisi sejumlah kegiatan yang telah dilakukan setelah dirinya menjadi gubernur.

Umat berunjuk rasa pada 2 Desember 2016 karena menganggap ucapan Ahok menistakan agama dan kitab suci umat Islam. Terkait ucapan Ahok tersebut, Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta (saat itu), Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan seharusnya sebagai seorang pemimpin, Ahok dapat bijaksana menyampaikan pendapat.

Perkataan Ahok yang kerap kali menyinggung sebijaknya dapat dirubah menjadi lebih baik. Sebab, katanya banyak warga Jakarta yang tersinggung dengan pernyataannya terkait Surat Al Maidah ayat 51 yang disampaikan di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Padahal seharusnya, pemimpin itu dapat menjadi panutan dan mempersatukan rakyat. "Mayoritas masyarakat Jakarta mengatakan kekecewaan terhadap pernyataan pak Basuki, yang semestinya sebagai seorang pemimpin dia harus hati-hati dalam mengucapkan hal yang sensitif yang dapat menyinggung orang lain," ungkapnya kepada warga di Perumahan IKIP Duren Sawit, Jakarta Timur pada Kamis (1/12) seperti ditulis Wartakotalive.com.

"Seorang pemimpin itu harus bisa mempersatukan, seorang pemimpin itu harus bisa mendidik. Karena, warga Jakarta ini sebenarnya sangat kondusif, warga Jakarta ini sangat mendukung pemimpinnya, selama pemimpin itu bisa menjadi suatu panutan," ujarnya.

• Alumni PA 212 Tak Masalah Ahok jadi Komut Pertamina, Beri Pesan Penting, Juga Singgung Masa Lalunya

• Tuan Rumah, Anies Baswedan Dijadwalkan Lakukan Ini di Reuni PA 212 Monas, Ada Soal Penistaan Agama

• Anak Buah Anies Baswedan Masih Pikir-pikir Berikan Izin Reuni PA 212 di Monas, Doakan Rizieq Shihab

• Pulangnya Rizieq Shihab Bukan Kewajiban Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, PA 212 tak Masalah?

Langganan berita pilihan tribunkaltim.co di WhatsApp klik di sini >> https://bit.ly/2OrEkMy

Langganan Berita Pilihan Tribun Kaltim di WhatsApp

(Tribunnews.com/Warta Kota)

Editor: Doan Pardede
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved