Berpotensi Kalahkan Filipina, Budidaya Bandeng di Tarakan Masih Mengandalkan Tambak Tradisional

Berpotensi Kalahkan Filipina, Budidaya Bandeng di Tarakan Masih Mengandalkan Tambak Tradisional,

Berpotensi Kalahkan Filipina, Budidaya Bandeng di Tarakan Masih Mengandalkan Tambak Tradisional
TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER D
KOMODITAS EKSPOR - 15 Ribu benih ikan Bandeng dilepas di tambak tradisional seluas 1 Ha di kawasan pertambakan, Kelurahan Gunung Lingkas, Kecamatan Tarakan Timur oleh Walikota Tarakan, Khairul, serta Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), Hendik Sudaryanto, serta para petambak, Jumat (13/12/2019). 

Maskur, Ketua Koperasi Rezeki Hidayah Serumpun menjelaskan, tambak yang dikelola oleh koperasi merupakan salah satu tambak tertua di Tarakan. Tambak tersebut telah digunakan sejak tahun 1980 an hingga saat ini.

Dulunya, pihaknya lebih fokus pada budi daya kepiting Soka dan udang Windu, sedangkan ikan Bandeng hanya sebagai sampingan saja. Ketika produksi udang Windu dan kepiting Soka terus mengalami penurunan, pihaknya melihat ada potensi lain pada ikan Bandeng, hal itu juga sejalan dengan program BI yang mendukung penuh budi daya ikan Bandeng.

"Selama ini Bandeng hanya jadi sampingan saja, tidak menjadi budi daya utama kami. Dan, kita pun ingin ciptakan kemandirian pada Bandeng ini, lalu BI suport BI kami dengan program-programnya. Sekarang Bandeng kita jadikan budi daya unggulan kami," tuturnya kepada Tribunkaltim.co, Jumat (13/12/2019).

"BI fasilitasi kami dengan mendatangkan benih super untuk ekspor, tidak lagi kami pakai kualitas nomoer dua, serta melatih kami mulai dari proses produksi hingga penjualan, dari hulu ke hilirnya," sambungnya.

Guna menghasilkan ikan Bandeng yang berkualitas, pihaknya pun tidak langsung menebar benih ke tambak, melainkan terlebih dahulu disehatkan kembali.

Pihaknya juga terbantu dengan minimnya biaya yang dikeluarkan untuk pakan ikan, pasalnya sejauh ini pihaknya masih mengandalkan pakan yang berasal dari alam.

"Untuk cara panen terus kita tingkatkan, agar ikan yang kita hasilnya juga berkualitas sehingga dapat diterima di pasaran," tuturnya.

Nantinya, ikan-ikan tersebut dapat dipanen dalam jangka waktu tertentu, misalnya untuk kebutuhan konsumsi dapat dipanen pada usia 5-6 bulan, sedangkan untuk di Pindang (olahan ikan) dapat dipanen saat usia 3-4 bulan.

Sementara itu, harga Bandeng untuk kebutuhan ekspor mencapai Rp 20 Ribu per Kg untuk ukuran besar, tapi normalnya dijual seharga Rp 16.500 - Rp 18 Ribu per Kg.

"Dengan segala dukungan yang ada, bukan tidak mungkin kelak Bandeng kita dapat bersaing secara global, bahkan bisa saja menggeser Filipina sebagai pemasok Bandeng terbesar," harapnya.

Halaman
1234
Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved