Dari Samarinda Jelajah UK 1

Alami Kejutan tak Terlupakan di Depan Buckingham Palace saat Asyik Memotret

Usai mendapatkan hasil foto yang cukup bagus, saya tersadar dengan sesuatu. Tas ransel saya sedikit lebih ringan.Saya bergegas menjauh dari kerumunan.

Alami Kejutan tak Terlupakan di Depan Buckingham Palace saat Asyik Memotret
HO_Inni Indarpuri
Inni Indarpuri (berjilbab) di London Bridge dengan Sungai Thames yang indah. 

Penulis: Inni Indarpuri, Kasubbag Publikasi Biro Humas Setprov Kalimantan Timur

TRIBUNKALTIM.CO - "London, here I am!" Begitu kata yang terucap saat pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Heathrow, salah satu bandara tersibuk di Eropa. Ini perjalanan yang menyenangkan, berkesan, sekaligus mengejutkan di London dari Inni Indarpuri, Kasubbag Publikasi Biro Humas Setprov Kalimantan Timur.

Suasana menyambut Natal terasa kental saat tiba di Bandara Heathrow, 1 Desember 2019. Pohon Natal putih bertabur kerlap lampu biru menyambut penumpang tak jauh dari pintu luar terminal. Membuat beberapa pengunjung tak melewatkan kesempatan berswafoto, berlatar pohon natal di Bandara Heathrow.

London, kota yang sudah lama saya impikan dalam make a wish, yang saya tulis setiap penutup tahun. Saat berkesempatan berkeliling Eropa pada 2012, meskipun saat itu saya telah mengantongi visa Schengen (dipergunakan untuk bertandang ke mayoritas di negeri-negeri Eropa), bagi negara Inggris visa itu tak 'berlaku', dibutuhkan visa tersendiri. Baru kali ini niat berkunjung ke Negeri Ratu Elisabeth II kesampaian.

Negara ini istimewa. Dalam pelajaran sejarah yang saya ingat, guru saya pernah berkata, negara-negara yang umumnya bekas jajahan bangsa Inggris biasanya lebih maju ketimbang negara-negara bekas jajahan bangsa Belanda dan Spanyol. Contohnya Amerika, Kanada, Selandia Baru, Singapura bahkan Malaysia. Inggris meninggalkan pengaruh kuat pada negara eks jajahannya, selain masyarakatnya lumayan fasih berbahasa Inggris, Inggris mewariskan sistem hukum, pemerintahan dan budaya yang cukup maju.

Selain itu, saya sepakat jika Inggris adalah negara yang kuat. Inggris berkali-kali hancur lebur diterpa berbagai bencana. Namun, ia berhasil pulih dan kokoh berdiri hingga kini. Negara ini tetap diperhitungkan sebagai kekuatan besar yang berpengaruh dibidang ekonomi, budaya, militer, sains, dan politik.

Bencana yang saya maksud, sebut saja wabah pes atau yang lebih dikenal black death. Pada 1665 pada saat Raja Charles II berkuasa, puluhan ribu warga London mati mengenaskan. Didahului dengan demam, sakit kepala disertai peradangan dan muntah hebat. Kulit pun melepuh dan menghitam, sebelum akhirnya tewas.

Kesedihan Inggris berlanjut dengan kebakaran besar di London yang memusnahkan sebagian besar wilayah kota. Sekitar 100.000 orang kehilangan tempat tinggal. Lalu kemudian perang dunia II yang dikatakan perang paling destruktif sepanjang sejarah. Perang ini harus ditebus dengan harga yang mahal, termasuk ribuan nyawa melayang.

Sebagaimana turis yang umumnya melancong ke London, sejak awal yang diniatkan untuk dilihat di London tentu saja beberapa icon yang paling terkenal di London. Sebut saja Big Ben (pusat waktu yang menjadi rujukan GMT 0), London Bridge dengan sungai Thames, London Eye - salah satu ferris wheel tertinggi di dunia dan dari sini bisa terlihat Tower Bridge, Gedung Parlemen, dan tentu saja masih di tengah Kota London, ada Westminter Abbey, gereja tempat pemberkatan pernikahan pangeran William dan Kate Middleton.

Meskipun sempat sedikit kecewa karena Big Ben ternyata tak bisa dilihat utuh, sebagian besar ditutup terpal karena sedang direnovasi, secara keseluruhan Kota London dengan segala hiruk pikuknya benar-benar menyuguhkan pengalaman yang menakjubkan.

Halaman
12
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved