News Video

NEWS VIDEO Ekspor Kepiting Asal Tarakan Kaltara Anjlok Akibat Wabah Virus Corona

Wabah virus corona di China berdampak langsung pada sektor ekspor kepiting dari Tarakan, Kalimantan Utara.

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Wabah virus corona di China berdampak langsung pada sektor ekspor kepiting dari Tarakan, Kalimantan Utara.

Para pemilik usaha pengiriman kepiting utamanya kepiting bakau mengalami penurunan drastis dalam sepekan terakhir.

Salah satu pengusaha atau pengumpul kepiting, Rusman, yang ditemui di Karang Anyar menyebut bahwa penurunan ini sangat drastis.

"Kalau normalnya itu biasa perhari 50 sampai 60 koli, di Tarakan ini kami ada tiga orang pengumpul yang bantu nelayan tapi sekarang tinggal 30 koli sisanya di tampung," ucapnya, Kamis (30/1/2020).

Pengiriman kepiting ini tersendak sebab mayoritas negara tujuan pengiriman yakni ke negara China melalui Malaysia.

Dengan membludaknya jumlah kepiting yang tertampung, harganya mengalami penurunan drastis.

"Besar sekali turunnya, lima hari lalu itu masih di harga Rp 340 ribu untuk kepiting bertelur sekarang tinggal Rp 70 ribu perkilo," ungkap Rusman.

Selain harga yang anjlok para pengumpul juga mengalami kerugian lainnya, seperti banyaknya kepiting yang mati akibat tak bisa terkirim.

"Namanya kita pengumpul kan bantu nelayan jadi kalau ada nelayan yang jual kita ambil tapi ini kondisinya bos tidak bisa kirim jadi banyak tersimpan, banyak yang mati juga, kita bisa rugi Rp 20 juta perhari," ucapnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kaltara, Nur Hasan, yang dikonfirmasi mengatakan secara keseluruhan kondisi ini diakibatkan anjloknya perekonomian di China.

Daya beli pun menurun ditambah lagi beberapa lokasi di China telah terisolir.

Sementara itu pengiriman kepiting dari Kaltara negara tujuannya 70 persen ke China.

"Total itu di sini (Kaltara) ada 133 pengusaha atau pos pembelian perharinya normal itu bisa mengirim 7 ton ke China tapi sekarang turun drastis," paparnya.

Nur Hasan menambahkan bahwa yang paling terdampak atas kondisi China saat ini yakni pengiriman hasil tangkapan yang masih hidup dan yang masih segar.

"Itu seperti lobster, kepiting bakau karena masih hidup kan dan tangkapan yang fresh juga seperti ikan bawal itu turun drastis semua permintaannya," tutupnya.(*)

Editor: Djohan Nur
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved