Pertemuan di Balikpapan, Terungkap Morahajat Pasien Disinyalir Membuat BPJS Kesehatan Defisit

BPJS tidak mau memberikan rujukan, namun sebetulnya beberapa penyakit bisa ditangani di pelayanan primer atau PPK I.

Pertemuan di Balikpapan, Terungkap Morahajat Pasien Disinyalir Membuat BPJS Kesehatan Defisit
Tribunkaltim.co/Mitha Aulia
Pertemuan Tim Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI dalam rangka pengawasan atas dampak kenaikan iuran BPJS Kesehatan ke Provinsi Kaltim di kantor Walikota Balikpapan, Kamis (30/1/2020). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diakibatkan karena adanya defisit angka biaya kesehatan yang membengkak.

Diketahui, yang menjadi salah satu faktor dari penyebab adanya defisit anggaran BPJS adalah disinyalirnya Morahajat yang banyak diinginkan oleh pasien.

Morahajat atau yang lebih dikenal dengan istilah Fraud tersebut merupakan keinginan dari peserta untuk mendapat pelayanan lebih dengan melakukan manipulasi.

Hal itu disampaikan Maya A Rusadi selaku Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Kantor Pusat di kegiatan kunjungan Komisi IX DPR RI ke pemerintah Kalimantan Timur, di kantor Walikota Balikpapan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur pada Kamis (30/1/2020).

Baca Juga:

 Curhat 3 Desainer Balikpapan Terkait Tantangan Fashion Lokal Seiring Ibu Kota Baru di Kaltim

 Presiden Jokowi Inginkan Tahun 2024 Pindah Semua, Draf RUU Ibu Kota Baru Masuk Babak DPR

 Alibaba Cloud Bakal Ikut Berperan dalam Pembangunan Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan Timur

 Ibu Kota Baru Indonesia, Jokowi Ingin Bak London New York Masdar City Konsep Metropolitan Smart City

Dalam kesempatannya Maya mengatakan untuk mengatasi hal ini pihaknya telah mengusulkan untuk diadakan iur BPJS bagi penyakit yang diinginkan oleh peserta.

"Adanya morahajat ini membuat kami memberikan usulan untuk menurunkan defisit dengan adanya iur biaya bagi penyakit yang memang menjadi keinginan peserta," ujar Maya, Kamis (30/1/20).

Morahajat yang dimaksudkan seperti adanya sakit yang tidak ada, namun keberadaannya diada-adakan oleh peserta.

Dicontohkan misalnya pegal karena duduk yang tidak standart, namun hal itu membuat pasien meminta klinik untuk dirujuk fisioterapi.

Baca Juga:

 Jepang Lirik Investasi di Ibu Kota Baru Kalimantan, Bangun Listrik Tenaga Air, Tawarkan Harga Murah

 Tatap Ibu Kota Baru, Borneo Bay City Plaza Balikpapan Bakal Bangun Taman Besar, Target Rampung 2021

Halaman
12
Penulis: Miftah Aulia Anggraini
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved