Dilema Pemulangan WNI Eks ISIS

RENCANA pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS oleh pemerintah telah menjadi kontroversi dalam ranah publik. Tak sedikit yang memberikan pen

Dilema Pemulangan WNI Eks ISIS
ist
Adrian 

RENCANA pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS oleh pemerintah telah menjadi kontroversi dalam ranah publik. Tak sedikit yang memberikan penjelasan dan argumentasi, mulai dari masyarakat biasa, akademisi, politisi sampai dengan lembaga pemerintahan.

Penjelasan dan argumentasi yang diberikan oleh berbagai pihak beragam macam. Ada yang memandang berdasarkan sisi kemanusiaan dan ada yang memandang berdasarkan sisi keamanan. Statement yang diajukan oleh beberapa pihak seolah membenturkan antara masalah kemanusiaan dan keamanan.

Pemerintah seolah disuguhkan untuk memilih antara kemanusiaan dan keamanan, yang mana sejatinya keduanya merupakan suatu yang sama pentingnya. Hal ini telah membuat pemerintah merasa dilema dan berada pada posisi yang serba salah.

Ketika pemerintah memilih dari sisi kemanusiaan, pasti akan dianggap mengabaikan sisi keamanan. Begitupun sebaliknya, apabila pemerintah memilih dari sisi keamanan tentu dianggap mengabaikan sisi kemanusiaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memulangkan WNI eks ISIS akan menjadi ancaman bagi keamanan manusia (human security) dan keamanan negara (state security). Oleh karena itu, pemerintah harus ekstra hati-hati dalam mengambil tindakan dan membuat suatu kebijakan.

Haruskah Dipulangkan?
Mengutip pada berita yang diterbitkan oleh idtoday pada tanggal 6 Februari 2020, seorang anggota mantan teroris jaringan Al Qaeda, Muhammad Sofyan Tsauri, mengingatkan pemerintah dan masyarakat Indonesia agar hati-hati karena mereka bisa saja mengulangi perbuatannya.

Dia mengatakan mereka bisa berbohong demi kepentingan mereka sendiri untuk pulang ke Indonesia. Selain itu Sofyan juga mengatakan kadang mereka berpurapura sadar, mereka memanfaatkan itu agar bisa pulang padahal kepalanya telah merencanakan yang tidak-tidak.

Peringatan ini tentu tidak boleh dikesampingkan, akan tetapi justru harus benar-benar menjadi pertimbangan pemerintah. Hal ini dikarenakan Sofyan sendiri telah mengalami dan tau persis bagaimana karakter dan sifat dari seorang yang telah tergabung ke dalam organisasi teroris.

Mereka tidak akan sepenuhnya bisa sadar dalam jangka waktu dekat dan lebih besar kemungkinannya untuk mereka mengulangi perbuatannya kembali, apalagi jumlah WNI eks ISIS yang akan dipulangkan mencapai 600 orang.

Selain itu kita dapat berkiblat pada dua orang anggota teroris yang pernah dipulangkan ke Indonesia. Dua orang tersebut ialah Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Makassar, Sulawesi Selatan.

Namun keduanya kembali berulah, pada awal 27 Januari 2019, dua orang ini telah melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katolik, Pulau Jolo Filipina yang menewaskan 22 orang dan 100 orang luka-luka.

Halaman
123
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved