Breaking News:

Komunikasi Efektif dengan Bahasa Ibu

SUDUT pandang anak dan orangtua acapkali berbeda. Tak pelak, menghasilkan kesimpulan yang berseberangan. Sudut pandang yang berbeda apabila diiringi

IST
Komunikasi Efektif dengan Bahasa Ibu 

SUDUT pandang anak dan orangtua acapkali berbeda. Tak pelak, menghasilkan kesimpulan yang berseberangan. Sudut pandang yang berbeda apabila diiringi komunikasi yang kurang tepat juga dapat menjadi jurang keharmonisan hubungan orang tua dan anak.

Lantas, bagaimana komunikasi melalui bahasa yang seyogyanya diterapkan di keluarga?
Septiana Murdiani, praktisi pendidikan, parenting, dan Bumi Manusia Consulting telah banyak menorehkan karya indah berupa tulisan di buku. Salah satunya buku berjudul "Bahasa Bunda, Bahasa Cinta".

Isi buku tersebut, dibeberkan oleh Dewi KH saat parenting Samba (Sekolah Alam Balikpapan). Pembahasan Bahasa Ibu dibagi atas tiga kategori. Bahasa Ibu 1 hingga 3. Masing-masing mempunyai rumus pendalaman materi.

Bahasa Ibu 1 rumusannya tentang cinta yang terpahami. Hasil penerapan rumusan Bahasan Ibu 1, yaitu bahasa cinta yang dipahami oleh kedua belah pihak (orangtua dengan anak, suami dengan istri, anak dengan orang dewasa).

Memenuhi kebutuhan cinta kasih, menumbuhkan rasa dan keyakinan anak bahwa ia benar-benar diterima, disayangi, dihargai, dan dicintai, meningkatkan akhlak baik dan peningkatan kecerdasan emosi yang signifikan, dan orangtua dengan anak terhubung oleh kasih sayang dan bahagia.
Dalam ilmu fisika, dikenal istilah aksireaksi. Hukum 3 Newton membicarakan bagaimana reaksi timbul setelah adanya aksi. Begitu pula dengan komunikasi sebagai bentuk reaksi atas suatu aksi. Baik yang disukai atau tidak, positif atau negatif.

Reaksi tersebut muncul tidak terlepas dari kondisi amigdala. Saat emosi positif, amigdala aktif (berpendar). Pun sebaliknya. Ini sesuai fungsi dari amigdala sendiri. Amigdala yang bentuknya seperti kacang merupakan bagian dari otak. Jumlah amigdala ada dua. Terletak kurang lebih 1 inci di sebelah dalam telinga. Bagian atas amigdala akan aktif atau berpendar ketika emosi positif. Pun sebaliknya.

Apakah ada kaitan otak dengan reaksi? Sejatinya, otak terdiri atas tiga bagian utama, yaitu otak reptil, mamalia, dan primata. Ketiganya saling menyelimuti. Mengapa disebut otak reptil? Karena ditemukan juga di hewan reptil. Sehingga otak reptil bisa disebut juga otak instink.
Otak reptil berfungsi di luar kesadaran untuk kemampuan bertahan hidup. Jadi, otak reptil mencakup naluriah, refleks, mengatur pernapasan, penekanan, dan denyut jantung. Otak mamalia berkaitan dengan emosi dan sosialisasi.

Sistem atau otak limbik, nama lain otak mamalia. Fungsinya juga di luar kesadaran. Contohnya ketika gugup atau takut, jantung akan degdegan dan saat jatuh cinta terjadi pelepasan hormonhormon tertentu. Bagian otak mamalia ini berhubungan dengan tanggung jawab, rasa keindahan, etika, dan moral.

Otak primata atau neo kortek merupakan bagian otak yang paling besar daripada otak reptil dan mamalia. Berbeda dengan kedua otak lainnya, otak primata bekerja dengan sadar. Fungsinya sebagai tempat logika, berpikir, dan penalaran. Otak primata mengatur, mengintegrasikan, dan berbicara tentang perasaan.

Perpaduan naluri, emosi, dan pikiran yang baik akan menghasilkan kecerdasan emosi. Lalu, bagaimana cara agar reaksi yang timbul bukan semata hasil dari otak reptil? Steven Covey mengenalkan istilah proaktif yang merupakan kemampuan manusia untuk memilih tanggapan apa yang akan diberikan oleh suatu hal yang terjadi, bukan semata-mata reaksi yang reaktif dari otak reptil.

Halaman
12
Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved