Berita Pemkab Kutai Barat

10 Sekolah di Kutai Barat Diusulkan Jadi Sekolah Ramah Anak

Theresia menuturkan, sosialisasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa SRA bagian penting dan tidak terpisahkan

10 Sekolah di Kutai Barat Diusulkan Jadi Sekolah Ramah Anak
HUMASKAB KUBAR
Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kutai Barat Theresia pada pembukaan Sosialisasi dan Advokasi Sekolah Ramah Anak (SRA) di ruang pertemuan DP2KBP3A, Jumat pekan kedua Pebruari 2020. 

SENDAWAR - Semua sekolah di Kutai Barat wajib menjadi sekolah ramah anak. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kutai Barat Theresia pada pembukaan Sosialisasi dan Advokasi Sekolah Ramah Anak (SRA) di ruang pertemuan DP2KBP3A, Jumat lalu.

Theresia menuturkan, sosialisasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa SRA bagian penting dan tidak terpisahkan dalam perkembangan Kubar menuju Kabupaten yang Layak Anak.

Kegiatan sosialisasi tersebut juga menghadirkan narasumber Adenany dari DKP3A Provinsi Kaltim dan Sumadi, Fasilitator Kabupaten Layak Anak (KLA) Provinsi. Peserta dari sekolah-sekolah percontohan.

Theresia juga memaparkan dalam usaha mewujudkan SRA perlu didukung berbagai pihak antara lain keluarga dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak.

"Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. Kebiasaan anak memiliki kencenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal," kata Theresia.

Kepala Dinas Pendidikan Kubar Silvanus Ngampun menuturkan untuk awal Disdik bersama DP2KBP3A menunjuk 10 sekolah sebagai percontohan SRA.

Sebetulnya semua sekolah di Kubar harus ramah anak. SRA ini sejalan dengan program Menteri Pendidikan yakni memerdekan belajar, dimana siswa dan guru betul-betul merasa nyaman belajar serta mengajar disekolah. Tidak ada siswa yang saling pukul, termasuk guru tidak boleh menyakiti muridnya atau memaki dengan kata-kata kasar.

"Saat ini banyak kita dengar kasus murid/siswa berani memukul gurunya, itu semua karena karakter yang buruk, oleh karena itu dengan sekolah ramah anak ini kita harapkan mampu memperbaiki karakter murud-murid. Selanjutnya pendidikan karakter mulai 2020 harus betul-betul dijalankan disemua sekolah, hal ini tentu sejalan dengan program SRA," terang Kadisdik.

Bagi sekolah yang ditunjuk menjadi percontohan SRA, diharapkan bisa menjalin hubungan komunikasi dan kerja sama yang baik dengan para orang tua, karena sekolah tidak akan mampu menciptakan sekolah ramah anak tanpa dibantu oleh masyarakat dan pemerintah.

Kepala SDK Barong Tongkok Drs Colvinus menanggapi terkait program sekolah ramak anak, pihaknya sudah memper siapakan diri sejak jauh-jauh hari. Namun belum ada pemahaman yang lebih mendalam terkait SRA sehingga dengan adanya sosialiasi dan Advokasi ini kita bisa semakin memahami SRA.

Secara khusus Colvinus juga berharap adanya kerjasama karena suksesnya program SRA, tentu tidak bisa dilakukan oleh sekolah sendiri.

Oleh karenanya diperlukan kerjasama Dinas Pendidikan, serta dukungan dari para orang tua sangat diperlukan, karena penerapan harus dimulai dari keluarga yang ramah anak, baru program di sekolah bisa berhasil, sekali lagi dukungan dari orang tua dan pemerintah sangat penting.(hms10)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved