Menutup "Jalan Tikus" Pintu Masuk Narkoba

PENYELUNDUPAN narkotika jenis sabu dari Tawau, Malaysia ke Indonesia melalui jalur perbatasan Kalimantan Utara seakan tak ada habisnya. Jumlah narkoba

Tribunkaltim.co/fachmi rachman
Kapolda Rilis Penangkapan Sabu 10 Kg 

PENYELUNDUPAN narkotika jenis sabu dari Tawau, Malaysia ke Indonesia melalui jalur perbatasan Kalimantan Utara seakan tak ada habisnya. Jumlah narkoba yang diselundup lewat "jalan tikus" ilegal di perbatasan pun tak sedikit. Data yang terungkap di media, sabu yang diselundupkan rata-rata di atas 1 kilogram.

Pengungkapan terbesar, pada 5 Oktober 2019 lalu, tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN), BNNP Kaltim, Kanwil Dirjen Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur, Polda Kaltim, dan TNI berhasil menggagalkan penyelundupan sabu seberat 38 kilogram di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Barang haram yang nilainya mencapai Rp 38 miliar tersebut diselundupkan dari Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia masuk lewat Kalimantan Utara menuju Kalimantan Timur. Rutenya dari Tawau‑Nunukan‑Tarakan‑Tanjung Selor‑Berau‑Samarinda.

Tidak lama kemudian, awal 2020, Ditresnarkoba Polda Kaltim juga berhasil mengamankan narkotika jenis sabu seberat 10 Kg. Sabu yang dikemas dalam plastik hitam dan disimpan dalam koper pakaian tersebut dibawa pelaku dari Tawau yang akan dikirim ke wilayah Sulawesi melalui Kota Samarinda.

Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia memang rawan menjadi jalur penyelundupan narkoba. Gembong bandar narkoba jaringan internasional, tidak lagi mengirim barang lewat jalur udara, namun justru memilih jalur "tikus" yang dianggap aman dari pemantauan aparat keamanan.

Beruntung, aparat keamanan jaga di perbatasan, mulai Satpol Airud, Tim Satgas Perbatasan, BNN, dan Bea Cukai terus aktif mendeteksi jalur-jalur "tikus", termasuk pelabuhan ilegal di wilayah perbatasan Kaltara.

Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Muktiono kepada Tribun Kaltim, menegaskan tidak ada ampun bagi tersangka yang nekat terlibat dalam kegiatan transaksi maupun pemakai narkotika. HAL ini semakin membuktikan keseriusan kiprah Kapolda memberantas rantai jaringan perdagangan narkoba di Kaltim.
"Saya jelas dengan tegas mengoptimalkan kegiatan operasional dari Direktorat Narkoba dan Satuan Narkoba tingkat Polresta/Polres. Saya terus genjot, bahwa jangan ada main‑main terkait dengan narkoba ini," ucap Kapolda Irjen Pol Muktiono saat wawancara eksklusif dengan wartawan Tribun Kaltim, akhir Januari lalu.
Jika ada pelaku, pemakai, apalagi pengedar narkoba tertangkap makan akan ditindak tegas. Seperti di Samarinda, ada yang ditembak mati, itu karena melawan petugas.

Dampak narkoba sangat mengkhawatirkan, karena merusak generasi muda.
Kapolda mengajak masyarakat dan seluruh stakeholder bersama-sama menerangi narkoba. Karena tidak bisa polisi sendiri, harus bersama masyarakat. Terutama dari lingkup kecil, yakni keluarga.

Harus ada pendidikan dan pemahaman bagaimana menghindari narkoba, mencegah narkoba masuk ke rumah, baik bagi para orangtua, maupun anaknya, atau pun di sekitar keluarga.

'Framming' yang Salah
Tapi mengapa barang haram itu bisa berkembang, menurut Kapolda Irjen Pol Muktiono, bahwa memang mereka (gembong narkoba) menganggap hukum Indonesia di mata para mafia masih tidak terlalu berat. Saat mereka dipenjara, mereka juga masih punya peluang bisa melakukan bisnis transaksi. Modus mereka selalu berkembang, tidak sama seperti yang kita tahu, berkembang dengan berbagai cara.

Halaman
123
Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved