Tren Kasus Perceraian, Ancaman Keutuhan Keluarga dan Bangsa

SANGAT memprihatinkan kita tren kasus perceraian sepanjang tahun. Angka perceraian semakin menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Benteng terakh

IST
Tren Kasus Perceraian, Ancaman Keutuhan Keluarga dan Bangsa 

SANGAT memprihatinkan kita tren kasus perceraian sepanjang tahun. Angka perceraian semakin menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Benteng terakhir bagi keluarga muslim ini pun kini mulai mengikis menyisakan persoalan baru yang tak bertepi.

Betapa tidak, nyaris setengah pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia cerai sepanjang 2019. Dari jumlah data yang ada, mayoritas perceraian terjadi atas gugatan istri.
Tren perceraian pada 2018, data perceraian di Indonesia mencapai 408.202 kasus, meningkat 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab terbesar perceraian pada 2018 adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus dengan 183.085 kasus.

Faktor ekonomi menempati urutan kedua sebanyak 110.909 kasus. Sementara masalah lainnya adalah suami/istri pergi (17,55%), KDRT (2,15%), dan mabuk (0,85%).
Sedangkan dari Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019 yang dikutip detikcom, Jumat (28/2/2020), perceraian tersebar di dua pengadilan yaitu Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama untuk menceraikan pasangan muslim, sedangkan Pengadilan Negeri menceraikan pasangan nonmuslim.

Data Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutus perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Sedangkan di Pengadilan Agama 347.234 perceraian berawal dari gugatan istri. Peningkatan angka perceraian ini hampir terjadi merata di seluruh daerah negeri ini.

Sejatinya setiap pasangan yang telah menikah pasti mendambakan keluarganya mencapai kebahagiaan, sakinah mawaddah warahmah. Akan tetapi, tidak sedikit bahtera rumah tangga itu kandas karena terpaan badai rumah tangga yang tak kunjung reda.

Gagal mencapai apa yang dicita-citakan, sebuah pernikahan langgeng bahagia, gagal menjadikan keluarganya dan rumahnya adalah syurganya. Upaya perdamaian antara suami istri juga tidak membuahkan hasil. Akhirnya perceraianlah yang diambil sebagai solusinya.

Adapun dampak yang kemudian akan muncul pada kasus darurat perceraian ini tentu saja akan dirasakan langsung oleh generasi penerus bangsa. Keluarga adalah benteng terakhir pertahanan kaum muslimin, dimana institusi keluargalah akan dicetak anak-anak penerus peradaban yang sholeh-sholeha.

Ketika keluarga-keluarga banyak yang retak akibat perceraian orang tuanya dapat dipastikan generasi kita akan kehilangan arah, mudah terseret pada hal–hal yang negatif dan pada arus kenakalan remaja pastinya akan menghancurkan masa depan anak-anak bangsa.

Dengan semakin daruratnya kasus perceraian ini tentunya menjadi pertanyaan besar mengapa kasus ini menjadi tren sepanjang tahun? Mengapa sampai saat ini belum juga ada solusi untuk mengatasinya problem keluarga ini?

Sebenarnya pemerintah sendiri sudah banyak mengambil langkah penyelesaian untuk persoalan ini. Yang terakhir tengah digodok RUU Ketahanan Keluarga, yang salah satunya membahas kasus perceraian.

Halaman
123
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved