Breaking News:

Investasi di IKN Baru, Siapa Diuntungkan?

PEMINDAHAN Ibu Kota Negara (IKN) baru ke wilayah Kalimantan Timur telah membuka lebar pintu investasi. Tanpa terkecuali di Kota Balikpapan. Berstatus

Tribunkaltim.co/fachmi rachman
Lahan IKN di Desa Bumi Harapan yang Masuk di Lahan PT IHM 

PEMINDAHAN Ibu Kota Negara (IKN) baru ke wilayah Kalimantan Timur telah membuka lebar pintu investasi. Tanpa terkecuali di Kota Balikpapan. Berstatus sebagai daerah penyangga IKN, Balikpapan digadang menjadi daerah yang mampu menarik minat para investor lokal maupun asing untuk menanamkan modalnya.

Di antara perusahaan swasta asing yang tertarik untuk melihat prospek usaha di Balikapapan adalah perusahaan konstruksi transportasi asal Cina, China Railway Construction Corporation (CRCC). Meski urung menanamkan investasi di bidang transportasi kereta api, dikarenakan telah didahului perusahaan Rusia, Pemkot Balikpapan memberi kesempatan bagi perusahaan tersebut untuk melirik sektor lain seperti coastal roal, jembatan tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) dan Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Selain Cina, banyak negara lain yang juga tertarik berinvestasi di wilayah IKN baru. Sebut saja Amerika Serikat, Jepang, Arab Saudi, Hongaria dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut memiliki spesifikasi tersendiri dalam hal investasi yang akan ditawarkan. Korea Selatan misalnya, menawarkan konsep kota hijau dan ramah lingkungan, Jepang menawarkan konsep smart city, dan Hongaria dengan pengembangan infrastruktur jalan, penyediaan air bersih, pembangunan sanitasi, dan pengolahan sampah.

Antusiasme investor lokal dalam proyek pembangunan IKN baru juga tak kalah besar. Tercatat pengembang properti yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) mengaku siap terlibat dalam proyek besar ini dan menggelontorkan investasi hingga trilunan rupiah. Bentuk investasi yang dilakukan meliputi pembangunan sarana dan fasilitas umum seperti rumah sakit dan rumah hunian.
Siapa Diuntungkan?

Tidak sedikit pihak yang meyakini bahwa masifnya investasi yang masuk dalam proyek pembangunan IKN akan membawa banyak keuntungan bagi negara. Keuntungan yang konon akan kita nikmati dari terbukanya kran investasi ini adalah meningkatnya pemasukan bagi devisa negara.

Peningkatan devisa negara nantinya akan dimanfaatkan untuk menjalankan roda pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu dengan ramainya investasi akan memberi kesempatan yang lebih luas bagi para pencari kerja untuk terserap dalam dunia kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja otomatis akan mengurangi pengangguran dan memperbaiki tingkat perekonomian masyarakat.

Keuntungan berikutnya dari adanya aktifitas investasi adalah terjadinya alih teknologi dari negara investor. Harapannya kemajuan sains dan teknologi akan semakin berkembang dan terjadi perbaikan kualitas hidup.
Berbicara soal siapa yang diuntungkan dalam proyek pembangunan IKN sifatnya tentu relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Jika melihat dari sudut pandang para investor, pastilah investasi yang mereka tanamkan menjanjikan keuntungan yang besar dari sisi materi.

Lebih jauh lagi investasi dalam bidang penguasaan hajat hidup orang banyak dapat membuka peluang penguasaan yang lebih luas. Mengingat sifatnya yang menyangkut keberlangsungan hidup manusia, maka pemenuhannya akan terus dicari oleh masyarakat meski dibebankan biaya yang tinggi. Di sinilah standar “untung” dalam ranah investasi itu layak dipertanyakan.

Penanaman investasi, baik asing maupun lokal, telah memberi dampak signifikan bagi wilayah dan penduduk setempat. Dari sisi pemanfaatan wilayah, jumlah cakupan lahan yang ada akan memberi porsi yang besar kepada para calon investor . Hal ini demi memastikan ketertarikan mereka untuk menanamkan modalnya.

Sebagaimana diberitakan, salah seorang miliuner pendiri kelompok bisnis Royal Golden Eagle (RGE) Sukanto Tanoto, menguasai lahan di wilayah IKN baru seluas 6.000 hektare dalam bentuk konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI). Sungguh sebuah peguasaan lahan yang luar biasa atas nama korporasi.

Apa yang diperoleh warga setempat dengan adanya konsesi ini? Ruang gerak warga setempat menjadi terbatas, termasuk jika mereka ingin mengelola lahan dengan jalan bercocok tanam atau mendirikan hunian.
Selain itu munculnya dampak turunan berupa kerusakan lingkungan seperti berkurangnya daerah resapan, pembakaran hutan, pencemaran tanah, air dan udara akibat adanya aktifitas industri. Ini semua menjadi ancaman yang tidak dapat dinafikkan. Dengan kondisi demikian, masihkah dapat dikatakan rakyat diuntungkan ?

Terlebih dengan mekanisme pendanaan soft loan atau pinjaman lunak yang menjebak. Pinjaman lunak akan menjadikan negara peminjam berada dalam kepentingan negara pemberi pinjaman. Besarnya nilai investasi yang ditanamkan tentu akan membawa kompensasi adanya persyaratan yang harus disepakati oleh Negara penerima pinjaman.

Halaman
12
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved