Breaking News:

Corona dan Gerakan Masyarakat Sehat

SETIAP yang bernyawa pasti akan mati. Penyebab kematian pun bermacam‑macam. Bisa dikarenakan kecelakaan, bencana alam, wabah penyakit, dan lain sebaga

SETIAP yang bernyawa pasti akan mati. Penyebab kematian pun bermacam‑macam. Bisa dikarenakan kecelakaan, bencana alam, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Kematian adalah kondisi dimana semua organ kita sudah tidak berfungsi lagi.

Manusia dianugerahi Sang Pencipta akal pikiran yang sempurna guna mempertahankan kesehatannya dan hidup dengan bahagia. Penyakit, kecelakaan, dan wabah apapun bisa dengan maksimal dihindari dengan usaha‑usaha terbaik manusia selama hidup.

Saat ini masyarakat di seluruh dunia sedang dicemaskan dengan mewabahnya virus yang mematikan, yaitu Corona atau COVID‑19, sejenis virus penyebab penyakit pada saluran pernafasan. Virus ini mendadak jadi teror yang mengerikan karena telah merenggut ribuan nyawa hanya dalam beberapa pekan.

Orang‑orang yang pertama jatuh sakit bahkan meninggal akibat virus ini diketahui merupakan para pedagang di pasar hewan dan makanan laut di kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini masih terus mencari mangsa dan kabar buruknya adalah belum ditemukan obatnya.

Gejala yang nampak pada manusia yang tertular virus Corona mirip seperti flu biasa. Dengan demam tinggi, di atas 38 derajat, penderitanya mengalami sakit kepala, batu kering, dan sesak nafas. Dan pada manusia yang terinfeksi paling parah bisa mengalami gagal nafas lalu tewas.

Penularan virus Corona bisa melalui transmisi dari cairan dalam jarak sekitar satu meter (pada saat berbicara, batuk, dan bersin), transmisi dari udara, transmisi kontak (seperti mata, lidah, luka terbuka, dan lain‑lain).

Transmisi dari hewan (mengonsumsi hewan‑hewan liar yang tidak biasa, seperti kelelawar, ular, landak, tikus, dll), dan kontak secara langsung dengan pasien (keluarga, petugas medis, dan orang yang dekat dengan pasien).

Pada 30 Januari 2020, WHO menyatakan darurat global terhadap wabah virus Corona ini. Penularan virus Corona telah mengakibatkan dampak buruk bagi manusia hampir di seluruh dunia. Kini COVID‑19 menjadi ancaman kesehatan global dan telah menyebar ke setiap benua kecuali Antartika.

Selain telah menginfeksi lebih dari 90.000 orang dan menyebabkan lebih dari 3.000‑an kematian di Cina per tanggal 7 Maret 2020. Jumlah tersebut belum termasuk korban tewas dari negara yang lainnya. Virus ini membawa dampak yang sangat buruk. Hal tersebut sampai menyebabkan ditundanya berbagai prosesi ibadah, seperti perjalanan umroh ke Arab Saudi sampai dihentikan sementara guna menghindari penularan virus Corona.

Penundaan itu diberlakukan bagi hampir seluruh negara termasuk masyarakat di Arab Saudi sendiri. Selain itu pertumbuhan ekonomi dunia pun tidak lagi melesat seperti sebelumnya. Aktivitas ekonomi di sektor riil yang meliputi pariwisata dan perdagangan di berbagai negara ikut melambat karena adanya pembatasan mobilitas orang dan barang.

Berbagai wabah penyakit yang ada bahkan sampai ada yang mematikan tersebut di atas tidak lain adalah karena karakter dan pola hidup manusia yang tidak sesuai. Perilaku hidup sehat sudah mulai ditinggalkan.

Manusia sudah tidak peduli walaupun dengan kesehatannya sendiri. Asupan dan jajanan sudah banyak yang instan, berpengawet, pewarna, pemanis, pengenyal dan bahan kimia lainnya. Cara mengolah makanan pun sudah jauh dari standar yang sehat. Sumber bahan makanan pun sudah banyak yang di luar batas yang biasa dimakan manusia pada umumnya.

Seperti kasus virus Corona yang pertama kali di Wuhan, masyarakat di sekitarnya sudah terbiasa memakan kelelawar, ular dan hewan ekstrim lainnya. Berbagai hewan ekstrim yang tak umum dimakan ternyata menularkan berbagai penyakit dan virus yang berbahaya seperti Covid‑19.

Masyarakat di seluruh dunia sudah telanjur panik dan resah karena wabah virus Corona ini. Padahal jauh sebelum peristiwa ini telah banyak virus penyakit mematikan yang setara dengan virus Corona, dan sampai sekarang pun masih sedang terjadi dan mewabah. Penyakit jantung koroner adalah penyakit paling mematikan urutan teratas menurut data dari WHO.

Setidaknya ada 370 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Penyakit ini terjadi karena penyempitan atau penutupan pembuluh darah koroner. Lalu ada penyakit stroke sebagai penyakit di urutan kedua yang banyak membunuh orang di dunia. Ada sekitar 6,2 juta orang mati karenanya beberapa tahun yang lalu.

Dan beberapa penyakit mematikan lainnya seperti kanker, diabetes, Alzheimer, diare, tuberkulosis, sirosis, dan penyakit paru.

Pemberitaan tentang wabah virus ini beragam dan sangat cepat diketahui oleh masyarakat dalam hitungan detik saja dari berbagai media. Ada pemberitaan yang benar terjadi, ada pula yang tidak benar atau hoaks dan hal tersebut tentu saja sangat meresahkan.

Akibatnya, masyarakat yang menengah ke atas lalu ikut berbondong‑bondong berbelanja kebutuhan sehari‑hari dengan jumlah yang sangat banyak. Masyarakat khawatir apa yang terjadi di kota Wuhan bisa terjadi di tempat mereka juga.

Dengan berbelanja dalam jumlah yang sangat banyak tentu saja menyebabkan kelangkaan barang. Bila barang yang dibutuhkan sudah langka, maka otomatis harganya pun bisa naik berkali‑kali lipat. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu? Tentu saja mereka tidak bisa berbuat banyak dan akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya.

Selain aksi borong‑borong bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Peristiwa kelangkaan masker dan cairan pencuci tangan pun terjadi. Masker yang biasanya mudah didapatkan dan dengan harga terjangkau pun tidak ada lagi ditemukan. Yang terjadi adalah oknum yang menimbun stok masker lalu menjualnya dengan harga 30 sampai 50 kali lipat lebih mahal.

Sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Di kala masyarakat panik dan memerlukan justru dimanfaatkan dengan meraup untung untuk pribadi. Kabar baiknya aparat keamanan dibantu oleh masyarakat pun bergerak cepat untuk meringkus para penimbun masker tersebut. Satu persatu oknum penimbun ditangkap dan dijerat pasal 107 UU No. 7 Tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 50 miliar.

Masyarakat diminta tidak panik dalam menghadapi virus mematikan asal Wuhan, Tiongkok, tersebut. Masyarakat dihimbau untuk menggalakkan kembali Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) untuk mencegah meluasnya virus korona (Covid‑19). Masyarakat juga harus menjaga ketahanan tubuhnya masing‑masing.

Virus Corona hanya mampu menyerang orang‑orang dengan kondisi fisik yang tidak bagus dan prima. Germas untuk mencegah penyebaran virus Corona yang dimaksud adalah dengan menerapkan pola hidup sehat seperti makanan dengan gizi seimbang, rajin berolahraga, istirahat cukup, mencuci tangan memakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan, tidak merokok, minum air mineral 8 gelas perhari, makan makanan yang dimasak dengan sempurna dan tidak memakan hewan yang berpotensi menularkan virus apapun.

Bila mengalami demam dan sesak nafas, segera ke fasilitas kesehatan, gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam, dan selalu ingat berdoa. Dengan menerapkan hal‑hal baik tersebut di atas, kita bisa meminimalisir meluasnya penularan virus Corona dan penyakit lainnya.

Mari kita menjadi manusia yang selalu menerapkan pola hidup sehat dan peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tentu kita semua selalu ingat akan sebuah slogan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan Germas kita semua bisa mencegah terjadinya wabah penyakit. (*)

Oleh: Dwi Yenie Kumala Sari Sulaiman, MPd
Guru di SMK Negeri 8 Samarinda

Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved