Minggu, 3 Mei 2026

Bisnis Properti di Kaltim Lesu, Puluhan Pengembang Alih Profesi

Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi Kondisi bisnis sektor hunian masyarakat (properti) di Kalimantan Timur

Tayang:
DOKUMEN TRIBUNKALTIM
Ilustrasi Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi 

TRIBUNKALTIM.CO - Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi 

Kondisi bisnis sektor hunian masyarakat (properti) di Kalimantan Timur saat ini tengah lesu.

Menurut Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kaltim, Bagus Susetyo, dari 70 anggota REI ( Pengembang ) di Kaltim, tinggal setengahnya atau 35 pengembang yang aktif. Sementara, sisanya tidak aktif lagi atau bisa jadi sudah alih profesi.

Bagus Susetyo mengungkapkan, di tengah lesunya permintaan rumah di Kaltim, pihak pengembang tidak akan menurunkan kualitas bangunan perumahan.

"Sekarang ini bisnis perumahan sedang lesu. Ya kurang kebih 4-5 tahun belakangan inilah," ujarnya kepada Tribun, Jumat (13/3) lalu di Gedung Graha REI, Jl Siradj Salman, Samarinda.

Lesunya bisnis sektor perumahan dibeberkan Bagus, lebih disebabkan turunnya daya beli masyaraat Kaltim beberapa tahun belakangan. Hal ini imbas dari anjloknya sektor pertambangan.

"Kaitannya sangat jelas terlihat. Dahulu, dengan sekarang daya beli masyarakat berbeda. Kalau dulu saat tambang batu bara masih menjadi primadona seluruh sektor usaha masyarakat di Kaltim tergerak. Jadi, daya beli masyarakat pun meningkat," kata Bagus.

 Minta Jokowi Lockdown Indonesia & Perhatikan Tim Medis, Surat Terbuka Dokter Tifauzia Tyassuma Viral

 Di Mata Najwa, Jokowi Dengar Desakan Copot Terawan dari Menkes, Pramono Anung Ungkap Sikap Presiden

 Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Virus Corona, Apa dan Bagaimana Caranya? Ini Penjelasannya

Berkat tambang batu bara, usaha mikro kecil menengah (UMKM) pun berjalan. Pesanan logistik, perumahan karyawan tambang dan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung perusahaan tambang juga dikelola oleh masyarakat.

"Begitu kalau dulu. Masyarakat membeli rumah untuk investasi. Tapi, kalau sekarang masyarakat mau beli rumah terbentur kebutuhan mereka sehari-hari. Pendapatan mereka hanya cukup untuk sehari-hari," tuturnya.

Permintaan masyarakat akan rumah rendah, sementara banyak unit rumah yang dibangun pengembang sampai saat ini belum laku terjual. Sehingga, para pengusaha pun mencari berbagai cara agar rumah-rumah itu terjual.

"Mau yang kredit komersil atau rumah subsidi kondisinya sama. Jadi, mereka juga menggunakan trik-trik supaya rumahnya laku terjual. Hanya saja, sampai saat ini belum ada data pasti soal berapa jumlah rumah yang siap, dan juga yang sudah dijual," katanya.

Tidak inginnya data diungkapkan kepada publik, menurut Bagus, merupakan salah satu trik pengembang menarik simpati calon pembeli untuk segera membeli rumah

"Kadang kita lihat ada perumahan yang memasang plang sold out. Nah itu trik juga, padahal ya ada saja rumah yang siap dibeli. Itu salah satu trik. Makanya mereka (pengembang) itu tertutup soal data penjualan," imbuhnya.

Ditanyakan soal apa yang harus dilakukan pemerintah untuk bisa mendongkrak kembali usaha perumahan di Kaltim, Bagus berharap pemerintah membantu pengembang dalam membangun fasilitas umum di sekitar lingkungan perumahan.

"Misalnya saja, akses jalan masuk perumahan, drainase perumahan dan fasilatas umum lainnya. Dengan seperti ini pasti akan banyak masyarakat berminat membeli rumah," ucapnya.

Bagus mengungkapkan, permintaan rumah di Kaltim per tahun mencapai 25 ribu unit rumah. Dalam setahun hanya 10 ribu unit rumah terbangun.

Meski lesu, bisnis perumahan tetap menjadi primadona. Sebab, rumah merupakan kebutuhan primer masyarakat. Kebutuhan di Kaltim setiap tahun itu 25 ribu rumah. Tapi, baru bisa terpenuhi 10 ribu unit rumah. Artinya, ada 15 ribu unit rumah yang belum terbangun.

 Akhirnya Presiden Jokowi Putuskan untuk Tes Massal Virus Corona, Demi Kendalikan Penyebaran Covid-19

Daya Beli Turun

Harga properti residensial di Kota Balikpapan tumbuh terbatas pada triwulan IV-2019. Menurut survei Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2019 tumbuh 0,01% (qtq), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (0,29-qtq).

Perlambatan IHPR pada periode ini didorong melambatnya pertumbuhan indeks harga untuk rumah tipe kecil dan rumah tipe sedang. Sementara IHPR rumah tipe menengah tumbuh positif paska terkontraksi pada triwulan sebelumnya.

Secara tahunan, IHPR pada triwulan IV 2019 juga lebih rendah dibandingkan triwulan III-2019, dari 0,83% (yoy) menjadi 0,52% (yoy).

"Meski begitu, di tengah kenaikan indeks harga yang terbatas, penjualan properti residensial pada triwulan IV-2019 tumbuh positif sebesar 28,45% (qtq), setelah sebelumnya terkontraksi sebesar -63,06% (qtq) pada triwulan III-2019," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Bimo Epyanto. 

Ditinjau secara tahunan, penjualan properti residensial terkontraksi sebesar -62,28% (yoy). Penurunan secara tahunan tersebut sejalan dengan menurunnya kredit kepemilikan rumah (KPR), tercermin dari pertumbuhan KPR di Kota Balikpapan pada triwulan IV-2019 tercatat sebesar -0,65% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan triwulan III-2019 yang sebesar 0,37% (yoy).

Memasuki awal tahun, IHPR Kota Balikpapan diperkirakan masih relatif belum tumbuh pada triwulan I-2010. Hal ini tercermin dari perkiraan IHPR triwulan I-2020 yang tercatat sebesar 0% (qtq), relatif stagnan dibandingkan 0,01% (qtq) pada triwulan IV-2019.

"Stagnasi kenaikan harga properti residensial ini akan dialami pada semua tipe rumah yang tercermin dari perkiraan pertumbuhan IHPR triwulan I-2020 masing-masing tipe rumah yang sebesar 0% (qtq)," prediksinya.

Sedangkan secara tahunan, harga properti residensial juga diperkirakan tumbuh terbatas dari 0,52% (yoy) menjadi 0,34% (yoy) pada triwulan I 2020. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan indeks harga pada rumah tipe kecil dan tipe besar yang masing-masing diperkirakan sebesar 1,20% (yoy) dan -0,20% (yoy).

Namun demikian, peningkatan harga diperkirakan akan dialami rumah tipe menengah sebesar 0,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan -0,26% (yoy) pada triwulan IV-2019.

Terpisah, Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Balikpapan, R Bambang Hendro Tjahjo mengatakan permintaan perumahan kelas menengah mengalami penurunan. Lemahnya daya beli masyarakat akan rumah hingga perlambatan ekonomi menjadi faktornya.

 Di ILC Bertema Bahas Virus Corona, Rizal Ramli Agresif Bahas Utang Pemerintah Jokowi dan Jiwasraya

"Selain karena daya beli lemah, dampak turunnya harga industri andalan, yakni batu bara dan berdampak pada KPR komersil," ujar Bambang.

Meski permintaan rumah menengah menurun, permintaan rumah subsidi mengalami kenaikan sejak tiga tahun belakangan. Data yang disebut Bambang, BTN berhasil merealisasikan KPR subsidi di tahun 2017 sebanyak 1.664 unit dan komersial sebanyak 325 unit.

Tahun 2018 berhasil menghimpun 1.693 unit rumah subsidi dan 358 unit non subsidi.

Selanjutnya, 2019 berhasil merealisasikan sebanyak 649 unit subsidi dan 220 unit komersial.

"Kelemahan dari KPR subsidi adalah pasar yang terus tumbuh dan besar, namun kuota terbatas karena dari pemerintah pusat," ungkapnya.

 Ditegur Jokowi Soal Transportasi Umum, Kini Fadjroel Rachman Sindir Efek Kejut Ala Anies Baswedan

Untuk meningkatkan penghimpunan pembiayaan komersial pihaknya juga mendorong dari tim dan developer meningkatkan kreativitas penjualan. Selain pembiayaan perumahan komersil dan subsidi, BTN juga sudah melaunching KPR Gaeesss For Millenials dengan berbagai gimmick menarik.

Diharapkan dapat meningkatkan minat anak muda memiliki hunian impian pun melek investasi. (ink/m10)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved