Pemerintah Kabupaten Kutai Timur

Perawat Covid-19 Dapat Insentif Rp 250.000 per Hari

Insentif dalam penanganan covid 19, kata Irawansyah, diberikan sebesar Rp 250.000 per hari untuk mereka yang berprofesi sebagai perawat.

Tribun kaltim/Margaret Sarita
Sekda Drs H Irawansyah M Si. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA – Pemerintah Kutai Timur melalui Ketua Umum Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19, yang juga Sekda Kutim, Drs H Irawansyah M Si memastikan pemberian insentif pada garda terdepan permasalahan ini.

Yakni, para dokter, dokter spesialis dan perawat yang menangani pasien covid 19 di RSUD Kudungga, sebagai rumah sakit rujukan wilayah Kutai Timur.

Insentif dalam penanganan covid 19, kata Irawansyah, diberikan sebesar Rp 250.000 per hari untuk mereka yang berprofesi sebagai perawat.

Sementara untuk dokter dan dokter spesialis yang terlibat, juga akan mendapat insentif serupa.

Namun dengan besaran berbeda. “Pastinya besarannya di atas perawat. Kalau di pusat, insentifnya Rp 7,5 juta per bulan. Sama saja, hanya di Kutim Rp 250.000 per hari,” ungkapnya.

Besaran insentif tersebut, menurut Irawan mengacu pada peraturan pemerintah yang saat ini sudah berlaku di pusat.

Kutim, mengikuti aturan tersebut, bagi para tenaga medis yang menjadi garda terdepat dalam melawan penyebaran virus mematikan ini.

Bank Indonesia Wilayah Kota Balikpapan Mengambil Sejumlah Langkah Sikapi Virus Covid-19

Pandemi Corona di Penajam Paser Utara, Kapolres PPU dan Ketua MUI Imbau Warga Patuh Berdiam di Rumah

Cegah Corona, Anies Baswedan Larang Warga Tinggalkan Jakarta Jangan Memikirkan Diri Sendiri

Wabah Virus Corona Menyerang Bontang, Pendapatan Sopir Travel Turun Hingga 70 Persen

“Insentif merupakan apresiasi dan penghargaan bagi para petugas medis yang telah melayani masyarakat Kutim yang terpapar Covid-19. Sebab, tenaga medis menghadapi beban yang tidak ringan karena jumlah orang yang datang untuk mendapatkan pelayanan penanganan Covid-19 terus meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Bahrani Hasanal mengatakan, insentif yang diberikan itu sebenarnya tak sebanding dengan tugas mereka.

Pasalnya, tenaga medis bukan saja berat secara tugas, tapi mereka telah menjadi orang-orang yang paling berisiko terpapar.

Terkait mekanisme pemberian insentif, hanya diberikan kepada tenaga medis dan tenaga penunjang, yang bekerja di lapangan.

Sebab mereka berhadapan langsung dengan orang yang yang dalam pengawasan dan pemantauan atau pasien dalam pengawasan.(advertorial/Diskominfo Perstik Kutim/sar)

Editor: Ardian Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved