Breaking News:

Covid-19 Mereda di China, Xenophobia Massal Terjadi, Warga Kulit Hitam Diperlakukan Rasis

Setelah pandemi virus corona di China perlahan mereda, fenomena perlakuan tidak adil yang dilakukan masyarakat China terhadap warga negara asing di ne

Penulis: Bella Evanglista | Editor: Rahmad Taufiq
AFP
Ilustrasi- Pemandangan jalanan yang kosong di Wuhan, Provinsi Hubei, China, menyusul pencegahan dari masifnya wabah virus corona atau covid-19 di wilayah itu. 

TRIBUNKALTIM.CO - Setelah pandemi virus corona di China perlahan mereda, fenomena perlakuan tidak adil yang dilakukan masyarakat China terhadap warga negara asing di negeri tirai bambu tersebut mulai marak terjadi.

Dilansir dari The New York Times, banyak masyarakat asing di negara tersebut dijauhi dari lingkungan sosial, bahkan diusir ketika pergi ke tempat umum.

Hal ini turut dialami oleh Felly Mwamba, pengusaha Kongo, yang telah tinggal selama 16 tahun di China.

Ketika pandemi berangsur mereda, ia merasa menjadi sasaran penghinaan rasial bahkan ditolak di lingkungan apartemen tempat tinggalnya.

Ketakutan tidak wajar tersebut merupakan sebuah bentuk fobia yang dinamakan Xenophobia atau ketidaksukaan dan ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau seseorang yang dianggap asing.

Ketakutan itu muncul setelah China mulai perlahan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Virus Corona atau covid-19 yang telah dialaminya sejak akhir tahun 2019 lalu.

Besarnya dampak yang dibawa oleh penyebaran Virus Corona, membuat sebagian besar masyarakat China menganggap bahwa orang asing yang berada di negara tersebut bisa menularkan kembali Virus Corona dan membuat negara itu mengalami pandemi covid-19 gelombang kedua.

Hal ini semakin parah ketika ditambah dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa seseorang bisa terjangkit covid-19 lebih dari sekali.

"Cara mereka memperlakukan orang kulit hitam, bukan sesuatu hal yang dapat diterima. Kami manusia yang juga mengalami ketakutan akan virus ini sama seperti mereka. Kami bukan binatang," kata Felly Mwamba melalui sambungan telepon kepada The New York Times, seperti yang dilansir oleh Tribunkaltim, Kamis (23/4/2020).

Hingga saat ini, penduduk Afrika di kota Guangzhou Selatan telah disatukan secara paksa dalam sebuah pusat karantina. Mereka dicap sebagai bahaya bagi kesehatan masyarakat di negara tersebut.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved