Breaking News:

Opini

Egoisme dalam Beragama

Orang yang tidak berani ke masjid adalah orang yang lemah iman? Simak opini lengkap Dr Bambang Iswanto, Dekan Fakultas SyariahIAIN Samarinda

HO/Dok Pribadi
Dr Bambang Iswanto, Dekan Faultas Syariah IAIN Samarinda 

Egoisme dalam Beragama

Oleh Bambang Iswanto*)

Di awal ramadhan, suara pro dan kontra tentang beribadah ke masjid masih berseliweran. Baik di dunia maya maupun “nyata”.

Imbauan pemerintah dan lembaga berwenang serta ulama untuk sementara waktu, selama pandemi covid-19 terutama untuk wilayah zona merah agar tidak ke masjid, tidak menyurutkan niat bahkan praktik beribadah ke masjid. Meskipun ulama-ulama nasional bahkan ulama internasional telah memberikan fatwa tentang pentingnya social ataupun physical distancing. Fatwa dan ijtihad para ulama-ulama besar tersebut, ternyata masih tidak mampu menaklukkan keyakinan sebagian masyarakat untuk terus melaksanakan ibadah di masjid-masjid.

Argumentasi yang dipakai, sering dikemas dengan narasi-narasi yang provokatif. Anjuran dan fatwa yang mengimbau untuk membatasi diri, sering dibenturkan dengan dengan keimanan dan persoalan lebih takut kepada virus dibanding Tuhan. “Orang yang tidak berani ke masjid adalah orang yang lemah iman”, “Jangan takut kepada Corona, corona hanyalah virus kecil yang tidak berarti di hadapan Tuhan. Takutlah hanya kepada Tuhan”, itulah sebagian narasi yang muncul dari redaksi kalimat-kalimat lain sejenis.

Ini belum termasuk kalimat yang bernada “dakwah” seperti “Ramaikan masjid di Bulan Ramadan! Ramainya masjid dengan doa-doa justru menjadikan corona dicabut dari bumi pertiwi”. “Mati urusan Tuhan, jika waktunya dan sebabnya corona ya sudah takdir Tuhan. Mati kena corona mati syahid”.

Ungkapan-ungkapan yang kontra dengan nafas penanggulangan covid-19, membuat sebagian masyarakat termakan. Karena penggunaan diksi yang menghadapkan sisi keimanan seseorang dengan “musuh kecil” bernama coronavirus.

Di lain sisi pencernaan pemahaman orang yang terprovokasi tidak utuh. Agama hanya dipahami sebagai hitam putih. Haram dan halal, boleh dan tidak boleh, perintah agama tunggal tidak ada perintah lain. Sehingga terjadilah agama terasa sempit. Tidak ada pilihan antara halal dan haram, tidak dipahami bahwa ada hukum lain selain haram dan halal yaitu mubah.

Bahkan bisa jadi pemahaman yang dimiliki, tidak sampai kepada adanya dispensasi yang diberikan ketika muncul kesulitan. Bahkan dalam situasi tertentu ada ketentuan yang membolehkan sesuatu yang haram bisa menjadi boleh bahkan wajib. Apalagi sampai kepada pemahaman bahwa seorang yang beriman sangat memungkinkan tidak menaati sebuah perintah agama dalam rangka menjalankan perintah agama lainnya yang muncul dari situasi tertentu seperti pandemi covid-19.

BUKAN INDIKATOR LEMAH IMAN

Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved