Breaking News:

Mengisi Ruang Hati di Tengah Pandemi

BULAN mulia, suci, dan agung itu hadir di tengah-tengah kita. Tepat saat kita sedang berada di pusaran wabah Corona. Ya, Ramadan kali ini mau tidak ma

Mengisi Ruang Hati di Tengah Pandemi
IST
ARIS SETIAWAN

BULAN mulia, suci, dan agung itu hadir di tengah-tengah kita. Tepat saat kita sedang berada di pusaran wabah Corona. Ya, Ramadan kali ini mau tidak mau, membuat kita harus sedikit berbeda cara menyikapi dan menjalaninya. Terlebih bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menyambut tamu agung Ramadan dalam beragam situasi dan kondisi yang kita hadapi secara prinsip sama, namun secara teknis praktis tentu ada penyesuaian program disesuaikan dengan keadaan. Pandemi Covid-19 bukan menjadi alasan untuk tidak meningkatkan ibadah di bulan Ramadan. Justru menjadi cambuk ujian Ramadan di suasana yang berbeda.

Dari sudut pandang Islam, Ramadan merupakan penghulu segala bulan. Sungguh merugi orang yang tidak bisa mengambil kebaikan dan manfaat dari kehadirannya. Saat ini kita menjelang berada di dalamnya. Semoga Allah mengaruniakan kemampuan pada tiap kita, untuk mengambil manfaat sebanyakbanyaknya.

Ramadan mengajarkan pada kita beragam nilai-nilai universal yang berlaku dalam kehidupan manusia. Bukan hanya sekadar spiritual ketuhanan, tetapi juga nilai kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Di dalam Ramadan kita jumpai pengajaran mendalam yang sangat penting serta mendasar untuk kehidupan kita.

Nilai yang bersifat privasi maupun umum, pribadi maupun komunal. Jika tiap individu mampu menangkap pelbagai nilai dari Ramadan tersebut dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan, niscaya akan terbangun pribadi dan masyarakat yang saleh. Masyarakat yang saleh merupakan masyarakat madani, yang menjadi dambaan seluruh penduduk negeri.

Sedari dulu, kita pun sudah memahami jika puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa itu menahan nafsu dan syahwat yang senantiasa bergelindan dengan gejolak jiwa. Puasa itu menyelaraskan kehendak seorang hamba agar sesuai tuntunan dari Tuhan-Nya.

Puasa bukan sekadar kewajiban, tapi lebih dari itu ia merupakan kebutuhan. Sebab, puasa menyehatkan raga, menguatkan jiwa, dan menghangatkan cinta. Puasa adalah baju baja sekaligus perisai iman, benteng dari ragam godaan.

Dalam puasa ada banyak bertebar sajian berkah, ada berjuta hidangan manfaat. Mari sejenak kita maknai Ramadan sebagai sebuah sajian, hidangan yang mantap dan lezat. Aromanya menggoda selera ibadah kita.

Tekstur dan betuknya menantang kita agar tidak sekadar mencicipinya, tapi menikmati tiap mili dan ruas bagiannya. Kandungannya sudah pasti, menyehatkan para penikmatnya. Sajian Ramadan, dibuat agar tiap diri yang merasa "beriman" menikmatinya hingga tuntas dan puas.

Ramadan dan Transformasi Kebaikan

Ramadan 1441 H tahun ini terbilang berbeda dan sangat istimewa. Bersamaan dengan hadirnya Ramadan, hadir pula makhluk Allah SWT yang bernama Covid-19. Tentu bukan sebuah kebetulan, namun harus kita maknai sebagai batu ujian apakah kita tetap mampu menyambut Ramadan dengan sebaik-baiknya. Bahkan jauh lebih baik, berbanding tahuntahun sebelumnya. Ramadan hadir untuk memberikan banyak kebaikan dan keberkahan bagi umat.

Setiap Ramadan tiba, kita dianggap sebagai tamu Allah, dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamutamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya.

Salah satunya yakni dengan menjaga puasa kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut puasa. Inti dari ibadah Ramadan adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu.

Allah berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at: 40 41).

Sebagai sarana penyucian diri dan pembentukan pribadi, Ramadan sudah selayaknya diisi dengan pelbagai aktifitas yang terprogram dan terarah. Agar buah Ramadan yang sangat mahal itu dapat dipetik untuk kehidupan selama dan pasca Ramadan.

Rasulullah telah memberikan contoh dan teladan kepada umatnya dengan melakukan beragam amal kebajikan. Ramadan adalah momentum paling tepat untuk transformasi pada kebaikan. Di segala penjuru, di semua lini, pada semua tingkat dan jenjang kita. Sebagai apapun kita, dimanapun keberadaannya. Mari kita perbaiki segala kekurangan dan keburukan dari karakter kita sebagai tamu Allah.

Halaman
12
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved