Breaking News:

Dua Kementrian di Pemerintah Jokowi Ini Kompak Bela Masuknya 500 TKA China, Alasannya Mengejutkan

Dua Kementrian di Pemerintah Jokowi ini kompak bela masuknya 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara, alasannya pun mengejutkan

Editor: Rafan Arif Dwinanto
kolase/tribunkaltim.co / nyt.com dan Hollywoodreporter.com
ILUSTRASI : TKA China 

TRIBUNKALTIM.CO - Dua Kementrian di Pemerintah Jokowi ini kompak bela masuknya 500 TKA China ke Sulawesi Tenggara, alasannya pun mengejutkan.

Rencana masuknya Tenaga Kerja Asing atau TKA China ke Sulawesi Tenggara menuai polemik.

Lantaran bertepatan dengan pandemi Virus Corona atau covid-19.

Meski demikian dua Kementrian di bawah Pemerintah Jokowi, yakni Kemenko Kemaritiman dan Investasi serta Kementrian Tenaga Kerja atau Kemenaker, kompak membela perusahaan yang mendatangkan ratusan TKA China.

Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Aris Wahyudi mengatakan, perusahaan yang akan mendatangkan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China sudah berupaya mencari pekerja lokal.

Cegah Virus Corona, PSBB di Wilayah Risma Dicueki Warga, Sanksi Diperberat, Rumah Sakit Jiwa Menanti

 Rocky Gerung Buka Suara Soal Pencopotan Refly Harun: Udah Enggak Punya Power, Sekarang Jadi YouTuber

 Dampak Corona di PT Sampoerna Surabaya Melebar ke Daerah Lain, Jumlah Warga Diperiksa Tak Main-main

Kedua perusahaan tersebut yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel yang berlokasi di Sulawesi Tenggara.

"Mereka sudah berusaha mencari tenaga kerja lokal Indonesia, namun tak ada yang mau karena lokasi dan ketidakmampuan sesuai jumlah dan kualifikasi yang dibutuhkan," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (2/5/2020).

Lantaran alasan ketidakcukupan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membangun pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), maka Kemenaker pun menyetujui Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) tersebut.

"Kita sepakat dengan manajemen bahwa penggunaan TKA adalah alternatif terakhir.

Yang terjadi di sana adalah pembangunan dan pengembangan smelter, yang masih membutuhkan instalasi dan comisioning peralatan yang spesifik," kata dia.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved