Tagihan Listrik Melonjak, Ini Penjelasan PLN Tenggarong Kukar

Beberapa hari terakhir ramai ditemukan di sejumlah media sosial mengenai keluhan warga terkait dengan naiknya tagihan listrik dua kali lipat

TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER D
Kantor unit layanan pelanggan PLN Tenggarong di Jalan KH Ahmad Muksin, Senin (4/5/2020). 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Beberapa hari terakhir ramai ditemukan di sejumlah media sosial mengenai keluhan warga terkait dengan naiknya tagihan listrik dua kali lipat dari tagihan sebelumnya.

Warga memposting tagihan listrik tersebut ke media sosial karena merasa keberatan, mengingat saat ini warga sedang dilanda kesusahan dampak dari wabah virus corona.

Usut punya usut, ternyata melonjaknya tagihan listrik warga memang disebabkan karena pemakaian pelanggan sendiri, dan adanya akumulasi pencatatan tiga bulan terakhir yang dilakukan dalam upaya menyikapi penyebaran virus corona di Kabupaten Kutai Kartanegara atau Kukar.

"Melonjak dari biasanya karena salah satunya dari penggunakan listrik pelanggan sendiri. Misalnya, kalau biasanya nyalakan TV setelah pulang sekolah atau kerja, sekarang karena di rumah saja ya lebih sering nyalakan TV, ini salah satu contoh saja," ucap Manager ULP PLN Rayon Tenggarong, Suwarno, Senin (4/5/2020).

"Sebelum bulan ini, pada Maret pencatatannya ditagihkan di April, sedangkan Maret pemakaianya tidak dicatat. Jadi, dirata-rata tiga bulan sebelumnya, Januari-Maret ditotal dan dibagi tiga. Hal ini dilakukan menyikapi situasi kondisi saat ini," sambungnya.

Inilah Besaran Tarif Listrik PLN yang Berlaku, Perusahaan Listrik Negara Pastikan Tidak Ada Kenaikan

Warga Keluhkan Tarif Listrik Naik Secara Tiba-tiba, Ombudsman Menduga Menyiasati Pemasukan Negara

Ramai di Media Sosial, Pelanggan Keluhkan Tagihan Listrik yang Melonjak, Begini Penjelasan Resmi PLN

Suwarno menyarankan, ketika hendak membayar tagihan listrik, sebaiknya melihatkan stand terakhir, karena pada saat membayar selalu tertera nominal stand awal dan akhir.

"Tanyakan dulu ke loket pembayaran resmi, tanyakan tagihan stand awalnya dan akhir. Nanti dikroscek dengan stand akhir bulan lalu, kemudian stand akhir saat penagihan dicocokan dengan KWH," jelasnya.

"Lihat di KWH yang terpasang, lebih kecil atau lebih besar dengan pembayaran. Kalau lebih kecil, berarti ada kesalahan pencatatan, tapi kalau lebih besar, berarti sesuai. Karena yang lebih besar itu belum terbagi, lalu dikurangi dengan yang sudah terbayar," pungkasnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved